Generasi Baru Pembawa Harapan

February 1, 2010 at 5:29 pm (Psikologi, Repost Article) (, )

indigomediaindonesia0906.jpgGenerasi baru telah lahir. Mereka disebut sebagai anak-anak indigo. Dan, yang terbaru adalah kemunculan anak-anak kristal. Keberadaan mereka menimbulkan harapan baru akan munculnya generasi yang lebih baik, sehingga bias memperbaiki carut-marut dunia.

Apa yang dimaksu anak indigo? Siapa mereka? Dr.Tb.Erwin Kusuma, SpKJ psikiater yang juga mendalami masalah spiritual mengatakan, fenomena anak indigo mulai menjadi perhatian serius kalangan ilmuan sejak 20 tahun lalu. Sedangkan di Indonesia baru empat tahun terakhir ini.

Anak indigo menarik perhatian banyak pihak lantaran tidak bisa dijelaskan melalui paradigma ilmu psikologi. Akibatnya, mereka sering mendapat cap menderita autis atau dianggap anak aneh. Padahal, anak indigo hanya berbeda disbanding anak lain.

Mereka kerap menunjukkan kebiasaan atau kepribadian yang jauh lebih matang dari usianya. Misalnya, mampu melihat atau mendengar sesuatu yang tidak bisa dilihat atau didengar orang lain. Memiliki tatapan mata yang dalam, tenang dan menunjukan kebijaksanaan yang sering muncul lewat kata-kata.

Umumnya, anak indigo memiliki IQ di atas rata-rata, antara 125-130. Namun, disisi lain kerap terlihat asyik berbicara sendiri, enggan diatur, bahkan ada yang emnolka tatanan umum, seperti malas sekolah. “ Anak indigo mempunyai visiuntuk mengubah tatanan manusia dan bumi menjadi lebih baik “ Jelas Erwin.

Fenomena dan misi itu sebenarnya bias diterima akal, bila merujuk pada teori evolusi Darwin. Disebutkan bahwa fisik dan kecerdasan manusia akan berkembang menjadi lebih baik pada setiap perubahan generasi. “ Jika Darwin lebih ke fisik dan kecerdasan, maka perkembangan anak indigo lebih ke spiritual” tutur Erwin.

Keberadaan anak indigo juga dikemukanan psikolog Sartono Mukadis. Namun menurutnya masih menjadi wacana yang belakangan kian berkembang pesat. “Sulit dikatakan, karena tes-tes piskologi tidak mampu menjelaskan eksistensi anak indigo, “ katanya.

Apa yang dikemukakan Erwin dan Sartono diamini Rosini 40. Rosini adalah indigo dewasa, biasanya disebut dengan istila vanguard. Dia menegaskan, anak indigo memang sering divonis sebagai anak aneh dan terkadang autistik. Ada yang memiliki kepandaian luar biasa dan sangat berbakat dalam satu bidang, tapi menolak mentah-mentah bila disuruh berangkat sekolah, dan cepat bosan melakukan rutinitas. Salah satu ciri generasi yang memenag berkaitan dengan sikap memberontak dan kedisiplinan.

Dilahirkan dengan misi mengubah tatanan yang ada dan menjadikan kondisi bumi jadi lebih baik. Proses perubahannya dilakukan secra bertahap, bisa diibaratkan sebagai generasi pembuka jalan. Oleh karena itu sering kali mereka mengalami perselisihan dengan orang tua dan masyarakat dilingkungannya. Karena masalah itu, akhirnya mereka sering dianggap aneh.

Belakangan ini, ada wacana crystal children atau anak kristal. Biasanya lahir dari orangtua yang memiliki spiritual tinggi, atau dari orang tua indigo. Kecendrungan sikap memberontak anak kristal jauh berkurang. „ Ibaratnya mereka bertugas merapikan jalan yang sudah dirintis anak-anak indigo,“ tutur Rosini.

Indra Keenam
Kata indigo berasal dari bahasa Spanyol. Pemakaian istilah indigo dimunculkan pertama kali oleh konseler Amerika Serikat (AS) Nancy Ann Tappe pada 1982, didukung psikiater dr. Mc Greggor. Kata indigo yang berarti ungu digunakan karen anak indigo memiliki aura nila di dahi atau di antara kedua alis mata. Dalam bahasa Sansekerta dikenal dengan cakra jaja atau mata ketiga. Sementara itu, anak kristal memiliki aura bening di dahinya.

Menurut Erwin, aura itu sering dikaitkan dengan hormon hipofisis dan hormon epificis di otak. Mata ketiga ini juga sering dikaitkan dengan indera keenam atau extra- sensory perception (ESP) yang berkaitan dengan kemampuan visionare.

Lalu, bagaimana cara mengetahui warn aura anak indigo dan kristal? Kini sudah berkembang alat pemotret atu pembaca aura yang disebut dengan Aura Video Station (AVS). Di Indonesia, alat ini baru ada satu, dioperaori oleh pemiliknya, Tom Suhalim dan drg. Hendra Kristianto.

AVS menurut Hendra memiliki sensitivitas sangat tinggi berdasarkan gerakan subjek. Terdiri dari seperangkat personal –computer (pc), kamera video, printer laser warna dan pembaca tangan. Caranya menempelkan telapak tangan kiri pada pembaca aura sambil wajah menghadap ke kamera video. Selanjutnya, layer monitor akan menampilkan warna aura dan makna warna bagi karakter seseorang. Teknologi ini menggunakan sistem biofeedback multimedia.

Menurut Hendra, setiap orang memiliki warna aura tersendiri. Hanya saja, anak indigo memiliki warna khusus yang dia sebut biru tua. Pemilik warna ini biasanya memiliki perasaan dalam penuh kejelasan, kasih, pencari kebenaran tertutup, artistic dan memiliki nilai-nilai mendalam.

Meski anak indigo mempunyai aura nila, pemilik aura ini belum tentu masuk kategori indigo. Erwin mengatakan, ada tiga tahapan tes untuk mengetahui indigo atau bukan. Yaitu wawancara psikiater, evaluasi psikologi, dan foto aura dengan AVS.

Tapi yang jelas, informasi tentang fenomena ini harus disebarluaskan. Dengan demikian, orang tua dan guru bisa lebih memahami kondisi anak indigo. Sedangkan anak itu sendiri juga bisa memahami keadaan dirinya. Ada orang tua yang meminta kemampuan anaknya ditutup saja. Tapi kami tidak mau melakukan. Itu bertentangan dengan alam dan bisa membuat anak menjadi beringas. Hal-hal seperti itu harus dipahami.“ Papar Erwin.

Hal senada juga dikemukakan Rosini. Secara pribadi, Rosini berharap anak-anak indigo bias lebih cepat menemukan dirinya sendiri. “ Karena alasan itu saya bekerja di klinik Pro V. Jangan sampai mereka harus lama mencari jati diri seperti yang saya alami,” katanya.

Klinik Pro V sendiri melayani konsultasi dengan tujuan memberikan kesadaran keadaan diri pada anak indigo. Mereka juga akan diberi latihan meditasi dan penegndalian serta penggunaan energinya untuk hal positif.

Ciri –ciri Anak Indigo
APAKAH anak saya masuk kategori indigo? Pertanyaan seperti itu sering kali menyeruak di benak orang tua yang sudah pernah membaca atau mengetahui fenomena tersebut. Berikut ada panduan dari situs metagifled.org tentang ciri-ciri umum anak indigo.

* Kepercayaan diri tinggi
* Ada masalah dengan kedisiplinan
* Menolak perintah atau pengarahan
* Tidak sabar mengantre merupakan siksaan
* Kreatif
* Memiliki antusias yang kuat
* Memiliki tatapan yang bijak dan dalam
* Memiliki empati yang sangat kuat terhadap orang lain atau tidak sama sekali
* Memiliki kekuatan batin dan/atau kecerdasan spiritual
* Memiliki kekatau untuk melihat kejadian di waktu yang akan datang
* Membenci hal-hal yang bersifat rutin
* Tidak patuh pada norma-norma social
* Memiliki bakat tertentu
* Biasanya sangat cerdas
* Cepat bosan

Bagaimana Menghadapi Mereka?

Anak indigo memiliki banyak kekhususan yang terkadang tidak dimengerti oleh masyarakat sekeliling, bahkan orang tuanya sendiri. Karena itu, cobalah untuk lebih memahami mereka. Situs metagifled.org memberikan beberapa tips bagi orang tua yang memiliki anak indigo.

1. Jujur. Berikan penjelasan lengkap atas kecerdasan dan kematangan yang mereka miliki.
2. Jangan manipulasi
3. Tunjukan rasa hormat. Meski usianya muda, secara spiritual anak indigo lebih bijaksana oleh sebab itu,perlakuan sederajat akan membuat mereka merasa dihormati dan dihargai.
4. Berikan dorongan untuk mandiri, semisal memilih pakaian sendiri atau mengajarkan mandi sejak dini
5. Hargai kekuatan batin yang dimiliki anak indigo. Bantulah mengembangkan bakat luar biasa mereka dengan mengikutsertakan kursus dan memberikan latihan serta dorongan.
6. Ajari mereka cara mengendalikan kekuatan batin. Para anak indigo memiliki emosi yang sangat sensitif. Mereka kerap mengalami perubahan suasana hati yang parah, tergantung suasana di sekelilingnya. Latihan pengendalian energi untuk penyembuhan akan membantu hal ini.
7. Ajari cara relaksasi dan meditasi. Ini akan membantu anak indigo mengatur hidup, menemukan keseimbangan dan menghubungkan antara dua dunia nyata dan spiritual.
8. Hormati kekuatan fisik dan emosinya. Meskipun terdengar agak ekstrem dan tidak biasa, namun anak indigo butuh toleransi dan pertolongan orangtua untuk memahami perasaan mereka yang sensitif.
9. Berikan terapi lain untuk menangani gelas autis, bila memang disertai dengan gejala tersebut. Jangan berikan pengobatan dengan ritalin, berikan tambahan vitamin, dan sari bunga. Khusus bagi mereka yang enggan bersekolah, berikan alternatif belajar lain.
10. Bantulah mereka memahami tujuan hidup dan kebiasaan anak indigo pada umumnya. Mereka hadir karena suatu alasan yang belum dapat dijelaskan hingga saat ini. Kemampuan mereka dipercaya bisa membawa kekuatan baru dan menjadikan dunia lebih baik. Selama belum adanya jawabannya, anak indigo akan kesulitan dengan sifat mereka yang sangat sensitif dan berbeda dari orang kebanyakan, dengan bantuan yang benar anak indigo bisa lebih memahami perbedaan mereka dengan orang kebanyakan.

Zaitun Melihat Rumah Surga

Klinik Pro V merupakan salah satu atau mungkin baru satu-satunya klinik yang memahami dan menangani fenomena anak indigo di Indonesia. Mereka tidak hanya memberikan konsultasi, teatpi juga menjadi fasilitator semacam kelompok diskusi bagi orang tua yang memiliki anak indigo dan untuk anak-anak itu sendiri.

Latzia, seorang ibu yang memiliki anak indigo mengaku memperoleh banyak manfaat dari kelompok tersebut. Dia bisa berbagi cerita dan mendapatkan informasi berharga dari orangtua lain yang memiliki anak indigo. Dalam sebuah pertemuan akhir minggu lalu, Latzia menceritakan bagaimana perjuangan keluarganya mencari ‚kesembuhan’ bagi zaitun buah hatinya, sebelum mengetahui anaknya masuk kategori indigo.

Sejak dua tahun lalu, Latzia sudah melihat keanehan perilaku putrinya zaitun yang kini berusia lima tahun . selain sering menunjukan kebijakan yang melebihi usia, Zaitun juga kerap kali bercerita melihat mahluk-mahluk aneh.

Pernah saat berlibur bersama seluruh keluarga di puncak, Jawa Barat. Putri bungsunya tiba-tiba menangis tiada hentinya hsampai kejang. Karena tidak tega, Latzia memutuskan membawa pulang putrinya. Dalam perjalanan, Zaitun bercerita bahwa dia emlihat mahluk berbulu tinggi besar sampai mencapai atap rumah

Kejadian itu terus berulang, bahkan tanpa sebab jelas, putrinya kejang-kejang. Latziapun berusaha mencari kesembuhan. Mulai dari dokter, psikiater hingga paranormal didatangi. Namun, tidak juga membawa hasil. Seorang psikiater kondang di Jakarta, mengatakan, anaknya menderita epilepsi. Sementara itu sekitar 20-an paranormal yang didatangi tidak bisa memberikan jalan keluar. „Puluhan juta rupiah sudah kami keluarkan, tapi tidak ada hasil. Anak saya tetap sering melihat mahluk-mahluk halus dan mengalami kejang” cerita Latzia.

Baru-baru ini juga terjadi peristiwa yang membuat Latzia kebingungan. Pasalnya putrinya terlihat sangat terpukul. Saat itu, Zaitun yang duduk di kelas TK B tengah mengikuti pelajaran menggambarkan. Anak perempuan cantik dan lucu itu mencoret-coret ketas putih dengan tangan kidalnya. Dia menggambar sebuah rumah.

Salah seorang guru menghampiri Zaitun sambil menanyakan gambar apa yang dibuatnya. Sambil memamerkan sederetan giginya yang putih, Zaitun menjawab sedang menggambarkan rumah surga ?” Begitu tanyanya saat itu.

Yang dutanya pun segera menjawab mau. Selang sehari kemudian guru tersebut meninggal dunia. Zaitun tampak semangat terpukul dengan peristiwa itu. “Almarhumah memang sangat dekat dengan putrid saya, “ cerita Latzia.

Hari-hari berikutnya, zaitun menjadi enggan berangkat ke sekolah. Wajahnya selalu murung. Latziakerap menemukan putrinya mengurung diri dalam lemari pakaian. Kalau ditanya, selalu menjawab sedangkan bermain dengan hantu.

Di tengah kebingungan yang dihadapi, Latzia mendapat saran dari Leo Lumanto, salah satu paranormal yang didatanginya untuk membawa Zaitun ke klinik Pro V. „ Di sinilah saya mendapat jawaban tentang kondisi anak saya. Di klinik ini, kami melakukan konsultasi dan anak saya dibantu untuk memahami dirinya,“ tutur Latzia

Zaitun adalah satu dari sekitar 30-an anak indigo yang datang ke klinik tersebut. Masih banyak zaitun-zaitun lain yang membutuhkan pertolongan. Sebab seringkali ketidaktahuan membuat anak indigo divonis menderita autisme, epilepsi, atau dicap sebagai anak aneh. Dalam hal ini bituhkan kepekaan dan bantuan dari orang tuanya.

Sumber : Lng, Media Indonesia September 2004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: