Aku Bisa Menerima Putriku yang Indigo

February 1, 2010 at 5:06 pm (Repost Article) (, , )

indigo.jpgMembesarkan anak indigo tentu membutuhkan kesabaran dan perlakuan yang berbeda dari anak-anak lain. Lanny Indrawati Salim telah merasakan asam dan manisnya membesarkan anak Indigo. Simak penuturannya.

Dulu, saya tak pernah mau berbagi kisal soal Priscilla (14), putri sulung saya yang terbukti indigo. Tadinya saya menganggap dia sebagai anak yang bermasalah. Banyak pertanyaan dari dalm hati saya, mengapa dia berbeda dari anak-anak lain. Namun setelah menemukan jawabannya, barulah saya bisa menerima keadaannya,dan bersedia berbagi cerita pada orang lain.

‘Perjalanan’ saya menemukan jawaban tidaklah singkat. Enam tahun lamanya saya mencari psikiater dan psiokolog yang bisa ‘ membaca’ Priscilla dengan cermat. Suatu hari saya bertemu dengan dr.Erwin Kusuma-psikiater anak di Pro V. Setelah mewawancarai Priscilla, dokter mengatakan bahwa Priscilla cenderung indigo. Untuk memastikannya, dokter membuat foto aura anak saya. Hasil foto menunjukan, cakra ajna alias mata ketiga Priscilla berwarna indigo. Berarti benar, Priscilla anak indigo.

Menolak Diatur
“Saya mulai melihat ada ’sesuatu’ pada Priscilla sejak bersosialisasi, yaitu ketika duduk dibangku Tman Kanak-kanak (TK). Saat itu, dia bersekolah disekolah katolik yang memiliki banyak peraturan. Saya sungguh stres, karena hampir setiap minggu dipanggil oleh gurunya. Katanya Priscilla sangat sulit diatur.

Contoh kecil saja, dia menolak untuk berbaris sebelum masuk kelas.’Mengapa untuk masuk ke satu ruangan saja dipersulit?’ Begitu kata Priscilla. Sayangnya, guru TK Priscilla tak memberi kan penjelasan kepadanya. Karena tak mendapat jawaban yang memuaskan, Priscilla tetap menolak untuk ikut berbaris.

Ketika pelajaran origami ( melipat kertas), Priscilla juga tidak mau mengikuti petunjuk guru.Ia hanya memandangi gurunya yang sibuk melipat kertas. ‘Buat apa kertas itu dilipat-lipat?’ tanya Priscilla. ‘Untuk dijadikan burung.’ jawab gurunya. Bukannya ikut melipat, Priscilla malah menggambar burung dikertasnya! Ia memang gemar menggambar.

Kelakuan Priscilla membuat gurunya naik pitam. Priscilla tak kalah marah.Ia naik ke atas meja sebagai aksi protesnya. Saya pu dipanggil lagi untuk menghadap.
Sebenarnya, Priscilla bisa mengikuti peraturan, asal mendapat penjelasan yang masuk akal. Buktinya, ketika masuk sekolah dasar (SD) internasional, ia mau mengikuti perintah guru untuk belajar melipat kertas, Saat itu, guru menyuruh semua murid melipat kertas menjadi bentuk dompet. Seperti biasa, Priscilla malah menggambar dompet.

Gurunya tidak marah.Beliau menyodorkan uang lima ratus rupiah pada putri saya. ‘Kalau kamu bisa memasukan uang ini ke dalam gambar deompetmu itu, kamu boleh membeli minum di luar,’ tantang sang guru. Setelah berpikir sejenak, Priscilla pun mulai melipat kertasnya.”

Ruh Yang Tua
” Ciri khas Priscilla yang lain adalah kedewasaannya. Suatu hari, pembantu rumah tangga kami mencuri mainan anak saya untuk diberikan kepada anaknya. Saya langsung memecat pembantu itu. Tak disangka, Priscilla yang waktu itu baru berusia 6 tahun memprotes keputusan saya.

‘Ma, ini kan hanya masalah kecil.Kalau mama memecat dia, akan mudah mencari penggantinya.Tapi kalau mama mengembalikan dia ke yayasan tenaga kerja dengan mengatakan dia mencuri, dia tamat. Sebagai manusia, mengapa mama tidak mencoba memaafkan ?Dia mencuri mainan itu karena ia cinta pada anaknya,’ kata Priscilla

Akhirnya saya mengambil jalan tengah, Saya tetap memecat pembantu itu, tapi saya tidak mengatakan alasan sebenarnya pada pemilik yayasan. Si pembantu pun kecipratan nasihat Priscilla. ‘ Ini pelajaran bagus buat kamu. Jangan pernah melakukan perbuatan ini lagi’. Saya pun bingung, mengapa dia bisa begitu dewasa? Mengapa cara bicaranyapun sangat teratur, kaku, dan tidak seperti anak-anak lain?.

Satu lagi yang mengejutkan. Priscilla sering melihat ‘sesuatu’ yang tidak bisa dilihat orang lain. Di sekolah misalnya, tiba-tiba ia berkata, Eh, ada yang lari-lari di lapangan bola!’ padahal waktu itu tak seorang pun yang ada di lapangan itu. Akibat sikap itu, teman-teman Priscilla pun sulit menerimanya. Mereka menganggap aneh dan cenderung menjadikan Priscilla bulan-bulanan.

Mencari Jawaban
‘ Bertahun-tahun’ saya pergi dari satu psikolog ke psikolog lain. Rata-rata jawaban mereka sama : Priscilla cenderung Autis atau ADHD ( attention deficit hyperactive disorder). Jawaban mereka tidak memuaskan saya karena hasil tes Priscilla tidak pernah benar-benar menggolongkan dia sebagai anak autis atau ADHD. Dia hanya dianggap memiliki kecendrungan.

Saya juga pernah mencoba mempelajari tentang energi. Saya belajar prana, merpati putih, sampai hipnotis. Saya ingin mengetahui apa yang sebenarnya kerap dilihat oleh anak saya. Belakangan saya tahu bahwa Priscilla dapat merasakan adanya ruh yang tak tampak oleh orang lain. Terkadang, ruh itu, memrlukan bantuan. Mereka adalah ruh orang-orang yang sudah tiada, tapi belum bisa melanjutkan perjalanan mereka. Dia juga bisa melitah angels of nature, karena setiap hal di alam ini memiliki angel atau pelindung. Seperti pohon, udara, api.

Akhirnya, dari sebuah artikel koran, saya menemukan dr.Erwin Kusuma di klinik Pro V. Di klinik itu pula saya mengenal vicky schippers-penasihat spiritual dari belanda yang bernaung di bawah Edgar Cayce ARE ( association for research and Enlightment) ARE adalah institusi di Virginia, Amerika Serikat ayng aktif melakukan riset medis, termasuk cara menangani anak indigo.

Dari Vicky, Priscilla belajar tentang ‘kekuatan cinta yang murni’. Cinta-lah yang membuat Harry Potter selalu menang melawan musuhnya,’ kata Vicky. Harry Potter adalah tokoh fiksi dalam novel karya JK Rowling-penulis dari Inggris. Priscilla sangat gemar membaca, dan Harry Potter adalah buku favoritnya. Karena itu, ucapan Vicky sangat meresap dalam diri Priscilla.

‘Cinta itu penuh pengorbanan, lemah lembut, tak mengharapkan sesuatu dari orang lain,’ Jelas Vicky. Priscilla pun mulai menerapkan ajaran cinta Vicky. Setiap ada teman yang tak bisa memahaminya , ia berkata ‘ Beginilah aku. Tapi aku tetap menyayangimu sebagai teman.

Priscilla juga diterapi untuk bisa membedakan antara ucapan dan pikiran orang. Putri saya memiliki kepekaan terhadap pikiran dan perasaan orang lain, namun ia tak menyadarinya. Terkadang Priscilla dapat langsung mengomentari pikiran orang lain secara spontan sehingga orang itu kaget. Vicky pun mengajari pada Priscilla bahwa tak ada orang yang mau dibaca pikirannya.

Tidak Istimewa
‘Kini Priscilla lebih nerimo. Ia telah memahami dirinya sebagai anak indigo. Dia juga sudah punya teman, walaupun masih agak susah bergaul. Ia masih cenderung diam dan terkadang bicara sendiri- katanya, dia ngobrol dengan mahluk lain . Namun saya sering mengingatkannya,’ Hei, tempatmu di dunia ini lho! Saya pernah bertanya, Apa kamu tidak takut melihat bentuk mereka? Priscilla menjawab ‘ Jangan pernaha melihat bentuk ma. Mereka hidup karena diciptaan Tuhan.

Biasanya, orang yang memiliki bakat ayng terkait dengan dunia spiritual atau hal-hal gaib dianggap ‘lebih ‘ dari orang lain. Tapi saya tak ingin Priscilla berpikir begitu. Saya ajarkan padanya, semua anak punya kelebihan. Ada yang jago nulis, menyanyi, matematika. Jadi apa yang aneh dari anak indigo? Yang penting adalah moral dan kepribadian. Ada yang mengatakan, anak indigo datang kedunia dengan mengemban satu misi. Tapi menurut saya, semua orang juga punya misi sendiri, bukan hanya anak indigo.

Di keluarga kami, Priscilla tidak diperlakukan istimewa. Ia sama seperti ketiga adiknya. Suami saya yang berpola pikir sangat logis juga tak pernah menganggap Priscilla bermasalah. Bagi suami, yang penting Priscilla bisa mengikuti pelajaran sekolah. Dan memang, Priscilla tidak pernah bermaslah dengan pelajarannya.

Sekarang saya sudah mendapatkan kunci dalam membesarkan Priscilla, yaitu menerima apa adanya. Kita kerap memaksa anak untuk menjadi seperti apa yang kita sukai dan cita-citakan. Padahal anak indigo sulit diprediksi kemana arahnya. Maka saya bebaskan saja dia, selam tidak keluar jalur. Apakah salah bila dia msaih sulit bergaul, enggan berbicara, hanya suka menulis, menggambar komik dan animasi serta nongkrong didepan komputer.

Mungkin dia berbeda, tapi berbeda bukan hal yang jelek. Jika setiap orang tua mau menerima anaknya apa adanya, semua masalah pasti selesai. Kini saya tak lagi merasa terganggu jika ada teman yang bertanya ‘ anak mu kok agak aneh.? Saya bisa menjawab santai,’apanya yang aneh?

Dalam membesarkan Priscilla, saya banyak mendapat pelajaran. Saya seorang wiraswastawan dan pikiran saya biasanya dipenuhi hitungan angka. Kehadiran Priscilla menyadarkan saya bahwa kita harus hidup dengan spiritualitas kita. Hidup tidak untuk mecari dan mengejar materi dunia semata.

Saya juga bergabung dlam grup chanel of love yang dibimbing oleh Vicky Schippers selama satu tahun. Grup kami secara rutin melakukan meditasi dan membahas buku A Search for god dari Edgar Cayce. Kami juga sharing . Intinya adalah mengembangkan diri dan meningkatkan spiritualitas untuk menjadikan diri sendiri yang lebih baik.

Saya bersyukur memiliki Priscilla yang telah mengubah pribadi dan cara pandang saya akan kehidupan ini. Dengan kehadirannya, saya bahkan dapat mengembangkan diri serta meningkatkan spiritualitas dan kesadaran untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Terima kasih banyak anakku sayang, pribadimu begitu indah bagi aku dan keluarga.

DR.ERWIN KUSUMA-Psikiater anak
Fenomena anak indigo mulai muncul di Amerika pada tahun 1800-an. Saat itu, seorang cenayang bernama Nancy Ann Tabb yang mampu mengenali warna aura manusia melihat banyak anak kecil beraura indigo (nila). Padahal warna aura anak kecil umunya berwarna merah,kuning , atau jingga. Nancy lalu mengumpulkan beberapa psikiater untuk membicarakan fenomena indigo. Meraka menyimpulkan bahwa anak indigo memiliki sifat –sifat tyertentu yang membedakannya dari anak biasa. Sifat ini antara lain; IQ tinggi – minimal 120, dapat melakukan sesuatu yang belumpernah diajarkan, bisa membaca pikiran orang lain serta sangat rasional dan spiritual.

Ada empat tipe anak indigo: interdimensional ( bisa melihat mahluk halus), artis, konseptualis dan humanis. Yang paling banyak dibicarakan orang adalah tipe interdimesional. Namun, tidak semua orang yang bisa melihat mahluk halus adalah anak indigo. Dia hanya bisa digolongkan indigo bila memiliki sifat-sifat indigo lainya. Anak tipe ini kerap dikira autis karena sering bicara sendiri. Bedanya, ocehan anak autis biasanya kacau, sedangkan anak indigo berbicara seperti berdialog dengan seseorang. Anak indigo akan balas memandangan atau memeluk bila ia dipandang atau dipeluk, anak autis belum tentu.

Anak indigo akan menolak bila disuruh melakukan hal yang menurut mereka taka rasional. Namun dengan penjelasan yang logis, mereka bisa menaati peraturan. Tapi mereka kan berontak bila dihadapkan pada hal yang jauh dari spiritual, seperti berkelahi.untuk menentukan seorang nak indigo atau tidak, diperlukan pemeriksaan psikologis,psikiatri dan foto aura.

Sumber : Eyi, Pesona Juni 2007 (lihat http://www.pro-vclinic.web.id/articles/aku-bisa-menerima-putriku-yang-indigo.html)

2 Comments

  1. HElena Lili said,

    Tx tulisan2 ini banyak mambantu dan mensupport sy u mencari tau dan dapat mendampingi anak kami yang ke 3 yang mempunyai banyak persamaan dgn sharing ttg Prisilia … TX saya merasa ssangat dikuatkan…

  2. BOB said,

    anakku sudah mau 5 tahun dia blm bisa bicara, tingkahnya aneh ia lebih suka dg kegiatan orang dewasa sprti: memasak, menyapu,mengepel. ia lebih suka menonton film bukan kartun. Apakah ada yg salah dg anak saya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: