Anak-Anak INDIGO

February 1, 2010 at 6:08 pm (Psikologi, Repost Article) ()

Anak-anak Indigo telah menjadi fenomena dan kajian dalam 10 tahun terakhir ini. Walau beberapa  pribadi dan  komunitas mulai berupaya mengelola anak-anak indigo di Indonesia, tetapi semuanya masih dilakukan secara ‘sambilan’ dan belum ada yang benar-benar fokus. Mudah-mudahan saduran artikel dari berbagai sumber  ini dapat mendorong dan membuka wawasan untuk berkembangnya anak-anak indigo di Indonesia sesuai dengan bakat dan misi mereka di dunia ini.

Kata indigo sendiri diambil dari nama warna yaitu indigo, yang dikenal sebagai warna biru sampai violet. Orang indigo adalah istilah yang diberikan kepada anak yang menunjukkan perilaku lebih dewasa dibandingkan usianya dan memiliki kemampuan intuisi yang sangat tinggi. Biasanya mereka tidak mau diperlakukan sebagai anak-anak.

gb: sunchildren.ning.comgb: sunchildren.ning.com

Anak indigo adalah anak yang memiliki lapangan aura berwarna nila. Cara berpikirnya yang khas, pembawaannya yang tua, membuat anak indigo tampil beda dengan anak sebayanya. Pancaran aura yang dimilikinya membawa kepada suatu karakteristik perilaku unik. Secara fisik anak indigo sama sekali tak berbeda dengan anak lainnya.

Lewat bukunya Understanding Your Life Through Color, Nancy Tappe (1982) membuat klasifikasi manusia berdasarkan warna energi atau cakra. Cakra adalah pintu-pintu khusus dalam tubuh manusia untuk keluar masuknya energi. Pada tubuh manusia terdapat  7 cakra utama, yaitu cakra mahkota ada di puncak kepala, cakra Ajna di antara dua alis, cakra tenggorokan di tenggorokan, cakra jantung di tengah dada, cakra pusar ada di pusar, cakra seks ada pada tulang pelvis, dan cakra dasar ada di tulang ekor.

Anak indigo memiliki keunggulan pada cakra Ajna (the third eyes) yang berkaitan dengan kelenjar hormon hipofisis dan epifisis di otak. Adanya mata ketiga ini membuat anak indigo disebut memiliki indra keenam. Mereka dianggap memiliki kemampuan menggambarkan masa lalu dan masa datang.

Satu hal yang penting dan digaris bawahi, yaitu tidak jarang anak indigo salah diidentifikasi. Mereka sering dianggap sebagai anak LD (Learning Sidability) ataupun anak ADD/HD (Attentian Deficit Disorder/Hyperactivity Disorder). Perbedaannya adalah ketidakajegan munculnya perilaku yang dikeluhkan. Misalnya pada anak indigo, mereka menunjukkan keunggulan pemahaman terhadap aturan-aturan sosial dan penalaran abstrak, tapi tak tampak dalam kesehariannya, baik di sekolah maupun di rumah.

// Terdapat 4 macam anak indigo:

  • Humanis. Tipe ini akan bekerja dengan orang banyak. Kecenderungan karir di masa datang adalah dokter, pengacara, guru, pengusaha, politikus atau pramuniaga. Perilaku menonjol saat ini hiperaktif, sehingga perhatiannya mudah tersebar. Mereka sangat sosial, ramah, dan memiliki pendapat kokoh.
  • Konseptual. Lebih enjoy bekerja sendiri dengan proyek-proyek yang ia ciptakan sendiri. Contoh karir adalah sebagai arsitek, perancang, pilot, astronot, prajurit militer. Perilaku menonjol suka mengontrol perilaku orang lain.
  • Artis. Tipe ini menyukai pekerjaan seni. Perilaku menonjol adalah sensitif, dan kreatif. Mereka mampu menunjukkan minat sekaligus dalam 5 atau 6 bidang seni, namun beranjak remaja minat terfokus hanya pada satu bidang saja yang dikuasai secara baik.
  • Interdimensional. Anak indigo tipe ini di masa datang akan jadi filsuf, pemuka agama. Dalam usia 1 atau 2 tahun, orangtua merasa tidak perlu mengajarkan apapun karena mereka sudah mengetahuinya.

Mengidentifikasi Anak-anak Indigo

Pendapat tentang anak-anak Indigo tidak terbatas para pakar psikologi dan pada prinsipnya terdapat pandangan yang sama tentang mengapa dan untuk apa anak-anak indigo ini lahir ke dunia.

Sandra Sedgbeer, seorang redaktur dan penerbit majalah: “Anak-anak yang lahir saat ini nampaknya mempunyai lebih banyak “perangkat lunak” yang telah dimasukkan ke sistem mereka. Mereka adalah lompatan evolusioner; mereka menunjukkan pada kita ke mana langkah tujuan kita sebagai spesies. Dan saya yakin bahwa anak-anak ini lahir dengan susunan saraf yang kemampuannya lebih tinggi. Kita semua juga memiliki kemampuan seperti itu, tetapi kita telah kehilangan itu lebih dari ratusan tahun lalu.”

Neale Donald Walsch, pengarang: “Menurut saya, anak-Anak Indigo adalah anak-anak yang kesadarannya berkembang secara dramatis mengenai semua hal yang ada di sekitar mereka, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan.”

Elizabeth Green, pengarang dan dosen: “Mereka memiliki dasar spiritual yang sangat tinggi. Tidak religius, tetapi spiritual…. Mereka mempunyai perasaan yang dapat mengetahui adanya kekuatan yang lebih tinggi.”

Elijah, seorang musisi: “Ada beberapa Indigo yang turun ke planet ini membawa pedang kemauan, pedang kekuatan, untuk memangkas paradigma lama dan menembus ilusi. Ada yang membawa welas asih yang lembut dan ada yang membawa bahasa baru cahaya dan suara…Kenapa para Indigo ke sini? Para Indigo ke sini untuk menjembatani Surga dan Bumi.”

KH Amiruddin Syah dari Institut Kajian Tasawuf: “Az Zukhruf”, Jakarta: “Menurut sejarah, Pancasila disusun oleh anak-anak indigo. Pada abad ke 14 Mpu Prapanca menulis Nagarakartagama. Dalam buku tersebut dituliskan Bhinneka Tunggal Ika yang kemudian disempurnakan oleh Mpu Tantular.  Bhinneka Tunggal Ika  kemudian dipahami sebagai budaya yg berbeda-beda namun tujuannya adalah satu dan agama yang berbeda juga bertujuan satu yakni Allah dan Kehidupan yang baik”.

Dr Tubagus Erwin , Pakar psikologi anak dari Universitas Indonesia (UI) : ” Anak Indigo memang berbeda dengan anak-anak sebayanya. Anak indigo memiliki moto berjiwa dewasa serta mampu membedakan dan menghargai perbedaan. Namun, indigo bukanlah sesuatu penyakit karena tidak termasuk dalam daftar penyakit sedunia yang dikeluarkan WHO. Mereka memiliki kekuatan spiritual yang tidak dimiliki semua orang. Meski demikian, anak indigo bisa sehat dan sakit, baik secara fisik maupun mental. Yang jelas, anak semacam ini memerlukan pendidikan khusus. Semua tergantung interaksi dengan lingkungannya.”

Apakah anak Anda adalah seorang anak Indigo? Ciri-ciri di bawah ini dapat digunakan sebagai patokan awal untuk mengetahui apakah anak Anda berbakat Indigo atau tidak.

Ciri-ciri anak berbakat yang indigo:

  • Memiliki sensitivitas tinggi.
  • Memiliki energi berlebihan untuk mewujudkan rasa ingin tahunya yang berlebihan.
  • Mudah sekali bosan.
  • Menentang otoritas bila tidak berorientasi demokratis.
  • Memiliki gaya belajar tertentu.
  • Mudah frustasi karena banyak ide namun kurang sumber yang dapat membimbingnya.
  • Suka bereksplorasi.
  • Tidak dapat duduk diam kecuali pada objek yang menjadi minatnya.
  • Sangat mudah merasa jatuh kasihan pada orang lain.
  • Mudah menyerah dan terhambat belajar jika di awal kehidupannya mengalami kegagalan.

Menurut Tubagus Erwin, Alumnus Kedokteran Unair 1967 dan seorang pakar Indigo, anak indigo memiliki enam sifat:

  • Tingkat kecerdasan superior. Biasanya IQ-nya di atas 120. Sehingga mereka enggan mengikuti ritual yang tidak rasional dan tidak spiritual.
  • Anak indigo dapat mengerjakan sesuatu tanpa diajarkan terlebih dahulu.
  • Dapat menangkap perasaan, kemauan, atau pikiran orang lain.
  • Dapat mengetahui sesuatu yang tidak dapat dipersepsi oleh pancaindera di masa kini, masa lampau (post-cognition), dan masa depan (pre-cognition).
  • Mengetahui keberadaan makhluk halus.
  • Anak indigo tertarik pada hal-hal yang berkaitan dengan alam dan kemanusiaan

Membesarkan Anak-anak Indigo

Karena  kemampuan khusus yang dimiliki oleh Anak Indigo, mereka menghadirkan tantangan baru bagi orang tua mereka maupun sistem sekolah yang ada saat ini untuk  menemukan cara yang tepat demi membantu dan membimbing mereka. Sistem yang ada saat ini tampaknya tidak memiliki cukup instrumen untuk menyediakan lingkungan yang tepat demi memenuhi kebutuhan mereka. Banyak anak berbakat yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan sekolah sehingga mereka dikatakan bermasalah seperti terkena Gangguan Pemusatan Perhatian (Attention Deficit Disorder) atau autisme. Sebenarnya, kemampuan mereka jauh di depan. Kebutuhan mereka lebih banyak. Di samping mengajarkan cara menghafalkan data, banyak pendidik menyatakan bahwa sekolah juga seharusnya mengajarkan anak-anak cara mengambil keputusan, cara makan yang benar, bahkan cara menanam bahan makanan, dan cara untuk bermeditasi. Sekolah semestinya mengusahakan cara-cara untuk memanfaatkan apa yang ada dalam diri anak, membuka kebijaksanaannya yang bersemayam di sana secara alami.

Apa yang harus dilakukan orangtua:

  • Hargai keunikan anak dan hindari kritikan negatif.
  • Jangan pernah mengecilkan anak.
  • Berikan rasa aman, nyaman dan dukungan.
  • Bantu anak untuk berdisiplin.
  • Berikan mereka kebebasan pilihan tentang apapun.
  • Bebaskan anak memilih bidang kegiatan yang menjadi minatnya, karena pada umumnya mereka tidak ingin jadi pengekor.
  • Menjelaskan sejelas-jelasnya (masuk akal) mengapa suatu instruksi diberikan, karena mereka tidak suka patuh pada hal-hal yang dianggap mengada-ada.
  • Jadikan sebagai mitra dalam membesarkan mereka.

Menurut Carol dan Tober, anak-anak Indigo memiliki 10 atribut berikut:

  • They come into the world with a feeling of royalty (and often act like it). [Mereka datang ke dunia dengan rasa ingin berbagi.]
  • They have a feeling of “deserving to be here,” and are surprised when others do not share that. [Mereka menghayati hak keberadaannya di dunia ini dan heran bila ada yang menolaknya.]
  • Self-worth is not a big issue; they often tell the parents “who they are.” [Mereka menganggap bahwa dirinya bukanlah yang utama; seringkali menyampaikan jati dirinya kepada orang tuanya.]
  • They have difficulty with absolute authority (authority without explanation or choice). [Sulit menerima otoritas mutlak tanpa alasan]
  • They simply will not do uncertain things; for example, waiting in line is difficult for them. [Mereka enggan melakukan hal yang tidak pasti, seperti menunggu.]
  • They get frustrated with systems that are ritually oriented and do not require creative thought. [Mereka kecewa bila menghadapi ritual dan hal-hal yang tidak memerlukan pemikiran kreatif.]
  • They often see better ways of doing things, both at home and in school, which makes them seem like “system busters” (non-conforming to any system). [Seringkali mereka menemukan cara-cara yang lebih tepat, baik di sekolah maupun di rumah, sehingga menimbulkan kesan ‘non konformistis’ terhadap sistem yang berlaku]
  • They seem antisocial unless they are with their own kind. If there are no others of like consciousness around them, they often turn inward, feeling like no other human understands them. School is often extremely difficult for them socially. [Mereka tampak anti sosial dan terasing kecuali berada dalam lingkungan sesama indigo. Sekolah seringkali menjadi amat sulit untuk mereka bersosialisaaasi.]
  • They will not respond to “guilt” discipline. [Mereka tidak akan menanggapi disiplin yang salah.]
  • They are not shy in letting it be known what they need. [Mereka tidak sungkan untuk meminta apa yang dibutuhkannya]

Anak-anak Indigo sebagai pembawa perubahan.

Menurut Gary Zukave, “Kita sedang berada di tengah-tengah besarnya perubahan kesadaran manusia yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dan perubahan pada kesadaran umat manusia ini akan menata ulang apa yang akan dilakukan oleh manusia. Perubahan itu menata ulang jutaan individu dan, menurut saya, dalam beberapa generasi saja, ia akan menata ulang seluruh pengalaman umat manusia. Dan dengan demikian, perubahan itu akan melahirkan anak-anak dalam lingkup persepsi baru yang lebih luas, dan perubahan itu akan memperbesar persepsi mereka yang sedang menjalani kehidupan di dunia ini. Peristiwa besar itu bukanlah kemunculan Anak-Anak Indigo, tetapi kelahiran sebuah dunia Indigo.”

(Di sadur  dari berbagai sumber)

Permalink 1 Comment

Anak Indigo Bisa Berkontribusi untuk Negara

February 1, 2010 at 5:56 pm (Uncategorized) (, )

[Investor Daily] Jakarta – Didorong oleh belum optimalnya pengetahuan
masyarakat terhadap anak-anak atau orangtua Indigo, Jaringan Wartawan Lintas
Media Gerakan Ekayastra Unmada – Semangat Satu Bangsa dan penggiat masalah
indigo membentuk Komunitas dan Pusat Studi Indigo Indonesia (KPSII).
Pembentukan dilakukan berbarengan dengan Sarasehan Kebudayaan bertema
INDIGO untuk INDONESIA‘ di Jakarta, Sabtu (30/08).

Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada Putut Prabantoro menjelaskan,
generasi indigo adalah generasi istimewa karena memiliki kemampuan sejak
lahir yang tidak dimiliki oleh orang pada umumnya. Jika kemampuan komunitas
indigo ini diakomodasi dan dikembangkan dengan baik, akan bermanfaat bagi
negara, bangsa, dan budaya Indonesia.

Kemampuan orang atau anak indigo, tidak hanya terletak pada rata-rata
IQ-nya, tetapi juga karena generasi ini memiliki indra keenam. Hanya saja,
karena ketidaktahuan atau pemahaman mengenai indigo, masyarakat sering
memandang anak indigo sebagai anak yang membutuhan pendampingan khusus.

Putut berharap komunitas indigo yang baru terbentuk dapat membantu generasi
indigo untuk tumbuh berkembang sesuai dengan pola-pola pendidikan yang
seharusnya diterima. “Spiritualitas bangsa Indonesia bisa terbangun dengan
peran serta dari kelompok indigo yang memang sejak lahir memiliki kepekaan
spiritual yang tinggi,” ujar Putut.

Ketua Umum KPSII Rossini Larasati menjelaskan, Komunitas dan Pusat Studi ini
didirikan sebagai kelompok diskusi, konseling, atau pendampingan bagi indigo
muda dan orang tua yang anaknya terlahir sebagai indigo. Generasi indigo
yang sering disebut sebagai pemimpin bersorban biru atau highly spiritual
children, the superphysic children merupakan agent of changes.

Menurut perkiraan, komunitas indigo memadati Jawa dan pada 2010 akan
terkumpul 5.975 powerfull indigo. Oleh karena itu, generasi indigo akan
menjadi komunitas perubahan spiritual yang akan terjadi di Indonesia. “Hanya
saja, karena tidak terpahami, komunitas indigo mendapat tentangan dari
masyarakat yang tidak memahami indigo, ujar Rossini yang juga menjadi
konsuiltan dari generasi indigo.

Sementara itu, KH Amiruddin Syah dari Institut Kajian Tasawuf “Az-Zukhruf”
mengatakan, salah satu ciri anak indigo adalah memiliki energi dan
penglihatan berlebih. Dia juga menambahkan, ciri-ciri yang juga bisa untuk
memperjelas indigo atau bukan adalah kemmpuan seorang anak untuk melihat
makhluk tidak kasat mata dan kemampuan berkomunikasi dalam berbagai bahasa.
(pam)

*Sumber: Investor Daily, Senin 1 September 2008, halaman 7*

Permalink 2 Comments

Generasi Baru Pembawa Harapan

February 1, 2010 at 5:29 pm (Psikologi, Repost Article) (, )

indigomediaindonesia0906.jpgGenerasi baru telah lahir. Mereka disebut sebagai anak-anak indigo. Dan, yang terbaru adalah kemunculan anak-anak kristal. Keberadaan mereka menimbulkan harapan baru akan munculnya generasi yang lebih baik, sehingga bias memperbaiki carut-marut dunia.

Apa yang dimaksu anak indigo? Siapa mereka? Dr.Tb.Erwin Kusuma, SpKJ psikiater yang juga mendalami masalah spiritual mengatakan, fenomena anak indigo mulai menjadi perhatian serius kalangan ilmuan sejak 20 tahun lalu. Sedangkan di Indonesia baru empat tahun terakhir ini.

Anak indigo menarik perhatian banyak pihak lantaran tidak bisa dijelaskan melalui paradigma ilmu psikologi. Akibatnya, mereka sering mendapat cap menderita autis atau dianggap anak aneh. Padahal, anak indigo hanya berbeda disbanding anak lain.

Mereka kerap menunjukkan kebiasaan atau kepribadian yang jauh lebih matang dari usianya. Misalnya, mampu melihat atau mendengar sesuatu yang tidak bisa dilihat atau didengar orang lain. Memiliki tatapan mata yang dalam, tenang dan menunjukan kebijaksanaan yang sering muncul lewat kata-kata.

Umumnya, anak indigo memiliki IQ di atas rata-rata, antara 125-130. Namun, disisi lain kerap terlihat asyik berbicara sendiri, enggan diatur, bahkan ada yang emnolka tatanan umum, seperti malas sekolah. “ Anak indigo mempunyai visiuntuk mengubah tatanan manusia dan bumi menjadi lebih baik “ Jelas Erwin.

Fenomena dan misi itu sebenarnya bias diterima akal, bila merujuk pada teori evolusi Darwin. Disebutkan bahwa fisik dan kecerdasan manusia akan berkembang menjadi lebih baik pada setiap perubahan generasi. “ Jika Darwin lebih ke fisik dan kecerdasan, maka perkembangan anak indigo lebih ke spiritual” tutur Erwin.

Keberadaan anak indigo juga dikemukanan psikolog Sartono Mukadis. Namun menurutnya masih menjadi wacana yang belakangan kian berkembang pesat. “Sulit dikatakan, karena tes-tes piskologi tidak mampu menjelaskan eksistensi anak indigo, “ katanya.

Apa yang dikemukakan Erwin dan Sartono diamini Rosini 40. Rosini adalah indigo dewasa, biasanya disebut dengan istila vanguard. Dia menegaskan, anak indigo memang sering divonis sebagai anak aneh dan terkadang autistik. Ada yang memiliki kepandaian luar biasa dan sangat berbakat dalam satu bidang, tapi menolak mentah-mentah bila disuruh berangkat sekolah, dan cepat bosan melakukan rutinitas. Salah satu ciri generasi yang memenag berkaitan dengan sikap memberontak dan kedisiplinan.

Dilahirkan dengan misi mengubah tatanan yang ada dan menjadikan kondisi bumi jadi lebih baik. Proses perubahannya dilakukan secra bertahap, bisa diibaratkan sebagai generasi pembuka jalan. Oleh karena itu sering kali mereka mengalami perselisihan dengan orang tua dan masyarakat dilingkungannya. Karena masalah itu, akhirnya mereka sering dianggap aneh.

Belakangan ini, ada wacana crystal children atau anak kristal. Biasanya lahir dari orangtua yang memiliki spiritual tinggi, atau dari orang tua indigo. Kecendrungan sikap memberontak anak kristal jauh berkurang. „ Ibaratnya mereka bertugas merapikan jalan yang sudah dirintis anak-anak indigo,“ tutur Rosini.

Indra Keenam
Kata indigo berasal dari bahasa Spanyol. Pemakaian istilah indigo dimunculkan pertama kali oleh konseler Amerika Serikat (AS) Nancy Ann Tappe pada 1982, didukung psikiater dr. Mc Greggor. Kata indigo yang berarti ungu digunakan karen anak indigo memiliki aura nila di dahi atau di antara kedua alis mata. Dalam bahasa Sansekerta dikenal dengan cakra jaja atau mata ketiga. Sementara itu, anak kristal memiliki aura bening di dahinya.

Menurut Erwin, aura itu sering dikaitkan dengan hormon hipofisis dan hormon epificis di otak. Mata ketiga ini juga sering dikaitkan dengan indera keenam atau extra- sensory perception (ESP) yang berkaitan dengan kemampuan visionare.

Lalu, bagaimana cara mengetahui warn aura anak indigo dan kristal? Kini sudah berkembang alat pemotret atu pembaca aura yang disebut dengan Aura Video Station (AVS). Di Indonesia, alat ini baru ada satu, dioperaori oleh pemiliknya, Tom Suhalim dan drg. Hendra Kristianto.

AVS menurut Hendra memiliki sensitivitas sangat tinggi berdasarkan gerakan subjek. Terdiri dari seperangkat personal –computer (pc), kamera video, printer laser warna dan pembaca tangan. Caranya menempelkan telapak tangan kiri pada pembaca aura sambil wajah menghadap ke kamera video. Selanjutnya, layer monitor akan menampilkan warna aura dan makna warna bagi karakter seseorang. Teknologi ini menggunakan sistem biofeedback multimedia.

Menurut Hendra, setiap orang memiliki warna aura tersendiri. Hanya saja, anak indigo memiliki warna khusus yang dia sebut biru tua. Pemilik warna ini biasanya memiliki perasaan dalam penuh kejelasan, kasih, pencari kebenaran tertutup, artistic dan memiliki nilai-nilai mendalam.

Meski anak indigo mempunyai aura nila, pemilik aura ini belum tentu masuk kategori indigo. Erwin mengatakan, ada tiga tahapan tes untuk mengetahui indigo atau bukan. Yaitu wawancara psikiater, evaluasi psikologi, dan foto aura dengan AVS.

Tapi yang jelas, informasi tentang fenomena ini harus disebarluaskan. Dengan demikian, orang tua dan guru bisa lebih memahami kondisi anak indigo. Sedangkan anak itu sendiri juga bisa memahami keadaan dirinya. Ada orang tua yang meminta kemampuan anaknya ditutup saja. Tapi kami tidak mau melakukan. Itu bertentangan dengan alam dan bisa membuat anak menjadi beringas. Hal-hal seperti itu harus dipahami.“ Papar Erwin.

Hal senada juga dikemukakan Rosini. Secara pribadi, Rosini berharap anak-anak indigo bias lebih cepat menemukan dirinya sendiri. “ Karena alasan itu saya bekerja di klinik Pro V. Jangan sampai mereka harus lama mencari jati diri seperti yang saya alami,” katanya.

Klinik Pro V sendiri melayani konsultasi dengan tujuan memberikan kesadaran keadaan diri pada anak indigo. Mereka juga akan diberi latihan meditasi dan penegndalian serta penggunaan energinya untuk hal positif.

Ciri –ciri Anak Indigo
APAKAH anak saya masuk kategori indigo? Pertanyaan seperti itu sering kali menyeruak di benak orang tua yang sudah pernah membaca atau mengetahui fenomena tersebut. Berikut ada panduan dari situs metagifled.org tentang ciri-ciri umum anak indigo.

* Kepercayaan diri tinggi
* Ada masalah dengan kedisiplinan
* Menolak perintah atau pengarahan
* Tidak sabar mengantre merupakan siksaan
* Kreatif
* Memiliki antusias yang kuat
* Memiliki tatapan yang bijak dan dalam
* Memiliki empati yang sangat kuat terhadap orang lain atau tidak sama sekali
* Memiliki kekuatan batin dan/atau kecerdasan spiritual
* Memiliki kekatau untuk melihat kejadian di waktu yang akan datang
* Membenci hal-hal yang bersifat rutin
* Tidak patuh pada norma-norma social
* Memiliki bakat tertentu
* Biasanya sangat cerdas
* Cepat bosan

Bagaimana Menghadapi Mereka?

Anak indigo memiliki banyak kekhususan yang terkadang tidak dimengerti oleh masyarakat sekeliling, bahkan orang tuanya sendiri. Karena itu, cobalah untuk lebih memahami mereka. Situs metagifled.org memberikan beberapa tips bagi orang tua yang memiliki anak indigo.

1. Jujur. Berikan penjelasan lengkap atas kecerdasan dan kematangan yang mereka miliki.
2. Jangan manipulasi
3. Tunjukan rasa hormat. Meski usianya muda, secara spiritual anak indigo lebih bijaksana oleh sebab itu,perlakuan sederajat akan membuat mereka merasa dihormati dan dihargai.
4. Berikan dorongan untuk mandiri, semisal memilih pakaian sendiri atau mengajarkan mandi sejak dini
5. Hargai kekuatan batin yang dimiliki anak indigo. Bantulah mengembangkan bakat luar biasa mereka dengan mengikutsertakan kursus dan memberikan latihan serta dorongan.
6. Ajari mereka cara mengendalikan kekuatan batin. Para anak indigo memiliki emosi yang sangat sensitif. Mereka kerap mengalami perubahan suasana hati yang parah, tergantung suasana di sekelilingnya. Latihan pengendalian energi untuk penyembuhan akan membantu hal ini.
7. Ajari cara relaksasi dan meditasi. Ini akan membantu anak indigo mengatur hidup, menemukan keseimbangan dan menghubungkan antara dua dunia nyata dan spiritual.
8. Hormati kekuatan fisik dan emosinya. Meskipun terdengar agak ekstrem dan tidak biasa, namun anak indigo butuh toleransi dan pertolongan orangtua untuk memahami perasaan mereka yang sensitif.
9. Berikan terapi lain untuk menangani gelas autis, bila memang disertai dengan gejala tersebut. Jangan berikan pengobatan dengan ritalin, berikan tambahan vitamin, dan sari bunga. Khusus bagi mereka yang enggan bersekolah, berikan alternatif belajar lain.
10. Bantulah mereka memahami tujuan hidup dan kebiasaan anak indigo pada umumnya. Mereka hadir karena suatu alasan yang belum dapat dijelaskan hingga saat ini. Kemampuan mereka dipercaya bisa membawa kekuatan baru dan menjadikan dunia lebih baik. Selama belum adanya jawabannya, anak indigo akan kesulitan dengan sifat mereka yang sangat sensitif dan berbeda dari orang kebanyakan, dengan bantuan yang benar anak indigo bisa lebih memahami perbedaan mereka dengan orang kebanyakan.

Zaitun Melihat Rumah Surga

Klinik Pro V merupakan salah satu atau mungkin baru satu-satunya klinik yang memahami dan menangani fenomena anak indigo di Indonesia. Mereka tidak hanya memberikan konsultasi, teatpi juga menjadi fasilitator semacam kelompok diskusi bagi orang tua yang memiliki anak indigo dan untuk anak-anak itu sendiri.

Latzia, seorang ibu yang memiliki anak indigo mengaku memperoleh banyak manfaat dari kelompok tersebut. Dia bisa berbagi cerita dan mendapatkan informasi berharga dari orangtua lain yang memiliki anak indigo. Dalam sebuah pertemuan akhir minggu lalu, Latzia menceritakan bagaimana perjuangan keluarganya mencari ‚kesembuhan’ bagi zaitun buah hatinya, sebelum mengetahui anaknya masuk kategori indigo.

Sejak dua tahun lalu, Latzia sudah melihat keanehan perilaku putrinya zaitun yang kini berusia lima tahun . selain sering menunjukan kebijakan yang melebihi usia, Zaitun juga kerap kali bercerita melihat mahluk-mahluk aneh.

Pernah saat berlibur bersama seluruh keluarga di puncak, Jawa Barat. Putri bungsunya tiba-tiba menangis tiada hentinya hsampai kejang. Karena tidak tega, Latzia memutuskan membawa pulang putrinya. Dalam perjalanan, Zaitun bercerita bahwa dia emlihat mahluk berbulu tinggi besar sampai mencapai atap rumah

Kejadian itu terus berulang, bahkan tanpa sebab jelas, putrinya kejang-kejang. Latziapun berusaha mencari kesembuhan. Mulai dari dokter, psikiater hingga paranormal didatangi. Namun, tidak juga membawa hasil. Seorang psikiater kondang di Jakarta, mengatakan, anaknya menderita epilepsi. Sementara itu sekitar 20-an paranormal yang didatangi tidak bisa memberikan jalan keluar. „Puluhan juta rupiah sudah kami keluarkan, tapi tidak ada hasil. Anak saya tetap sering melihat mahluk-mahluk halus dan mengalami kejang” cerita Latzia.

Baru-baru ini juga terjadi peristiwa yang membuat Latzia kebingungan. Pasalnya putrinya terlihat sangat terpukul. Saat itu, Zaitun yang duduk di kelas TK B tengah mengikuti pelajaran menggambarkan. Anak perempuan cantik dan lucu itu mencoret-coret ketas putih dengan tangan kidalnya. Dia menggambar sebuah rumah.

Salah seorang guru menghampiri Zaitun sambil menanyakan gambar apa yang dibuatnya. Sambil memamerkan sederetan giginya yang putih, Zaitun menjawab sedang menggambarkan rumah surga ?” Begitu tanyanya saat itu.

Yang dutanya pun segera menjawab mau. Selang sehari kemudian guru tersebut meninggal dunia. Zaitun tampak semangat terpukul dengan peristiwa itu. “Almarhumah memang sangat dekat dengan putrid saya, “ cerita Latzia.

Hari-hari berikutnya, zaitun menjadi enggan berangkat ke sekolah. Wajahnya selalu murung. Latziakerap menemukan putrinya mengurung diri dalam lemari pakaian. Kalau ditanya, selalu menjawab sedangkan bermain dengan hantu.

Di tengah kebingungan yang dihadapi, Latzia mendapat saran dari Leo Lumanto, salah satu paranormal yang didatanginya untuk membawa Zaitun ke klinik Pro V. „ Di sinilah saya mendapat jawaban tentang kondisi anak saya. Di klinik ini, kami melakukan konsultasi dan anak saya dibantu untuk memahami dirinya,“ tutur Latzia

Zaitun adalah satu dari sekitar 30-an anak indigo yang datang ke klinik tersebut. Masih banyak zaitun-zaitun lain yang membutuhkan pertolongan. Sebab seringkali ketidaktahuan membuat anak indigo divonis menderita autisme, epilepsi, atau dicap sebagai anak aneh. Dalam hal ini bituhkan kepekaan dan bantuan dari orang tuanya.

Sumber : Lng, Media Indonesia September 2004

Permalink Leave a Comment

Indera Keenam Muncul Saat Panca Indera Tidak Bekerja

February 1, 2010 at 5:25 pm (Psikologi, Repost Article) (, , )

sixsense.jpgIstilah yang tepat untuk indera keenam (sixth sense) dalam dunia medis adalah extra sensory perception (ESP). Semua orang punya kemampuan ESP (indera keenam) ini sejak lahir. Ketika masih balita, ESP seorang anak berkembang, lantaran panca inderanya belum banyak digunakan. Untuk itu, tidak heran seorang anak kadang mampu melihat makhluk halus, bahkan melihat masa lalu dan masa depannya. Semuanya bergantung pada ketajaman masing-masing.

Ketika sang anak mulai masuk sekolah dan belajar matematika, olahraga, dan lain-lain, ESP-nya berkurang karena tidak dilatih. Ketika sekolah, yang banyak dilatih adalah otak dan otot. Saat itu, panca inderanya yang dominan. Panca indera dalam istilah medis disebut sensory perception (SP). Jadi, kemampuan ESP-nya menurun. Perlu pelatihan kembali untuk membangkitkan ESP tersebut, karena pendidikan kita tidak menyeimbangkan antara ESP dan SP.

Seperti diketahui, manusia adalah makhluk rohani yang berjasmani. Ketika jasmani banyak digunakan, SP kita yang aktif bekerja (panca indera). Sebaliknya, ketika rohani yang banyak dipakai, ESP kita muncul. Pola pendidikan Barat dan Timur berbeda dalam memperlakukan SP dan ESP ini. Pendidikan Barat hanya memfokuskan pada pengembangan SP, terutama rasio.

Sementara pendidikan Timur, seperti di Cina dan India justru menyeimbangkan antara SP dan ESP. Jadi, selain rasio, spiritualnya juga dibangun. Misalnya, ada latihan meditasi yang sangat efektif untuk menajamkan ESP. Di Indonesia, anak-anak kerap diajarkan budi pekerti, kata-kata mutiara, dan pencak silat. Lalu, dibarengi dengan renungan dan siraman rohani. Sayangnya, pola pendidikan itu perlahan menghilang dan dimasuki pola pendidikan Barat.

ESP adalah karunia Tuhan yang diberikan kepada setiap insan. Ia tidak akan hilang seumur hidup, walau lama tidak dilatih. Dalam hadis nabi dikatakan, siapa yang mengetahui dirinya, mengetahui pula Tuhannya. Kaum sufi atau kelompok spiritual lainnya, memiliki ESP ini. Mereka betul-betul mengetahui jati dirinya, sehingga dekat dengan Tuhan. Dengan begitu, ESP-nya pun selalu tampil.

Ketika seseorang menghadapi kematian, panca indera (SP) manusia tidak bekerja. Saat itulah potensi ESP-nya muncul. Ketika seseorang tidak jadi mati, misalnya, ia bisa melihat dirinya sendiri selama tak sadarkan diri. Ada juga yang saat masuk ruang operasi di rumah sakit, seseorang melihat tubuhnya sedang disayat-sayat. Nah, ketika telah sadar, seseorang yang tidak jadi mati itu, tampil dengan ESP. di desa-desa, bila ada orang yang tidak jadi mati, biasanya jadi dukun.

Generasi Spiritual
Secara fisik, kita tidak bisa membedakan seseorang yang memiliki indera keenam dan tidak. Untuk mengetahuinya harus dengan indera keenam pula. Namun, para psikiater punya metode sendiri. Psikiater akan mengeluarkan kartu yang disebut ESP card. Jumlahnya 25 kartu dengan gambar-gambar berbeda-beda. Bila setelah dikocok, lebih dari 5 kali, seseorang mampu menebak gambar kartu dengan benar, berarti dia memiliki indera keenam. Bila hanya 5 kali, apalagi kurang, tidak memiliki indikasi indera keenam.

Kini, ada teknologi baru untuk mengetahui indera keenam,yaitu dengan foto aura. Foto aura ini menggunakan teknologi yang disebut aura video station. Saat difoto, aura akan terlihat jelas warna-warni aura manusia. Aura itu, terkait dengan hormon yang disebut hipofisis dan epificis di otak. Yang memiliki indera keenam, dahinya berwarna aura nila (campuran ungu dan merah). Mereka yang beraura seperti itu, selain memiliki kecerdasan di atas rata-rata, juga memiliki spritualitas tinggi. Akhir-akhir ini, di seluruh dunia banyak lahir anak-anak yang memiliki ESP. Di Indonesia fenomena ini mencuat ketika memasuki tahun 2000. Mereka biasa disebut anak indigo. Kecerdasan dan sikapnya jauh melebihi usianya. Ia lain dari anak-anak sebayanya. Untuk ituanak-anak indigo kerap dianggap sebagai anak aneh atau ajaib. Berbeda dengan anak cerdas yang bila diajarkan, ia cepat menangkap, maka pada anak indigo tanpa diajarkan pun, dia sudah langsung menguasai ilmunya. IQ-nya antara 125-130.

ESP-nya membawa mereka pada kecerdasan spiritual. Anak-anak seperti ini, tidak bisa bergaul dengan sebayanya, tidak mau dipaksa atau diperintah, dan tidak mau sekolah. Mereka, memang, kerap bermasalah dengan lingkungan sosialnya karena kurang disiplin. Karakternya memberontak. Tapi, di sisi lain, ia kadang menunjukkan intuisi yang kuat serta pandangannya sangat bijak.

Mereka juga bisa bercerita tentang masa lalunya sebelum lahir dan apa yang akan terjadi ke depan. Anak-anak indigo ini, biasa juga disebut generasi spiritual yang akan membawa dunia pada kedamaian. Saat para anak indigo ini dewasa (vanguard), mereka nanti akan melahirkan generasi baru yang disebut generasi kristal pada kurun waktu tertentu. Anak-anak kristal ini, aura di dahinya bening. Sikap memberontaknya berkurang. ESP, spiritual, dan kecerdasannya jauh lebih tinggi lagi daripada generasi indigo.

Sumber : M. Husen, Variasi Oktober 2006

Permalink Leave a Comment

Lihat Almarhum Opa Datang Ke Pesta Ultah (Artikel dari Klinik Provital)

February 1, 2010 at 5:23 pm (Repost Article) (, )

indigoindopos0307.jpg

Fenomena anak indigo makin banyak muncul ditengah masyarakat. Sayang, hingga saat ini belum banyak yang memberikan perhatian bagi pendidikan anak-anak berbakat yang diyakini memiliki indera keenam itu.

Hari itu, 8 Agustus 2004, Riska Milandari sedang mengadakan pesta kecil merayakan ulang tahun ke-36. suasana bahagia melingkupi rumah keluarga di kawasan Pondok Jaya Raya, Mampang, Jakarta Selatani,tu.namun suasana sedikit berubah ketika tasya, putrinya yang berusia 2,5 tahun, berujar bahwa sanga opa( kakek Tasya) ikut datang kedalam pesta. “ Kami kaget karena opa sudah meninggal,” kata Riska. Tetapi, Tasya bersikukuh bahwa opah ada dan sedang bediri diruang tamu. Agar tak mengecewakan si buah hati, Riska pun memenuhi keinginan putrinya untuk “ seakan-akan” melihat sang kakek.

“Ya, sering-sering memang begitu, Tasya biasa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain, “ kata Riska. Pengalaman melihat opa yang sebetulnya sudah meninggal itu hanya sedikit kisah di antara banyak “ kelebihan” descka Putri Anastasya- nama lengkap Tasya. Menurut Riska, Tasya mempunyai kelebihan kemampuan unik yang disebut sebagai anak indigo.

Awalnya, dia tak menduga bahwa tasya termasuk indigo. Namun, setelah menceritakan kondisi putrinya dengan seorang guru besar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, barulah ia menyadari bahwa Tasya memiliki kemampuan khusus itu.

Sejak kecil, Tasya berbeda dengan balita seusianya tiga bulan, dia sudah memegang botol susu sendiri. “ Tasya menolak kalau dipegangi ( botolnya), “ kata Riska yang berprofesi sebagai konsultan psikologi sebuah perusahaan swasta. Memasuki usai lima bulan, giginya sudah tumbuh. “ Usia delapan bullan sudah bisa ngomong” lanjutnya.

Selain itu, Tasya sering berbicara sendiri seolah-olah menghadapi lawan bicara. Dia berperilaku seperti itu ketika sedang berada di gudang atau belakang rumah. Yang menjadi lawan bicara kadang figure yang menyeramkan. “ Suatu kali, di belakang rumah, Tasya mengaku bertemu dengan orang yang wajahnya penuh darah, “ kata Riska.

Wanita asal Bandung itu yakin bahwa itu bukan khayalan sang anak. Sebab, bagi anak seusia Tasya, khayalan adalah sesuatu yang indah. “ peri atau putrid, misalnya,” jelasnya. Chandra Rasyid, ayah Tasya, juga mengaku pernah mendapat pengalaman unik bersama anaknyayang diyakini mempunyai ciri khas indigo, yang mempunyai mata ketiga atau indera keenam. Waktu itu dia sedang mengendarai mobil di tol Cipularang. Saat melintasi perbukitan dijalan bebsa hambatan itu, Tasya berteriak.

Menurut Chandra, Tasya mengaku melihat orang sedang duduk bertapa. Padahal, ketika itu tidak tampak apapun selain pemandangan bukit dan jalan tol itu. Namun, ketika Chandra berusaha mencari tahu, di wilayah itu sering digunakan orang-orang yang sedang ‘ berusaha’ untuk meningkatkan ilmu.

Tasya, juga sering punya firasat yang kemudian jadi kenyataan. Chandra mencontohkan, suatu ketika putrinya mengatakan bahwa oma sedang sakit dan mamanya diminta untuk menghubungi segera. “ Benar saja, saat di telpon ternyata oma sedang sakit,” tutur Chandra yang bekerja sebagai anggota Badan SAR Nasional itu.

Perkatan-perkatan Tasya sering benar, dimanfaatkan untuk memberi prediksi. Misalnya, ketika keluarganya sedang menonton pertandingan bola di televisi. “ Saya lupa waktu itu Jerman lawan siapa. Tapi, diminta untuk menendang bola dengan kaki kanan jika menang Jerman dan kaki kiri kalau yang menang lawanya dan, tebakan Tasya benar, “ cerita Riska.

Chandra maupun Riska mengakui, anaknya yang tanggal kelahirannya juga unik (2-2-2002) itu sering berpikir jauh lebih dewasa ( old soul) yang menjadi cirri khas anak indigo dibanding dengan anak sebayanya. Ketika berusia tiga tahun, misalnya Tasya sudah mampu menghibur hati mamanya,”sudahlah ma, jangan dipikirin, “ kenang Riska.

Fenomena anak indigo juga ditemui pada keluarga Syahrudin,31, dan Neneng Latifah 26, anak pertama mereka, Irvanda Dzulkarahman (Ipang), juga termasuk anak dengan kemampuan lebih.

Ipang, demikian dia disapa, juga sering berbicara sendiri dengan orang-orang yang menurut orangtuanya tidak tampak. Bahkan, lanjutnya sang anak sering minta pintu dan jendela rumah selalu dibuka karena ‘ teman-teman’-nya akan datang.

“ Karena itu, kunci selalu saya letakan didalam saku, kata Syahrudin yang warga Grogol, Rangkapan Jaya, Pancoran Mas Depok, itu. Seperti Tasya, Ipang juga berpikir layaknya orang dewasa. Tidak jarang dia menasihati kedua orangtuanya. Ibunya, misalnya diminta harus selalu menutup aurat” kata Ipang , yang boleh kelihatan hanya tangan dan muka saja.” Tutur Neneng.

Karena kedewasaanya itu, Ipang enggan bermain dengan anak-anak sebayanya.” Malas ah main sama anak kecil., “ kata Syahrudin meniru ucapan putranya. Padahal, 8 maret yang lalu, usianya genap enam tahun. Sebaliknya, dia malah bergaul dan dekat dengan orang-orang dewasa yang notabene adalah teman-teman ayahnya.

Disekolah, Ipang yang duduk di bangku TK itu ccenderung tertutup. Meski demikian, dia justru cepat menerima pelajaran. Saking cepatnya menyerap pelajaran, dia sering komplain jemu menerima pelajaran anak kecil. Hasil tes IQ yang diikutinya menunjukan dia memiliki IQ 129. bahkan, di TPA tempatnya mengaji, Ipang menganggap guru yang ada tidak cukup untuk mengajarinya. ”Akhirnya kita pakai guru privat, “ kata Syahrudin.

Ipang sering menebak, sesuatu yang acapkali benar. Ketika diajak pergi ke tempat pamannya, misalnya, dia mengatakan bahwa jaln menjuju kesana berliku. “ Memang berliku. Padahal, belum sekalipun dia kesana.” Kata sang ayah.
Suatu kali Syahrudin dan Neneng berbelanja di sebuah pusat pembelanjaan. Ketika hendak naik escalator, Ipang menunjuk seorang pria yang berpakaian rapi, “ awas ayah itu copet!” seru Ipang. Sontak kedua orang tuanya kaget dan mengingatkan anaknya untuk tidak menuduh orang
sembarangan.

Namun, Ipang justru berontak, bahkan akan mengejar pria tadi. Akhirnya, Ipang pun digendong. Ternyata apa yang diserukan Ipang benar. Saat berdesak-desakkan, pria itu telah menempel Syahrudin dan berusaha mengambil dompet dari saku celananya.

Pakar psikologi anak dari Universitas Indonesia (UI) Dr. Tubagus Erwin mengakui, anak indigo memang berbeda dengan anak-anak sebayanya. Katanya, anak indigo memiliki moto berjiwa dewasa serta mampu membedakan dan menghargai perbedaan. Namun, indigo bukanlah sesuatu penyakit karena tidak termasuk dalam daftar penyakit sedunia yang dikeluarkan WHO.

Mereka, menurut dia, memiliki kekuatan spiritual yang tidak dimiliki semua orang. Meski demikian, anak indigo bisa sehat dan sakit, baik secara fisik maupun mental. Yang jelas, anak semacam ini memerlukan pendidikan khusus. “Semua tergantung interaksi dengan lingkungannya,” katanya.

menurut Erwin, anak indigo memiliki enam sifat. Pertama, tingkat kecerdasan superior. Tingkat IQ-nya di atas 120. “Sehingga meereka enggan mengikuti ritual yang tidak rasional dan tidak spiritual,” jelas dokter yang sehari-hari bertugas di klinik Pro V di kawasan Cempaka Putih, Jakarta, itu.

Kedua, anak indigo dapat mengerjakan sesuatu tanpa diajarkan terlebih dahulu. Ketiga, dapat menangkap perasaan, kemauan, atau pikiran orang lain. Keempat, dapat mengetahui sesuatu yang tidak dapat dipersepsi oleh pancaindera di masa kini, masa lampau (post-cognition), dan masa depan (pre-cognition). Kelima, mengetahui keberadaan makhluk halus. “Yang terakhir, anak indigo tertarik pada hal-hal yang berkaitan dengan alam dan kemanusiaan,” kata alumnus FK Unair 1967 itu.

Untuk mengetahui seorang anak itu indigo atau tidak, lanjutnya, perlu dilakukan pemeriksaan. Salah satunya melalui foto aura. Caranya, lima jari anak yang diduga indigo diapasang sensor -semacam scanning- yang dihubungkan dengan komputer. Di komputer itulah akan tampak apakah auranya tergolong aktif atau tidak.

Jika tampilan cakra di dahi berwarna nila (indigo dalam bahasa Spanyol) dan kelihatan aktif (seperti bergerak-gerak) dan warna di sampingnya dominan nila, maka anak itu positif indigo. Cara lain untuk menentukan apakah seorang anak itu indigo adalah dengan melakukan wawancara psikologi terhadap si anak.

Baik Tasya maupun Ipang adalah dua anak yang dinyatakan positif indigo. Tasya dinyatakan sebagai indigo setelh diwawancarai seorang guru besar Fakultas Psikologi UI. Sedangkan Ipang dinyatakan positif setelah melewati metode foto aura seperti yang dipaparkan Dr. Tubagus Erwin

Sumber : Naufal widi AR, Indopos Maret 2007

Permalink Leave a Comment

Salah Kaprah Anak Indigo

February 1, 2010 at 5:20 pm (Psikologi, Repost Article) (, )


indigo-republika-0108.jpg

Label ‘indigo’ membuat mereka tak leluasa bergerak.

Setelah dicap sebagai anak indigo, Vincent Liong (22 tahun) mengaku hidupnya menjadi kurang nyaman. Gerak-geriknya selalu jadi bahan sorotan. Ynag menyebalkan, “Saya dibilang anak aneh dan selalu disalahkaprahi,” kata dia.

Indigo memang fenomena. Lantaran isu marginal, sedikit yang paham betul tentangnya. Akibatnya? Banyak diagnosis yang keliru terhadapnya. Dalam perspektif ilmu yoga, menurut Dr. Tubagus Erwin Kusuma, anak indigo mengalami kekurangan cakra warna kuning di bagian ulu hatinya. Warna kuning dalam aura terkait dengan pergerakan manusia. Lantaran kekurangan warna kuning, anak indigo umumnya kurang bergerak atau sebaliknya terlalu aktif bergerak hingga sering diduga mengalami gangguan ADHD (attention deficit hyperactivity Disorder), ADD (Attention Deficit Disorder), atau bahkan autis.

Erwin mengungkap, ada sejumlah kasus dimana anak indigo jatuh sakit lantaran tumbuh dalam lingkungan yang tidak kondusif. Contohnya adalah fakta soal anak indigo yang dimarahi ayahnya karena kedapatan sedang berbicara dengan makhluk halus. Sang ayah menganggap anaknya mengada-ada karena bicara sendirian. Sementara bagi anak ini adalah tindakannya wajar karena ia memang melihat makhluk tersebut.

“Anak itu kontan menjadi kebingungan dan bisa saja ia menjadi sakit jiwa,” kata dia. Proses penyembuhan, menurut Erwin, tidak bisa bersandar pada obat-obatan. “Yang harus diobati adalah konflik antara ayah dan anak itu,” tegasnya.

Di Jakarta, Erwin mensinyalir ada 70-an anak indigo, kebanyakan adalah pasien yang berobat ke klinik Pro-V miliknya. Tapi kondisi ini seperti puncak gunung es tatkala yang menyembul di luar hanya sepersepuluh bagiannya. Jadi, “Mungkin saja jumlahnya ada 700-an di Jakarta,” kata dia. Belum pahamnya masyarakat tentang anak indigo menjadi penyebab belum banyaknya terungkap anak indigo.

Sebagian kalangan medis menyatakan bahwa anak indigo mengalami kerusakan pada bagian otaknya. Namun Erwin menegaskan bahwa indigo bukan penyakit. Badan Kesehatan Dunia (WHO), kata dia, bahkan tidak mencantumkan indigo dalam international classification of diseases. Lantaran indigo bukan penyakit, tak perlu dilakukan terapi untuk menyembuhkan anak indigo. “Yang dibutuhkan adalah pembinaan untuk anak, orangtua, guru supaya mengerti cara menangani anak indigo,” terangnya lagi.

Saat ini, lanjut Erwin, Depdiknas misalnya tengah membuat panduan bagi guru reguler tentang bagaimana menghadapi anak indigo. Buku panduan itu juga berlaku bagi para guru home-schooling. Sejumlah anak indigo memang enggan bersekolah di sekolah biasa. “Program ini direncanakan dibuat dalam jangka panjang. Nantinya akan ada sekolah khusus anak indigo,” terangnya lagi.

Peran Orang tua

Jika ditanya enak enggak menjadi anak indigo, Feri Trihandoko dan Bagus Torasanto bisa dgn mudah menjawab ‘tidak’. Anak-anak indigo bagai tak memiliki batas dengan alam supranatural. Ini menjadi kendala tersendiri bagi mereka. Feri, misalnya sempat mengalami rasa pusing tak berkesudahan selama setahun akibat pelbagai “penampakan” yang kerap berseliweran di hadapannya. Ini membikin studinya terganggu. Di sekolah ia kerap keluar masuk ruang Unit Kesehatan Siswa (UKS). Nilai rapornya sempat kosong selama beberapa bulan.

Demikian pula Bagus. Kerap didatangi informasi-informasi ‘gaib’ di kepalanya, Bagus kecil tak jarang jatuh sakit. Ini lantaran Bagus kerap memendamnya sehingga menjadi beban bagi fisiknya.

Toh, hal itu bukannya tanpa solusi. Setelah menginjak belia, Bagus jauh lebih piawai dalam mengendalikan info-info gaib yang datang sekonyong-konyong. Demikian pula Feri yang sejak kelas 1 SMA ‘tiarap’ dalam menggunakan kemampuan indera keenamnya. Bagus, misalnya, dapat mengontrol informasi-informasi yang mampir ke benaknya agar tak menjadi bumerang yang malah menyulitkan dirinya. Setidaknya, “Dia tahu kapan harus diam atau bicara,” kata Emmy Nurhayati, ibu Bagus. Salah satu terapi yang Emmy terapkan untuk Bagus dan terbukti ampuh adalah memperbanyak dzikir dan shalat lima waktu.

Pelajaran pertama ditanamkan kepada anak, menurut Emmy, adalah pemahaman bahwa kemampuan indera keenam merupakan anugerah dari Allah. “Ini sesuatu yang tak bisa dihindarkan,” kata Emmy yang juga indigo dan semasa remaja kerap jatuh sakit lantaran mencoba menolak keindigoannya.

Tak syak lagi, menurut Emmy, orang tua berperan besar dalam memperingan beban indigo yang dipikul sang anak. Kuncinya adalah, “Jangan sampai anak merasa bahwa kelebihan indera keenam yang mereka miliki adalah beban, sebagai sesuatu yang amat-amat serius,” kata Emmy yang kerap bercanda dengan puteranya itu tatkala muncul penampakan-penampakan.

Senada dengan Emmy, Erwin mengatakan bahwa peran orang tua amat vital. Orangtua harus mampu memberi pengertian pada anak indigo tentang potensi mereka yang lain. Anak indigo yang dicap badung lantaran tak mau berbaris, misalnya, bisa diajak bicara dengan mengatakan “Berbaris itu gampang lho, kamu pasti bisa lebih dari itu,” tiru Erwin.

Karen itulah Erwin menekankan perlunya para orangtua yang anaknya indigo untuk ‘bersatu’. Paling tidak, mereka bisa melakukan sharing soal jurus terbaik menangani anak-anak indigo. Di Jakarta sendiri ada indigo sharing club. “Penanganan yang benar terhitung penting demi perkembangan anak,” papar Erwin yang mengungkapkan soal adanya kasus-kasus anak indigo yang frustasi lantaran mereka gagal beradaptasi dengan lingkungan.

Menurut Erwin, anak indigo yang lahir di tengah keluarga yang mengerti kondisinya justru akan banyak berguna buat orang lain. Seperti membantu menyembuhkan penyakit lewat tenaganya. Inilah yang dilakukan Bagus Torsanto. Belum lama, cerita Bagus kepada Republika, ia mengobati seorang kawan ibunya yang diduga tengah didera masalah psikis.

Entah mengapa, inspirasi pengobatan selalu datang usai shalat. Anehnya lagi, tangan Bagus seolah bergerak sendiri memegang kepala teman ibunya itu. Sekonyong-konyong rasa nyeri dari kepala itupun hilang.

Mereka Bergerak Melawan Stigma

“Tidak ada yang ajaib dari anak indigo,” kata vincent liong tegas. Sejak dipublikasikan media massa pada 2004, label indigo serta merta melekat dalam diri Vincent. Kebebasannya terenggut. Vincent pun mulai berhenti menulis soal-soal metafisika.Toh, ia merasa terus disorot dan, dalam kadar tertentu merasa terusik.

Satu-satunya cara keluar dari label indigo, menurut Vincent, adalah dengan membuktikan bahwa indigo bukanlah sesuatu yang spesial, berbakat atau extraordinary. Inilah yang dilakukan Vincent dengan metode kompatiologinya. Metode ini memungkinkan kemampuan yang dimiliki anak indigo dapat diduplikasikan secara massal untuk anak-anak lain dalam berbagai bidang. Sebab, ” ketika semua bisa memiliki kemampuan setara dengan si indigo maka label itu akan mati,” tutr dia.

Kompatiologi telah mengubah secara radikal peminat-peminatnya. “Mereka menjadi lebih efesien dalam menghadapi hidup dan berani memenuhi panggilan jiwa,’ kata Vincent. Kompatiologi tidak menciptakan cenayang-cenayang, melainkan memungkinkan seseorang mengadopsi sistem berpikir yang dimiliki anak-anak indigo – para anak jenius.

Pernyataan terbesar yang mengusik Vincent adalah, ” untuk apa menjadi indigo jika kita cuma sekadar menjadi barang tontonan,” tuturnya. “Yang terpenting para indigo harus mampu melakukan perubahan. Perubahan itu dimulai dari perubahan paradigma berpikir kita dalam menyikapi realitas. Kita dididik untuk berpikir objektif, padahal kita bias berpikir subjektif,” katanya menjelaskan

Menurut pengamat indigo, Leonardo Rimba, solusi bagi anak-anak indigo adalah membantu mengurai kesulitan mereka menyesuaikan diri dengan lingkungan. Ia mengkritik pelabelan indigo yang dialamatkan kepada anak-anak ini. Demikian pula kelas khusus indigo yang dirancang pemerintah. Leonardo meminta program tersebut dibuat atas dasar tantangan untuk membantu anak menyesuaikan diri. Bukan untuk memisahkan mereka.

Istilah indigo sendiri dipandangnya Leonardo sebagai remang-remang. Mengapa? “karena kemampuan batin adalah hal lumrah. Semua manusia memiliki kemampuan itu,” ujar pria lulusan Universitas Indonesia dan the Pennsylvania State University itu.

Pelabelan indigo akan menjadi beban buat anak-anak, sebab bisa menjadi bumerang. “Mereka dianggap benar-benar wah. ini mengandung risiko karena anak bisa jadi hancur jika tidak tahan kritik, ” papar dia

Sumber: Indira, Republika, Januari 2008

Permalink Leave a Comment

Kelebihan Istimewa Anak Indigo

February 1, 2010 at 5:19 pm (Psikologi, Repost Article) (, )

• Tahu Bahaya yang Akan Datang
• Mengetahui Masa Depan
• Membaca Isi Hati

child_heart.jpgAnak indigo adalah anak yang memiliki kemampuan lebih. Sayangnya seringkali dipandang aneh. Kini telah banyak anak indigo yang lahir di seluruh dunia, temasuk Indonesia. Di Jakarta saja diperkirakan ada sekitar 700-an anak. Inilah cerita-cerita unik tentang kelebihan mereka.

Pola pikir anak biasanya akan mengikuti orang dewasa di sekitarnya. Tetapi tidaklah demikian dengan anak indigo. Justru anaklah yang mengubah dan membentuk pola pikir orang di sekitarnya. Sebab, meski masih anak-anak tetapi jiwa mereka umumnya lebih dewasa hingga bisa dibilang lebih matang dibandig usianya.

Kebanyakan anak indigo yang lahir setelah tahun 1990 menurut Dr. H. Tubagus Erwin Kusuma, SpKJ, memiliki tingkat spiritual tinggi. Hal itu ditunjukkan melalui cakra berwarna nila ketika di foto aura. Menurut ahli jiwa anak dari Klinik ProVclinic itu, di Jakarta saat ini tercatat ada 70 anak indigo. Namun jumlah yang sebenarnya diperkirakan bisa mencapai 700-an.

Menurut Erwin, anak indigo tidak sekadar memiliki kelebihan, tapi juga mempunyai beberapa tipe, yakni humanis, konseptual, artis, dan interdimensionalis. Anak tipe humanis memiliki perasaan yang peka terhadap lingkungan sosial. Sedangkan tipe konseptual selalu berpikir sesuai dengan apa yang dianggapnya benar. Ada pula yang sangat menyukai seni dan hasil karya mereka seperti seorang profesional. Yang seperti ini tergolong tipe artis.

Sedangkan tipe Interdimensionalis adalah yang dapat berinteraksi dengan makhluk lain seperti makhluk halus. Selain itu mereka dapat menembus lorong waktu, sehingga bisa melihat apa yang terjadi di masa lalu, kini, dan akan datang. Anak indigo terkadang tidak hanya memiliki satu tipe, tapi bisa dua atau lebih. Tipe-tipe ini terlihat pada kemampuan Shantiq, Rheinanda dan Haikal.

Dr. Erwin juga memprediksi, bahwa sebentar lagi akan muncul anak kristal yang memiliki aura putih dan kemampuan melebihi anak indigo. Berbeda dengan anak indigo, anak kristal memiliki tingkat kematangan spiritual yang lebih tinggi. Mereka memiliki sifat yang lebih tenang, tidak frontal seperti anak indigo. Saat ini generasi anak kristal sudah mulai lahir ke dunia, namun tidak diketahui di belahan bumi mana.

Shantiq I Rival, Mampu Membaca Isi Hati

Yani Rivai (47) terkejut ketika mengetahui putri sulungnya yang disapa Chacha ternyata tergolong anak indigo. “Awalnya saya merasa ada yang aneh dengan dia. Sejak lahir hingga berumur empat tahun, sulit sekali saya mengendalikan kelakuannya,” ujar Yani.

Setelah Chacha lahir, ada beberapa kejadian yang sulit diterima akal sehat. “Pernah saya ketiduran ketika menyusuinya. Setelah terbangun saya kaget sebab dia tidak ada di pangkuan saya. Saya pikir jatuh ke lantai. Saya cari-cari di sekitar, tetapi tidak ada. Ternyata dia tengah tidur pulas di atas ranjangnya yang terletak di sebelah tempat tidur,” cerita Yani.

Meski heran namun Yani mencoba tak berpikir macam-macam. “Tak mungkin anak sekecil itu bisa bergerak mencari tempat tidurnya sendiri,” pikirnya.

Namun ada yang berbeda dari putrinya. Setelah tumbuh laiknya anak-anak lain, cara berpiir dan berbicaranya sangat dewasa sampai sering menasihati orang yang lebih tua. Parahnya lagi, Chacha tidak mau dipaksa sekolah atau belajar. Terbukti ketika ia dimasukkan ke playgroup saat berumur dua taun. “Kalau dipaksa akan marah. Kalau emosinya sedang naik, dia akan berteriak atau menangis kencang, lalu badannya panas,” ungkapnya. Merasa ada yang aneh dengan sang putri, Yani memeriksanya ke psikiater.

Setelah menjalani serangkaian tes dan foto aura, terlihat Chacha memiliki aura dan cakra berwarna nila. Itu berarti ia tergolong anak indigo yang memiliki kelebihan-kelebihan khusus. “Oleh dokter saya diberi petunjuk menghadapi anak indigo. Intinya hindari konflik dengan dia. Bila sedang marah segeralah peluk untuk menenangkannya,” ungkap istri Rizal Rivai ini.

Yani pun semakin tahu kelebihan yang dimiliki putrinya. “Dia tahu apakah seseorang berbohong atau tidak. Saya pernah pura-pura sudah tak marah lagi, eh dia langsung tahu kalau saya masih kesal. Bahkan kalau saya ada masalah pun, dia pasti tahu dan menghampiri saya seperti layaknya orang dewasa,”jelas Yani. Namun yang paling menonjol dari sang putri adalah rasa kemanusiannya yang tinggi.

Dalam melihat seseorang, putrinya tak memerhatikan penampilan luar tapi lebih pada hatinya. Pernah suatu hari, cerita Yani, Chacha rela disuruh-suruh teman-temannya, meskipun sebenarnya ia tidak menyukainya. “Saya tanya kok mau disuruh-suruh?Dia bilang , enggak apa-apa Mi. Sebenarnya Chacha kasihan sama anak itu. Dia memiliki banyak masalah dalam hidupnya, makanya Chacha ingin bikin dia senang,” jelasnya.

Menebak Kejadian Akan Datang

Melihat dan mendengar apa yang dikatakan dan dilakukan putri sulungnya, Yani semakin yakin Chacha termasuk seorang anak yang diutus Allah untuk menyebarkan kebaikan bagi sekelilingnya. “Menurut Dr. Erwin, Chacha termasuk anak indigo humanis, karena dia sangat peka terhadap keadaan sosialnya.”

Selain bisa mengetahui kepribadian seseorang hanya dengan melihat wajahnya saja, Chacha juga bisa mengetahui apakah orang itu berbohong atau berniat jahat. Tak hanya itu, Chacha juga bisa melihat masa lalu dan masa depan seseorang. Pernah suatu hari, salah seorang tantenya yang telah menikah datang menemuinya dan iseng tanya kapan akan hamil. Tiba-tiba Chacha menjawab peuh keyakinan. “Tante, bulan Januari nanti hamil. Tapi tante jangan senang dulu karena tak lama setelah itu tante akan keguguran,” katanya.

Awalnya tak ada yang mempercayai ucapan dari anak sekecil Chacha. Namun ternyata apa yang dikatakannya benar-benar terjadi. “Tantenya benar-benar hamil, namun akhirnya keguguran,” ucap Yani. Karena kemampuannya, tak jarang keluarganya menanyakan berbagai hal.

Untuk merangkai senua yang terlintas di benaknya diperlukan energi yang besar. Karena itu kalau capek dan drop biasanya badannya langsung panas. Kalau sudah begitu, pelukan hangat sang bunda yang paling dibutuhkan Chacha untuk kembali mengumpulkan energinya yang terkuras. “Saya langsung kasih obat penurun panas lalu saya peluk, sambil kami berdoa bersama-sama,” ungkap wanita yang ternyata putra bungsunya, Vey juga termasuk anak indigo. “Namun warnanya hijau, artinya meneduhkan. Karena itu ia lebih tenangdan cenderung tak ingin mengecewakan orang-orang sekitarnya. Namun Vey tidak memiliki kemampuan istimewa seperti yang dimiliki sang kakak.

Pernah suatu hari, dengan wajah berlinang air mata dan tangan menutup telinganya Chacha berlari ke arahnya. “Mi, serem sekali, aku takut,” ungkapnya sambil menangis. Yani pun tak dapat berbuat apa-apa karena ia tahu saat itu sang putri tengah menangkap suatu energi negatif yang akan menimpa seseorang. “Saya hanya memeluknya dan menyuruh dia shalat agar suara-suara itu hilang”.

crash.jpg“Ya Allah tolong hilangkan suara-suara seram itu. Suara orang berteriak-teriak minta tolong dan suara ledakan, aku gak tahan lagi ya Allah,” ucap sang bunda yang berada di balik pintu. “Malam itu Chacha nggak bisa tidur. Dia terus menangis sambil menutup telinganya. Menjelang subuh barulah dia bisa memejamkan mata karena kecapaian.”

Pada keesokan harinya (awal Januari 2007), Yani sangat kaget ketika semua stasiun TV menayangkan hilangnya pesawat Adam Air. “Saya baru menyadari, mungkin musibah inilah yang ditangkap Chacha. Ia bisa mendengar teriakan para penumpang dan dahsyatnya ledakan yang menghancurkan pesawat itu,” ungkap Yani.


Rheinanda Kaniaswari, Berinteraksi dengan Dunia Lain

Rheinanda Kaniaswari (10) juga memiliki kemampuan serupa. Gadis cilik yang akrab disapa Nanda ini termasuk anak indigo interdimensionalis lantaran kemampuannya berinteraksi denagn makhluk gaib. “Nanda punya teman yang namanya Ciak, dia baik dan suka main boneka sama Nanda,” ucapnya polos.

Setelah diselidiki, Ciak ternyata makhluk halus seusia Nanda dan mereka menjalin persahabatan. “Awalnya saya pikir Nanda dan mereka menjalin persahabatan. “Awalnya saya pikir Nanda berhalusinasi, ” ungkap Istha Sarawati, sang bunda. Saat Kakaknya bertanya apakah ia tidak takut melihat mahluk halus yang ada di sekitarnya, dengan tegas Nanda menjawab tidak. ” Mereka baik-baik kok, tidak suka mengganggu. Malah lebih seram setan yang ada di sinetron dan film,” ujarnya polos.

Kemampuan Nanda melihat dan berinteraksi dengan mahluk halus sering membuat kakak-kakaknya merinding. ” Pernah dia bilang ‘ kalau mau main sama aku, mukanya benerin dulu sana.’ jelasnya, saya merinding,” tambah putri, seorang kakak Nanda.

Mungkin karena kelebihannya itu Nanda jarang ke sekolah. Belajar pun hampir tidak pernah. Herannya, Nanda termasuk murid yang pintar. Dia selalu mendapat ranking dua di kelasnya. Menurut Istha, kadang dalam seminggu hanya dua kali masuk sekolah, namun anehnya bisa menguasai materi meskipun belum belajar. Beruntung pihak sekolah mengerti dan memberinya perhatian lebih.

Kelebihan putrinya baru telihat jelas saat berusia tujuh tahun. Saat itu sedang marak pencalonan presiden. Kebetulan ayah Nanda pengurus sebuah partai dan kenal presiden SBY yang saat itu mencalonkan diri sebagai calon presiden.” Pakde Bambang nanti yang jadi presiden,” celoteh Nanda. Perkiraan Nanda ternyata tepat, SBY akhirnya terpilih sebagai presiden Republik Indonesia.

Tak lama setelah itu Nanda mendapat frekuensi negatif berupa akan timbulnya bencana alam. “Ma, kayaknya akan ada bencana alam deh. Ade lihat air tumpah ke daratan dan korbannya banyak sekali. Tapi Ade enggak tahu itu dimana,” ujar Nanda saat itu. Meskipun agak meragukan, Istha mencatat apa pun yang dikatakan putrinya itu dalam sebuah buku kecil. “Saat dia menerima frekuensi seperti itu harus cepat-cepat dicatat. Takut lupa, karena hampir setiap akan terjadi bencana bisa dibilang Nanda mengetahuinya,” ujarnya.

Ternyata ucapan gadis kecil itu benar. Bulan Desember 2006 terjadi bencana alam Tsunami yang menewaskan ratusan ribu orang di Aceh. “Ke depannya Tsunami tidak ada. Hanya saja gempa, banjir, gunung meletus masih akan terjadi,” ucap Nanda mengenai kondisi Indonesia setahun ke depan. Gadis itu lalu memegang bandul dan menggerakkannya dengan tanpa menyentuhnya sedikit pun. Rupanya ia menggerakkan menggunakan energi untuk melatih kemampuannya,” jelas sang bunda.

Dua Kali Hindarkan Ayahnya dari Maut

Setelah sering bertukar pengalaman dengan para orang tua yang juga memiliki anak indigo, Istha semakin mengerti dan memahami kelebihan yang dimiliki putri bungsunya. “Saya sangat bersyukur Allah memercayakan nanda pada kami. Kami berharap Nanda bisa membawa kebaikan bagi semua orang,” ungkapnya tulus.

Seperti saat ia menggunakan kemampuannya untuk mengingatkan sang ayah dari sergapan maut. “Saya menganggap ini adalah suatu anugerah dari Allah. Saat pesawat Mandala jatuh, seharusnya papanya juga ada dalam pesawat itu,” kenang Istha.

Rupanya ketika hendak pergi Nanda menghalangi sang papa sambil menangis. “Papa jangan pergi, kalau papa pergi nanti Nanda enggak punya papa lagi,” ungkap putri Agus Hermanto itu. Karena putrinya menangis histeris, Agus mengalah dan menyerahkan tugas itu pada temannya yang kemudian tewas dalam kecelakaan tersebut. “Kami semua langsung sujud syukur karena suami selamat dari maut. Namun kami juga ikut bersedih rekannya menjadi korban. Kami tak mengira akan begitu akhirnya,” ungkap Istha.

Kejadian serupa terulang lagi saat Nanda memperingatkan sang ayah agar jangan pergi ke Yogyakarta. “Ma, Nanda ngeliat ada gempa besar dan banyak rumah yang rusak. Bilang sama Papa jangan ke daerah Jawa ya,” ungkap Istha menirukan ucapan putrinya. Agus pun memutuskan tak pergi meski harus rapat di Yogyakarta. “Benar saja ketika gempa terjadi, hotel yang sudah di-booking suami ternyata miring dan banyak yang runtuh,” ucap Istha.

“Bagi kami Nanda sudah seperti pelindung keluarga. Dialah yang selalu mengingatkan kalau ada yang tak benar atau berniat jahat pada kami,” ujarnya. Tak jarang kemampuan tersebut dipandang aneh oleh sebagian orang. Apalagi bila ia bersemedi di depan kelasnya. “Awalnya teman-temannya merasa aneh, sekarang sih sudah terbiasa. Jadi kalau ia lagi semedi, teman-temannya lewat aja,” tutur sang bunda.


Achmad Haikal Kurniawan, Menonjol Kemampuan Spiritualnya

Seperti layaknya ibu lain yang memiliki anak indigo, Chichi Sukardjo awalnya tidak mengetahui putra sulungnya, Achmad Haikal Kurniawan (13) memiliki keistimewaan. Padahal tanda-tanda tersebut sudah dirasakannya sejak mengandung. “Awalnya sebagai muslim saya merasa berdosa karena belum pernah khatam Al-Qur’an. Nah pada saat hamil Haikal saya punya keinginan kuat mengaji dan berhasil khatam,” ujar Chichi.

Pertanda tersebut berlanjut menjelang kelahirannya. Sepanjang jalan menuju rumah sakit, Chichi dan suami mendengar adzan berkumandang. “Padahal saat itu masih bulan Ramadhan, belum saatnya malam takbiran,” kenangnya. Setelah di USG, berdasarkan keterangan dokter rumah sakit, tangan bayinya tampak menyerupai orang yang sedang adzan.

Begitupun saat berusia 11 bulan, Chichi mendapati perilaku aneh Haikal.”Ketika itu kami sedang berada di museum di Boston. Saat sedang asyik melihat benda sejarah, tiba-tiba saja Haikal menghilang. Setelah dicari, ternyata dia merangkak menuju lorong sepi melihat kaligrafi Allah dan Muhammad, serta pedang Umar bin Khatab sambil tersenyum. Saat itu ia terlihat excited sekali, bahkan seperti sedang ngobrol sendiri,” terangnya. Hingga kini hal tersebut tetap terbawa, Haikal selalu bersemangat mengunjungi museum dan senang dengan hal-hal keagamaan.

Kepastian putranya tergolong indigo diketahui Chichi setelah Haikal diperiksa dokter sewaktu berusia 4 tahun. Masa berat dalam hidup Chichi dimulai saat putranya menginjak usia sekolah.

Seperti kebanyakan anak indigo, Haikal sangat membenci kegiatan belajar dalam kelas. “Saat TK B ia bilang, Bunda ngapain sekolah. Di sekolah cuma nyanyi-nyanyi aja,” ujarnya. Saat anak lain menggambar gunung atau bunga, putranya menggambar kapal pesiar lengkap dengan gym, perpustakaan dan berbagai fasilitas lain. “Padahal dia nggak pernah naik kapal pesiar. Paling naik kapal feri.”

Begitupun ketika masuk sekolah dasar. Saat anak lain belajar di kelas, Haikal lebih senang pergi ke masjid atau perpustakaan. Sampai-sampai gurunya memerintahkan petugas menutup pintu perpustakaan untuknya. Hal itu membuatnya marah. Sebab yang paling menarik baginya adalah membaca buku, daripada belajar itu-itu saja di dalam kelas. Makanya tak heran, dalam satu semester ia bisa tidak masuk sekolah 26 hari. “Orang tua lain heran dengan kondisi begitu dia bisa mendapat nilai lumayan.”

Karena ketaksukaannya belajar dalam kelas, Haikal kerap membuat ulah. Dari menolak ujian karena menganggapnya percuma sebab katanya sudah pernah dikerjakan, langsung meninggalkan kelas dan gurunya dalam keadaan marah, dan tak sungkan mengkritik guru yang dianggapnya bukan pendidik lantaran tak memahami kondisi murid.

Meski demikian Chichi bersyukur bakat putranya sangat positif. Ia memiliki sikap dan pendirian yang teguh pada hal-hal yang dianggapnya benar. Haikal juga taat beribadah. Pada usia SD pernah seorang guru memanggil Chichi sambil menangis. Ia mengatakan melihat anaknya itu sedang berzikir di dalam masjid sambil menangis. “Saya tidak pernah melihat anak SD seperti anak ibu,” ujar Chichi menirukan perkataan guru.

Selain itu di tengah jam pelajaran, Haikal tidak akan sungkan meminta izin kepada guru untuk shalat dhuha. “Alhamdulillah dia sangat dekat dengan Allah,” syukur Chichi. Bahkan sejak usia SD, Haikal tidak pernah meninggalkan shalat lima waktu.”

Menurut psikiater yang menanganinya, bocah kelas dua SMP ini memiliki aura dan kekuatan luar biasa. Berdasarkan keterangan psikiater, Haikal adalah indigo yang sakit. “Makanya ia butuh penanganan dan pengarahan yang tepat,” ujar Chichi. Hal itu diakuinya lantaran perceraiannya dari ayahnya beberapa tahun silam, ikut mengguncang mental putranya. Karena itu kata Chichi, Haikal membutuhkan perhatian lebih.

Haikal juga bisa melihat masa depan. “Seminggu sebelum kejadian tergelincirnya pesawat Lion Air di Solo, dia pernah bercerita bakal ada peristiwa besar menyedihkan. Ternyata benar karena ada musibah pesawat itu,” jelas Chichi. Sepengetahuannya pula, 6 bulan sebelum tsunami Aceh, putranya sering terbangun tengah malam dan mengatakan kalau ia melihat banyak jatuh korban akibat banjir.

Berat mengasuh anak indigo?Bagi Chichi, yang paling berat adalah karena ayahnya tak mengakui bila putranya indigo. Hingga kini, mantan suaminya masih menganggap ia salah mendidik Haikal.

Namun ia bersyukur, di tengah kondisi seperti itu, putranya ternyata bisa bersikap bijak. Pernah Haikal mengirim surat kepada ayahnya yang isi suratnya layaknya orang dewasa. “Ayah, kenapa ayah membenci Bunda? Kenapa ayah bilang Bunda tidak bisa mendidik anak? Bunda memang galak dan keras, Yah. Tapi bunda adalah sebaik-baik perempuan yang bisa mendidik kami. Ayah jangan lupa itu,” begitu isi sebagian surat Haikal. Chichi mengaku terharu dengan pengertian putranya.

Bagi Chichi, kehadiran Haikal adalah amanah. Ia yakin Tuhan memiliki maksud tertentu, entah itu untuk kebaikan dirinya atau untuk kebaikan orang banyak. Apalagi layaknya anak indigo, Haikal bisa membaca sifat orang. “Dia bisa tahu apa orang itu baik atau tidak,” ujar Chichi.

Sumber: Selvy Widuhung, Kartini

Permalink 3 Comments

Anakku Titisan Panglima Perang Cina?

February 1, 2010 at 5:17 pm (Psikologi, Repost Article) (, , )

Pertiwi Purnamaratri, ” Anakku Titisan Panglima perang cina?”

PranaUsianya belum genap lima tahun, Prana mampu menyembuhkan orang sakit dan meramal. Benarkah ia titisan panglima perang cina.

Siang itu, Pranaya Sinangwidhi (7) asyik bermain dengan kakaknya, Anggrawidhi (10). Melihat tingkah lakunya, tidak ada yang mengira bahwa Prana, demikian nama panggilannya, memiliki kemampuan yang hampir mustahil dimiliki anak sebayanya, bayhkan
orang dewasa pada umumnya.

Putra bungsu pasangan Pertiwi Purnamaratri (41) dan Alika Chandra (43), ini di usia yang terbilang belia, rajin melakukan puasa dan meditasi. Ia mampu membaca peristiwa alam yang akan terjadi dimasa depan, bahkan memiliki kemampuan menyembuhkan penyakit. Sejak usia lima tahung hingga kini, bocah lugu ini kerap bercerita kepada ibunya bahwa ia pernah terlahir sebagai panglima perang dari cina yang hidup di abad 13 serta penyembuhan bagi banyak orang.

Mungkinkah semua itu hanya khayalan seorang anak kecil? simak penuturan ibunda Prana, Pertiwi, yang membagi kisah putra bungsunya itu kepada Femina

MENYEMBUHKAN DIRI SENDIRI

Tidak ada yang istimewa pada kehamilan anak keempat saya. Semuanya berjalan wajar, sama seperti saat mengandung ketiga kakaknya, Ratnaganadi Paramita (15), Ananta Wijayanti(12), dan Anggrawidhi (10). Hanya saja, saat proses kelahiran Prana, saya merasakan sakit yang luar biasa, hingga saya hampir pingsan. Untuk beberapa saat lamanya, pada masa kontraksi saya merasakan seluruh tubuh panas dingin, seperti ada kekuatan besar yang menyelimuti saya.

Untunglah bayi lelaki saya lahir sehat dan selamat pada tanggal 21 Agustus 2007. Pranaya Sinangwidhi, nama itu diberikan oleh salah seorang kakak saya, berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya. ‘ Kepemimpinan’ Roh Suci . Saya sangat bersyukur dan bahagiasaat bayi mungil ini tertidur tenang dalam pelukan saya.

Pada usia 6 bulan, Prana mulai menampakkan perilaku bayi yang tidak umum. Dia menolak tidur didalam boks bayi, dengan cara menangis keras. Ketika dipindahkan ke tempat tidur saya, anak ini justru merayap turun dari ranjang, dan milih berbaring dilantai tanpa alas. Jika dipindahkan, ia akan menjerit tanpa henti.

Khawatir dengan kebiasaan Prana, saya dan suami memutuskan memasang karpet di lantai agar ia bisa tidur dengan nyaman. Tetapi tak lama berselang, dengan tangan dan kaki yang mungilnya,Prana berusaha menyingkirkan karpet, kembali tidur di lantai dingin tanpa alas. Tidak hilang akal, saya kembali memasang alas lantai,kali ini seluruh rumah dilapisi Vinyl ( karpet plastik). Herannya, Prana juga menolak, tangannya mencari-cari ujung vinyl,kemudian berusaha membongkarnya. Tak tahu harus bagaimana lagi, akhirnya saya membiarkannya tidur di lantai.

Anehnya, meski saya merasa cemas Prana bisa jatuh sakit karena tiap hari tidur di lantai, Prana kecil justru jarang sekali sakit. Lama saya baru menyadari, putra saya memiliki kemampuan menyembuhkan diri sendiri. Kebiasaan tidur di lantai ini ternyata merupakan upaya menetralisasi penyakit di tubuhnya.

Suatu ketika, saat usianya 4,5 tahun, ia mengalami demam tinggi. suhu tubuhnya mencapai mencapai 40 derajat celcius. Selama sepuluh hari tidak ada obat yang mampu menurunkan panasnya. Ketika dilakukan tes darah oleh dokter, hasilnya tidak menunjukan ia mengidap penyakit tertentu. Sepulang dari dokter, dalam gendongan saya, Pran memaksa turun, kemudian berbaring di lantai. Tidak lama kemudian, suhu tubuhnya normal kembali. Ia pun sembuh. Kendati rasa cemas lenyap, lagi-lagi saya hanya bisa terheran-heran.

MELIHAT MAHLUK HALUS

Sejak kecila Prana memang memiliki kemampuan melihat mahluk yang tidak kasatmata. Ia bisa bercerita, mahluk apa yang dilihatnya, bentuknya seperti tuyul, arwah penasaran, wanita berambut panjang, atau malaikat pencabut nyawa. Mahluk yang mengeluarkan sinar terang benderang, disebut sebagai malaikat, sedangkan yang berwajah seram, yang sering melarangnya berdoa, disebutnya sebagai iblis.

Pada awalnya saya menganggap penglihatan Pran ini sebagai hal wajar. Bukahkah umumnya anak kecil mempunyai mata batin yang kuat sehingga mampu melihat mahluk halus? Karena itu, saat Prana memberitahu ada mahluk di ujung ruangan, saya hanya bisa berkata, ” Biarkan saja, Nak, yang penting mereka tidak mengganggu kita”.

Sejak kecil, ketika bermain sendiri, dia terlihat seperti sedang bermain atau berbicara dengan seseorang, padahal tidak ada lawan main ataupun lawan bicara di hadapannya. Prana juga pernah meminta izin kepada saya, ada temannya yang mau datang ke rumah. Dia kemudian membukakkan pintu pagar, lalu bermain dihalaman. Anehnya, saya tidak melihat ada siapa pun didekatnya, meski saya melihat dari gelagatnya, ia tidak bermain sendiri. Namun, saya masih menganggap biasa, sebab beberapa anak kecil memang memiliki teman khayalan.

Suatu peristiwa yang membuat saya dan ayahnya akhirnya ngeh bahwa dia memang memiliki ‘bakat’ khusus adalah ketika kami sekeluarga menonton sebuah pertunjukan di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta, dua tahun lalu. Seorang remaja pria berusia belasan tahun, tiba-tiba mengalami kerasukan. Semua orang yang berada disana, baik anak-anak maupun orang dewasa, lari ketakutan. Namun, tidak demikian dengan Prana. Dengan berani ia mendekati remaja itu, memegang tubuhnya, memejamkan mata lalu berdoa.

Yang membuat saya tercengang, tidak lama kemudian remaja itu pun tersadar. Membayangkan saya sendiri berusaha mengusir roh jahat yang mustahil. Tetapi, hal itu bisa dilakukan oleh Prana yang usianya belum genap lima tahun.

Pada suatu hari, seorang teman bercerita kepada saya tentang ‘bakat’ anak saya yang disebut – sebut sebagai anak indigo. Ternyata, apa yang dialami anak tersebut sam seperti yang terjadi pada Prana. Akhirnya, saya mulai banyak mencari informasi tentang anak indigo untuk memahaminya, dan sering mengajaknya ngobrol mengenai kemampuannya.

Hasilnya benar-benar membuat saya terkejut. Anak sekecil itu setiap hari menghadapi gangguan dari mahluk halus, yang banyak di antaranya berniat buruk padanya. Pengakuan terbuka Prana menjelaskan, alasannya sering membangunkan kami di tengah malam untuk berdoa adalah karena ia ingin mengusir mahluk halus yang mengganggunya.

Tidak hanya mahluk halus, Prana juga mampu membaca aura seseorang. Suatu hari kami kedatangan seorang tamu,Prana membisiki saya bahwa tamu itu beraura ‘gelap’. Tapi, lalu ia berkata,” Sudah aku doakan kok, Ma, supaya wajahnya jadi terang,” Saya pun bertanya, bagaimana cara ia berdoa, karena pengetahuan agamanya masih untuk ukuran anak-anak, ditambah lagi agama si tamu belum tentu sama dengan kami. Dengan tutur bicara layaknya orang dewasa dia menjawab, “Berdoa bisa dilakukan untuk siapa saja tanpa memandang keyakinannya. Yang penting tujuan kita mendoakan adalah supaya orang itu jadi baik.”

Tanpa pernah diperintah ataupun diajarkan sebelumnya, Prana juga melakukan puasa dan meditasi. Keinginannya berpuasa tidak dapat dihentikan. Ia kuat menahan lapar dan haus. Sering kali saya juga mendapatinya sedang bermeditasi, dimana saja dan kapan saja. Tidak ada yang bisa membuyarkan konsentrasinya.

Ketika menonton televisi pun, tiba-tiba matanya bisa terpejam, dan kedua tangannya tertumpu pada kedua lututnya. Karena spiritualitas yang tinggi ini saya merasa batinnya dekat dengan alam. Gempa bumi, letusan gunung dan banjir, pernah diutarakan kepada saya dan ayahnya, jauh sebelum peristiwa itu terjadi.

Belakangan baru saya ketahui, Prana juga memiliki kemampuan melihat organ tubuh manusia. Dengan cara inilah, saya menyadari ia dapat menyembuhkan orang sakit. Benar saja, sakit di lutut saya yang sudah menahun hilang hanya dengan doa dan sentuhan tangannya. Akibatnya, teman-teman dan sanak keluarga yang kebetulan mengetahui kemampuan Prana, mendatangi rumah kami dan minta didoakan agar sembuh dari suatu penyakit, bahkan untuk bisa bebas dari masalah yang sedang mereka hadapi.

Kadangkala, saya merasa bingung, anak sekecil itu, kok, dipercaya memimpin doa untuk kesembuhan orang dewasa. Tapi, dengan ringan Prana menyebut kemampuannya berkat pertolongan Tuhan.

MENIKMATI BELAJAR DISEKOLAH

Pranaya dan KeluargaBeberapa anak dengan kemampuan khusus seperti Prana, yaitu anak indigo, biasanya menolak untuk sekolah. Untungnya Prana tidak demikian. Ia bisa menikmati keberadaannya bersama lingkungan dan teman-teman sebayanya di sekolah. Hanya, seringkali ia lebih memilih membaca diperpustakaan dibanding bermain bola saat jam istirahat di sekolah. Yang sangat menarik minatnya saat ini adalah hal-hal yang berkaitan dengan ilmu biologi dan asal usul penyakit kanker serta AIDS. Salah seorang teman saya pernah terkaget-kaget oleh penjelasan Prana tentang suatu penyakit.

Prana juga tertarik pada suatu olahraga bela diri yaitu, taekwondo. Beberapa kali ia meraih mendali untuk olahraga satu ini. Sayangnya, selalu mendali perak, tidak pernah emas. Lucunya, saat bertanding dengan ia selalu menunggu lawan mainnya melakukan tendangan berulang-ulang, baru kemudian dia membalas. Kalau saya bertanya alasan ia berbuat itu, jawabannya selalu sama; orang ditendang dulu baru boleh membalas.

Anehnya lagi, entah ini berhubungan atau tidak, sejak berusia lima tahun, Prana sering mengaku bahwa ia dulu adalah seorang panglima perang di negeri Cina. Mungkin, ini merupakan latar belakang mengapa ia menyukai olahraga bela diri, dan juga pernah mengaku pernah menjadi seorang penyembuh di masa lalu. Ceritanya inin sepertinya berkaitan dengan kemampuan serta minatnya yang begitu besar pada penyembuhan penyakit.

Keberadaan anak indigo sering kali diingkari oleh orang tuanya sendiri. Jujur, saya pun pernah mengalaminya. Pada awalnya, saya sempat stres, hingga berkata Tuhan, bila boleh memilih, saya ingin Prana lahir seperti anak normal lainnya. Namun, setelah memahami Prana, anak indigo memang perlu diperlakukan secara khusus, tetapi bukan istimewakan. Bila mereka tidak mendapat perhatian dan dukungan iman, takutnya perkembangan emosi serta spiritualnya bisa kacau.

Saat ini saya dan suami menyadari, Prana diberi karunia Tuhan behitu besar. Saya merasakan, keberadaannya juga dibutuhkan orang lain. Tak sedikit pun ia meminta balasan saat menolong seseorang. Tak pernah ia melupakan janjinya berdoa untuk ke-sembuhan seseorang. Sebagai anak, Prana juga tidak pernah menyusahkan. Justru dia yang banyak membimbing saya supaya lebih dekat kepada Tuhan. Bagaimanapun, semua hanya titipan Tuhan. Kalau Tuhan menghendaki kemampuan Prana harus berhentisampai disini, saya ikhlas. Sama seperti orang tua lain, saya hanya ingin anak saya tumbuh menjadi anak baik dan berguna bagi sesama.

GENERASI INDIGO, REINKARNASI MASA LALU?
Dr.TB.ERWIN KUSUMA, SpKJ (K)
PSIKIATER ANAK.

Lahirnya generasi indigo bisa dikatakan sebagai fenomena alam. Sama seperti halnya hewan, manusia pun mengalami evolusi. Tubuh manusia memiliki tujuh cakra, yang tediri dari cakra dasar (merah), cakra perut (jingga), cakra uluhati(kuning),cakra dada (hijau), cakra leher (biru), cakra dahi (nila),cakra ubun (ungu). Energi yang terpancar adalah energi inframerahyang berasal dari alam, sehingga kasatmata.

Cakra ini berkembang seiring dengan keberadaan manusia di muka bumi. Pada awalnya cakra yang berkembang adalah cakra dasar, yang berkaitan dengan kehidupan nabati. Pada periode ini manusia menemukan api, untuk memasak, makan dan minum. Selanjutnya berkembang cakra perut, yaitu dimulainya kehidupan hewani, ditandai dengan penemuan alat gerak sperti roda, dan alat perang seperti tombak.

Saat ini perkembangan cakra erat kaitanya dengan kehidupan insani, yaitu perkembangan organ nalar. Pada periode sebelumnya organ penalaran ini bisa dikatakan tidak aktif. Cakra campuran leherberwarna biru dengan cakra dasar berwarna merah yang getarannyalebih tinggi satu oktaf, menghasilkanwarna biru gelap atau nila. Warna inilah yang disebut sebagai indigo.Generasi indigo ini banyak muncul menjelang era millenium alias tahun 2000-an.

Tidak mudah memang bila kita menyebut mereka sebagai reinkarnasi orang-orang yang pernah hidup di masa lalu. Namun, kenyataan, beberapa anak indigo memiliki kemampuan berbahasa ataupun kemampuan lain, yang belum pernah diajarkan siapapun sebelumnya.Manusia yang memiliki spiritualitas dan intelektualitas tinggi, setelah mati, lahir kembali dengan sosok yang baru, di antaranya dalam tubuh anak indigo ini, untuk tujuan mulia. Dari segi fisik, anak indigo tidak berbeda dengan anak-anak lain.Tapi, memiliki sifat berbeda dari anak-anak sebayanya. Karena telah melampaui generasi biru(nalar), biasanya mereka mendobrak tradisi yang tidak rasional.

Secara sederhana, misalnya mereka dapat memprotes, mengapa masuk kelas harus berbaris?Sebab, bagi mereka, tanpa berbarispun bisa masuk kelas dengan tertib. Atau, mengapa harus tidur jam 9 malam, kalau besok pagi mereka bisa bagun pagi dan tidak terlambat masuk sekolah.

Kecerdasan anak indigo memang berada diatas rata-rata, sehingga biasanya tidak mau bergaul dengan anak seusianya. Mereka dengan mudah menguasai suatu hal hanya dengan, mengamati tanpa diajarkan. Mereka dapat membaca perasaan, kemauan dan pikiran orang lain, dan lebih tertarik pada hal yang berkaitan dengan alam dan kemanusiaan.Nah, karena yang paling berkembangan adalah sisi spiritual, banyak anak indigo yang mampu menjadi pengajar meditasi, guru spiritual ataupun mengobati penyakit, di usia yang sangat belia.

Anak Indigo bukanlah anak yang sakit jiwa.Mereka sering disebut sebagai gifted chil atau anak yang memiliki ‘bakat khusus’. Karena itu, agar anak indigo tetap ‘membumi’ dan seimbang. Perlu dukungan dan kasih sayang dari orang-orang disekitarnya. Sebab, jika tidak, mereka dapat mengalami ketakutan dan trauma tersendiri. Berikanlah pengertian yang bahwa mereka memang ‘ istimewa’. Perlakukan dengan penuh perhatian dan kasih sayang, agar mereka tetap merasa nyaman. Selain itu, mereka bisa berkembang sesuai dengan keberadaan mereka di dunia, antara lain dengan menolong sesama.

Sumber: Prillia Herawati, Femina – Juni 2007

Permalink 42 Comments

Aku Bisa Menerima Putriku yang Indigo

February 1, 2010 at 5:06 pm (Repost Article) (, , )

indigo.jpgMembesarkan anak indigo tentu membutuhkan kesabaran dan perlakuan yang berbeda dari anak-anak lain. Lanny Indrawati Salim telah merasakan asam dan manisnya membesarkan anak Indigo. Simak penuturannya.

Dulu, saya tak pernah mau berbagi kisal soal Priscilla (14), putri sulung saya yang terbukti indigo. Tadinya saya menganggap dia sebagai anak yang bermasalah. Banyak pertanyaan dari dalm hati saya, mengapa dia berbeda dari anak-anak lain. Namun setelah menemukan jawabannya, barulah saya bisa menerima keadaannya,dan bersedia berbagi cerita pada orang lain.

‘Perjalanan’ saya menemukan jawaban tidaklah singkat. Enam tahun lamanya saya mencari psikiater dan psiokolog yang bisa ‘ membaca’ Priscilla dengan cermat. Suatu hari saya bertemu dengan dr.Erwin Kusuma-psikiater anak di Pro V. Setelah mewawancarai Priscilla, dokter mengatakan bahwa Priscilla cenderung indigo. Untuk memastikannya, dokter membuat foto aura anak saya. Hasil foto menunjukan, cakra ajna alias mata ketiga Priscilla berwarna indigo. Berarti benar, Priscilla anak indigo.

Menolak Diatur
“Saya mulai melihat ada ’sesuatu’ pada Priscilla sejak bersosialisasi, yaitu ketika duduk dibangku Tman Kanak-kanak (TK). Saat itu, dia bersekolah disekolah katolik yang memiliki banyak peraturan. Saya sungguh stres, karena hampir setiap minggu dipanggil oleh gurunya. Katanya Priscilla sangat sulit diatur.

Contoh kecil saja, dia menolak untuk berbaris sebelum masuk kelas.’Mengapa untuk masuk ke satu ruangan saja dipersulit?’ Begitu kata Priscilla. Sayangnya, guru TK Priscilla tak memberi kan penjelasan kepadanya. Karena tak mendapat jawaban yang memuaskan, Priscilla tetap menolak untuk ikut berbaris.

Ketika pelajaran origami ( melipat kertas), Priscilla juga tidak mau mengikuti petunjuk guru.Ia hanya memandangi gurunya yang sibuk melipat kertas. ‘Buat apa kertas itu dilipat-lipat?’ tanya Priscilla. ‘Untuk dijadikan burung.’ jawab gurunya. Bukannya ikut melipat, Priscilla malah menggambar burung dikertasnya! Ia memang gemar menggambar.

Kelakuan Priscilla membuat gurunya naik pitam. Priscilla tak kalah marah.Ia naik ke atas meja sebagai aksi protesnya. Saya pu dipanggil lagi untuk menghadap.
Sebenarnya, Priscilla bisa mengikuti peraturan, asal mendapat penjelasan yang masuk akal. Buktinya, ketika masuk sekolah dasar (SD) internasional, ia mau mengikuti perintah guru untuk belajar melipat kertas, Saat itu, guru menyuruh semua murid melipat kertas menjadi bentuk dompet. Seperti biasa, Priscilla malah menggambar dompet.

Gurunya tidak marah.Beliau menyodorkan uang lima ratus rupiah pada putri saya. ‘Kalau kamu bisa memasukan uang ini ke dalam gambar deompetmu itu, kamu boleh membeli minum di luar,’ tantang sang guru. Setelah berpikir sejenak, Priscilla pun mulai melipat kertasnya.”

Ruh Yang Tua
” Ciri khas Priscilla yang lain adalah kedewasaannya. Suatu hari, pembantu rumah tangga kami mencuri mainan anak saya untuk diberikan kepada anaknya. Saya langsung memecat pembantu itu. Tak disangka, Priscilla yang waktu itu baru berusia 6 tahun memprotes keputusan saya.

‘Ma, ini kan hanya masalah kecil.Kalau mama memecat dia, akan mudah mencari penggantinya.Tapi kalau mama mengembalikan dia ke yayasan tenaga kerja dengan mengatakan dia mencuri, dia tamat. Sebagai manusia, mengapa mama tidak mencoba memaafkan ?Dia mencuri mainan itu karena ia cinta pada anaknya,’ kata Priscilla

Akhirnya saya mengambil jalan tengah, Saya tetap memecat pembantu itu, tapi saya tidak mengatakan alasan sebenarnya pada pemilik yayasan. Si pembantu pun kecipratan nasihat Priscilla. ‘ Ini pelajaran bagus buat kamu. Jangan pernah melakukan perbuatan ini lagi’. Saya pun bingung, mengapa dia bisa begitu dewasa? Mengapa cara bicaranyapun sangat teratur, kaku, dan tidak seperti anak-anak lain?.

Satu lagi yang mengejutkan. Priscilla sering melihat ‘sesuatu’ yang tidak bisa dilihat orang lain. Di sekolah misalnya, tiba-tiba ia berkata, Eh, ada yang lari-lari di lapangan bola!’ padahal waktu itu tak seorang pun yang ada di lapangan itu. Akibat sikap itu, teman-teman Priscilla pun sulit menerimanya. Mereka menganggap aneh dan cenderung menjadikan Priscilla bulan-bulanan.

Mencari Jawaban
‘ Bertahun-tahun’ saya pergi dari satu psikolog ke psikolog lain. Rata-rata jawaban mereka sama : Priscilla cenderung Autis atau ADHD ( attention deficit hyperactive disorder). Jawaban mereka tidak memuaskan saya karena hasil tes Priscilla tidak pernah benar-benar menggolongkan dia sebagai anak autis atau ADHD. Dia hanya dianggap memiliki kecendrungan.

Saya juga pernah mencoba mempelajari tentang energi. Saya belajar prana, merpati putih, sampai hipnotis. Saya ingin mengetahui apa yang sebenarnya kerap dilihat oleh anak saya. Belakangan saya tahu bahwa Priscilla dapat merasakan adanya ruh yang tak tampak oleh orang lain. Terkadang, ruh itu, memrlukan bantuan. Mereka adalah ruh orang-orang yang sudah tiada, tapi belum bisa melanjutkan perjalanan mereka. Dia juga bisa melitah angels of nature, karena setiap hal di alam ini memiliki angel atau pelindung. Seperti pohon, udara, api.

Akhirnya, dari sebuah artikel koran, saya menemukan dr.Erwin Kusuma di klinik Pro V. Di klinik itu pula saya mengenal vicky schippers-penasihat spiritual dari belanda yang bernaung di bawah Edgar Cayce ARE ( association for research and Enlightment) ARE adalah institusi di Virginia, Amerika Serikat ayng aktif melakukan riset medis, termasuk cara menangani anak indigo.

Dari Vicky, Priscilla belajar tentang ‘kekuatan cinta yang murni’. Cinta-lah yang membuat Harry Potter selalu menang melawan musuhnya,’ kata Vicky. Harry Potter adalah tokoh fiksi dalam novel karya JK Rowling-penulis dari Inggris. Priscilla sangat gemar membaca, dan Harry Potter adalah buku favoritnya. Karena itu, ucapan Vicky sangat meresap dalam diri Priscilla.

‘Cinta itu penuh pengorbanan, lemah lembut, tak mengharapkan sesuatu dari orang lain,’ Jelas Vicky. Priscilla pun mulai menerapkan ajaran cinta Vicky. Setiap ada teman yang tak bisa memahaminya , ia berkata ‘ Beginilah aku. Tapi aku tetap menyayangimu sebagai teman.

Priscilla juga diterapi untuk bisa membedakan antara ucapan dan pikiran orang. Putri saya memiliki kepekaan terhadap pikiran dan perasaan orang lain, namun ia tak menyadarinya. Terkadang Priscilla dapat langsung mengomentari pikiran orang lain secara spontan sehingga orang itu kaget. Vicky pun mengajari pada Priscilla bahwa tak ada orang yang mau dibaca pikirannya.

Tidak Istimewa
‘Kini Priscilla lebih nerimo. Ia telah memahami dirinya sebagai anak indigo. Dia juga sudah punya teman, walaupun masih agak susah bergaul. Ia masih cenderung diam dan terkadang bicara sendiri- katanya, dia ngobrol dengan mahluk lain . Namun saya sering mengingatkannya,’ Hei, tempatmu di dunia ini lho! Saya pernah bertanya, Apa kamu tidak takut melihat bentuk mereka? Priscilla menjawab ‘ Jangan pernaha melihat bentuk ma. Mereka hidup karena diciptaan Tuhan.

Biasanya, orang yang memiliki bakat ayng terkait dengan dunia spiritual atau hal-hal gaib dianggap ‘lebih ‘ dari orang lain. Tapi saya tak ingin Priscilla berpikir begitu. Saya ajarkan padanya, semua anak punya kelebihan. Ada yang jago nulis, menyanyi, matematika. Jadi apa yang aneh dari anak indigo? Yang penting adalah moral dan kepribadian. Ada yang mengatakan, anak indigo datang kedunia dengan mengemban satu misi. Tapi menurut saya, semua orang juga punya misi sendiri, bukan hanya anak indigo.

Di keluarga kami, Priscilla tidak diperlakukan istimewa. Ia sama seperti ketiga adiknya. Suami saya yang berpola pikir sangat logis juga tak pernah menganggap Priscilla bermasalah. Bagi suami, yang penting Priscilla bisa mengikuti pelajaran sekolah. Dan memang, Priscilla tidak pernah bermaslah dengan pelajarannya.

Sekarang saya sudah mendapatkan kunci dalam membesarkan Priscilla, yaitu menerima apa adanya. Kita kerap memaksa anak untuk menjadi seperti apa yang kita sukai dan cita-citakan. Padahal anak indigo sulit diprediksi kemana arahnya. Maka saya bebaskan saja dia, selam tidak keluar jalur. Apakah salah bila dia msaih sulit bergaul, enggan berbicara, hanya suka menulis, menggambar komik dan animasi serta nongkrong didepan komputer.

Mungkin dia berbeda, tapi berbeda bukan hal yang jelek. Jika setiap orang tua mau menerima anaknya apa adanya, semua masalah pasti selesai. Kini saya tak lagi merasa terganggu jika ada teman yang bertanya ‘ anak mu kok agak aneh.? Saya bisa menjawab santai,’apanya yang aneh?

Dalam membesarkan Priscilla, saya banyak mendapat pelajaran. Saya seorang wiraswastawan dan pikiran saya biasanya dipenuhi hitungan angka. Kehadiran Priscilla menyadarkan saya bahwa kita harus hidup dengan spiritualitas kita. Hidup tidak untuk mecari dan mengejar materi dunia semata.

Saya juga bergabung dlam grup chanel of love yang dibimbing oleh Vicky Schippers selama satu tahun. Grup kami secara rutin melakukan meditasi dan membahas buku A Search for god dari Edgar Cayce. Kami juga sharing . Intinya adalah mengembangkan diri dan meningkatkan spiritualitas untuk menjadikan diri sendiri yang lebih baik.

Saya bersyukur memiliki Priscilla yang telah mengubah pribadi dan cara pandang saya akan kehidupan ini. Dengan kehadirannya, saya bahkan dapat mengembangkan diri serta meningkatkan spiritualitas dan kesadaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Terima kasih banyak anakku sayang, pribadimu begitu indah bagi aku dan keluarga.

DR.ERWIN KUSUMA-Psikiater anak
Fenomena anak indigo mulai muncul di Amerika pada tahun 1800-an. Saat itu, seorang cenayang bernama Nancy Ann Tabb yang mampu mengenali warna aura manusia melihat banyak anak kecil beraura indigo (nila). Padahal warna aura anak kecil umunya berwarna merah,kuning , atau jingga. Nancy lalu mengumpulkan beberapa psikiater untuk membicarakan fenomena indigo. Meraka menyimpulkan bahwa anak indigo memiliki sifat –sifat tyertentu yang membedakannya dari anak biasa. Sifat ini antara lain; IQ tinggi – minimal 120, dapat melakukan sesuatu yang belumpernah diajarkan, bisa membaca pikiran orang lain serta sangat rasional dan spiritual.

Ada empat tipe anak indigo: interdimensional ( bisa melihat mahluk halus), artis, konseptualis dan humanis. Yang paling banyak dibicarakan orang adalah tipe interdimesional. Namun, tidak semua orang yang bisa melihat mahluk halus adalah anak indigo. Dia hanya bisa digolongkan indigo bila memiliki sifat-sifat indigo lainya. Anak tipe ini kerap dikira autis karena sering bicara sendiri. Bedanya, ocehan anak autis biasanya kacau, sedangkan anak indigo berbicara seperti berdialog dengan seseorang. Anak indigo akan balas memandangan atau memeluk bila ia dipandang atau dipeluk, anak autis belum tentu.

Anak indigo akan menolak bila disuruh melakukan hal yang menurut mereka taka rasional. Namun dengan penjelasan yang logis, mereka bisa menaati peraturan. Tapi mereka kan berontak bila dihadapkan pada hal yang jauh dari spiritual, seperti berkelahi.untuk menentukan seorang nak indigo atau tidak, diperlukan pemeriksaan psikologis,psikiatri dan foto aura.

Sumber : Eyi, Pesona Juni 2007 (lihat http://www.pro-vclinic.web.id/articles/aku-bisa-menerima-putriku-yang-indigo.html)

Permalink 2 Comments

Manusia Tanpa Simbol (referensi buku): Indigostar

January 28, 2010 at 12:38 pm (Psikologi, Repost Article, resensi buku) (, , , )


BANG SEM adalah sosok manusia tanpa simbol yang berhasil menggagas pemikiran filsafat “imagineering” yang dibungkus dalam sosok manusia bintang yang bernama “Indigostar”.

Memang tidak sangkal jika mendengar kata ‘indigo’, persepsi kita menyebutkan sosok anak manusia yang bisa dibilang diluar kenormalan. Tantang anak ‘indigo’, para psikolog menyebut “children of the sun” atau “millennium children” kepada mereka yang memiliki karakteristik yang unik: cerdas, kreatif, sulit diatur. Fenomena ‘indigo’ ini tak jarang disebut kelainan jiwa sehingga memerlukan ‘penyembuhan’ dengan terapi yang intensif agar bisa normal sebagaimana anak lainnya.

Benarkah? Tidak. Bang Sem—N.Syamsuddin Ch.Heasy—melalui buku INDIGOSTAR: Melacak Sosok Manusia Bintang dalam Jagat Rekacita, mencoba merajut dan menyederhanakan konsepsi manusia sempurna modern (insan-kamil-jadid) dengan menunjuk pada berkas cahaya bintang yang memagari bulan.

“Menonjol di antara gugusan bintang. Menampakkan sosoknya laksana enlighter yang cukup menonjol,” tulis Bang Sem.

Dari sanalah Bang Sem kemudian melahirkan sebuah istilah ‘baru’ untuk menyebut sosok manusia (Indonesia) unggul: “manusia-manusia yang penulis asumsikan sebagai ‘Bintang Indigo’ yang selama ini tersaput kabut dan tak tampak di gugusan bintang, yang sedang berpijar di jagat selebritas akademik, dimanjakan media massa (khususnya surat kabar, radio, dan televisi)” (hal. xvii)

Bagaimakah peran dan ciri serta karakteristiknya? Dalam buku yang tebalnya 232 halaman ini, Bang Sem mengulasnya secara komplet, bernas, dan ringan.

Beberapa istilah filsafat, agama, manajemen, dan keorganisasiaan dibahasakan dengan kalimat dan untaian kata yang rileks dan santai. Jika Anda membaca salah satu tema yang terdapat dalam bukunya, Anda akan langsung paham dan mengetahui hal-hal yang harus diperbuat; bahkan segera mengevaluasi diri. Karena memang, isi buku INDIGOSTAR bisa dibilang buku terbuka; yang bisa Anda baca pada bagian mana saja tanpa perlu mengurut dari awal sampai akhir. Tidak seperti buku-buku ilmiah atau novel; yang apabila tidak dibaca keseluruhan tidak akan mengetahui isi atau pesan buku. Anda bisa memulainya dari tengah, akhir, atau loncat-loncat dari satu bagian ke bagian lain.

Nah, mungkin Anda akan sepakat atau tidak, bahkan menyangkal, kesimpulan buku INDIGOSTAR ini bahwa yang disebut manusia unggul—atau insan kamil modern versi saya—adalah manusia yang memiliki kualitas hidup yang prima; yang menjadi penggerak utama perubahan bangsa dan selalu menjadi energi baru bagi lingkungannya mencapai kondisi yang lebih baik.

Anda akan percaya atau tidak, selepas membacanya akan bertanya-tanya: adakah sosoknya di Indonesia?

Permalink Leave a Comment

Next page »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 200 other followers