DNA barcoding: Pendekatan Genetika dalam kajian Indigo

January 27, 2010 at 12:55 pm (Diskusi dari Indigo Community, Repost Article) (, , )

DNA manusia itu juga mencatat apa yang dipelajari seseorang selama hidupnya. Baik itu talent, memori, maupun kebijaksanaan. DNA bertindak sebagai memori pewarisan sifat (fisik maupun behavior) seseorang*.

Maka gak heran bila talenta anchestor kita dapat kita miliki.
Maka gak heran kita pernah merasakan De Ja Vu, karena adanya memori anchestor yang diwarisi kepada kita.
Maka gak heran bila generasi saat ini (indigo, crystal, dan star) memiliki akumulasi kebijaksanaan para anchestor kita. Sehingga pada umur belia mereka sudah memiliki pola pikir dan kecerdasan spiritual yang berbeda dengan anak2 lain seusianya.

Adanya perbedaan anak indigo dan anak non-indigo salah satunya karena dipengaruhi ekspresi DNA tersebut. Pada anak-anak indigo, gen tersebut ditemukan terekspresi saat proses gastrulasi zigot.

*DNA memiliki kekuatan memori 100jt kali memori komputer tercanggih saat ini. Para ilmuan sedang mengembangkan penggunaan DNA sebagai piranti lunak komputer untuk meningkatkan kinerjanya.

Sekadar meresensikan suatu buku yang di tulis oleh Dr. Murakami, yang berjudu:

The Divine Messange of The DNA


Tuhan, DNA dan Kita

Apakah DNA itu dan apa perannya dalam kehidupan kita?
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa DNA berisi semua informasi tiap-tiap makhluk hidup. DNA masing-masing mengendalikan perilaku dasar dari hewan, tumbuhan dan manusia. Ini adalah yang orang ketahui dan percayai sampai sekarang.

Sehingga kebanyakan dari kita berpikir bahwa hidup kita sudah ditentukan hasilnya sejak kelahiran kita. Jadi maksudnya adalah kalau kita mempunyai DNA yang bagus untuk aktifitas seni, maka kita bagaimanapun akan sukses sebagai pekerja seni. Hal ini menyebabkan adanya sikap fatalis yang seolah mendapatkan justifikasi ilimiah.

Mantranya adalah you can’t change it because it is hereditary. It is your destiny …

Benarkah?
Nah, Dr. Murakami dalam buku The Divine Messange of The DNA membuka cakrawala baru dalam konsep DNA.

Dari penelitiannya ditemukan bahwa hasil sebenarnya dari usaha tiap-tiap orang akan sangat bervariasi tergantung pada sikap dan cara pandang mereka.

Bila seorang pasien kanker mempertahankan semangat kuatnya untuk mengalahkan penyakitnya, kemungkinan dia akan survive lebih lama dibanding pasien lainnya yang memandang kanker sebagai suratan nasibnya atau melihat kanker secara keseluruhan sebagai hal yang negative.

Menurut ilmuwan bio-kimia kelas dunia tersebut, banyak dokter menemukan kasus kesembuhan dari kanker yang ganas berkat semangat kuat yang dipertahankan oleh pasien.

Buku tersebut diawali dengan pemaparan dasar mengenai genetika dengan bahasa yang sangat lugas. Murakami kemudian menjelaskan bahwa gen berfungsi dan berubah setiap saat. Gen yang pasif (dormant) mempunyai potensi untuk “bangun” dan mengubah personalitas dan hidup seseorang. Secara sederhana kualitas hidup seseorang bisa ditentukan dengan meng-‘on’ kan gen yang baik dan meng-‘off’ kan gen yang jelek.

Bagian selanjutnya menunjukkan bagaimana faktor mental dan emosional – yang negatif misalnya stress, dan yang positif misalnya kegembiraan, kepuasaan, keikhlasan dan spiritualitas – juga berperan dalam mekanisme nyala-padamnya gen-gen. Yang juga menjadi highlight dari buku ini adalah ternyata hanya sebagian kecil gen yang aktif.

Dengan kata lain, manusia –siapa pun dia – mempunyai potensi terpendam yang luar biasa.

Pikiran yang positif maupun cara memandang hidup yang optimis (yang selama ini lebih banyak dibahas dalam aras telaah ilmu psikologi) dapat mengaktifkan gen yang mampu membawa kebahagiaan dan kesuksesan dalam hidup seseorang.

Dr. Murakami menyebut hal tersebut sebagai “genetic thinking” (berpikir genetic) yaitu suatu pendekatan berbasis sains untuk mengendalikan gen dengan menanamkan inspirasi dan pikiran optimis.

Ok, itu tadi ulasan singkat dari sisi dunia medis.
Tapi ada yang lebih dari buku ini, yaitu sisi spiritualitas yang diangkat.
Menarik sekali bahwa Murakami yang dibesarkan, berkarir dan hidup di dunia modern mempunyai statement sebagai berikut: Orang modern cenderung untuk merasionalisasi semua hal, sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk bisa melihat aspek spiritual yang “beyond rationale”.

Buku ini mempunyai judul asli “The divine code of Life: awaken your genes and discover hidden talents” dan tersedia di Amazon.com. Buku terjemahannya dalam bahasa Indonesia mempunyai cover dan judul yang lebih hidup. Menurutku, buku ini layak dibaca oleh siapa pun yang ingin membuat hidupnya lebih berarti dan bahagia.

Arya Sencaki, Indigo Community November 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: