Lihat Almarhum Opa Datang Ke Pesta Ultah (Artikel dari Klinik Provital)

February 1, 2010 at 5:23 pm (Repost Article) (, )

indigoindopos0307.jpg

Fenomena anak indigo makin banyak muncul ditengah masyarakat. Sayang, hingga saat ini belum banyak yang memberikan perhatian bagi pendidikan anak-anak berbakat yang diyakini memiliki indera keenam itu.

Hari itu, 8 Agustus 2004, Riska Milandari sedang mengadakan pesta kecil merayakan ulang tahun ke-36. suasana bahagia melingkupi rumah keluarga di kawasan Pondok Jaya Raya, Mampang, Jakarta Selatani,tu.namun suasana sedikit berubah ketika tasya, putrinya yang berusia 2,5 tahun, berujar bahwa sanga opa( kakek Tasya) ikut datang kedalam pesta. “ Kami kaget karena opa sudah meninggal,” kata Riska. Tetapi, Tasya bersikukuh bahwa opah ada dan sedang bediri diruang tamu. Agar tak mengecewakan si buah hati, Riska pun memenuhi keinginan putrinya untuk “ seakan-akan” melihat sang kakek.

“Ya, sering-sering memang begitu, Tasya biasa melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain, “ kata Riska. Pengalaman melihat opa yang sebetulnya sudah meninggal itu hanya sedikit kisah di antara banyak “ kelebihan” descka Putri Anastasya- nama lengkap Tasya. Menurut Riska, Tasya mempunyai kelebihan kemampuan unik yang disebut sebagai anak indigo.

Awalnya, dia tak menduga bahwa tasya termasuk indigo. Namun, setelah menceritakan kondisi putrinya dengan seorang guru besar di Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, barulah ia menyadari bahwa Tasya memiliki kemampuan khusus itu.

Sejak kecil, Tasya berbeda dengan balita seusianya tiga bulan, dia sudah memegang botol susu sendiri. “ Tasya menolak kalau dipegangi ( botolnya), “ kata Riska yang berprofesi sebagai konsultan psikologi sebuah perusahaan swasta. Memasuki usai lima bulan, giginya sudah tumbuh. “ Usia delapan bullan sudah bisa ngomong” lanjutnya.

Selain itu, Tasya sering berbicara sendiri seolah-olah menghadapi lawan bicara. Dia berperilaku seperti itu ketika sedang berada di gudang atau belakang rumah. Yang menjadi lawan bicara kadang figure yang menyeramkan. “ Suatu kali, di belakang rumah, Tasya mengaku bertemu dengan orang yang wajahnya penuh darah, “ kata Riska.

Wanita asal Bandung itu yakin bahwa itu bukan khayalan sang anak. Sebab, bagi anak seusia Tasya, khayalan adalah sesuatu yang indah. “ peri atau putrid, misalnya,” jelasnya. Chandra Rasyid, ayah Tasya, juga mengaku pernah mendapat pengalaman unik bersama anaknyayang diyakini mempunyai ciri khas indigo, yang mempunyai mata ketiga atau indera keenam. Waktu itu dia sedang mengendarai mobil di tol Cipularang. Saat melintasi perbukitan dijalan bebsa hambatan itu, Tasya berteriak.

Menurut Chandra, Tasya mengaku melihat orang sedang duduk bertapa. Padahal, ketika itu tidak tampak apapun selain pemandangan bukit dan jalan tol itu. Namun, ketika Chandra berusaha mencari tahu, di wilayah itu sering digunakan orang-orang yang sedang ‘ berusaha’ untuk meningkatkan ilmu.

Tasya, juga sering punya firasat yang kemudian jadi kenyataan. Chandra mencontohkan, suatu ketika putrinya mengatakan bahwa oma sedang sakit dan mamanya diminta untuk menghubungi segera. “ Benar saja, saat di telpon ternyata oma sedang sakit,” tutur Chandra yang bekerja sebagai anggota Badan SAR Nasional itu.

Perkatan-perkatan Tasya sering benar, dimanfaatkan untuk memberi prediksi. Misalnya, ketika keluarganya sedang menonton pertandingan bola di televisi. “ Saya lupa waktu itu Jerman lawan siapa. Tapi, diminta untuk menendang bola dengan kaki kanan jika menang Jerman dan kaki kiri kalau yang menang lawanya dan, tebakan Tasya benar, “ cerita Riska.

Chandra maupun Riska mengakui, anaknya yang tanggal kelahirannya juga unik (2-2-2002) itu sering berpikir jauh lebih dewasa ( old soul) yang menjadi cirri khas anak indigo dibanding dengan anak sebayanya. Ketika berusia tiga tahun, misalnya Tasya sudah mampu menghibur hati mamanya,”sudahlah ma, jangan dipikirin, “ kenang Riska.

Fenomena anak indigo juga ditemui pada keluarga Syahrudin,31, dan Neneng Latifah 26, anak pertama mereka, Irvanda Dzulkarahman (Ipang), juga termasuk anak dengan kemampuan lebih.

Ipang, demikian dia disapa, juga sering berbicara sendiri dengan orang-orang yang menurut orangtuanya tidak tampak. Bahkan, lanjutnya sang anak sering minta pintu dan jendela rumah selalu dibuka karena ‘ teman-teman’-nya akan datang.

“ Karena itu, kunci selalu saya letakan didalam saku, kata Syahrudin yang warga Grogol, Rangkapan Jaya, Pancoran Mas Depok, itu. Seperti Tasya, Ipang juga berpikir layaknya orang dewasa. Tidak jarang dia menasihati kedua orangtuanya. Ibunya, misalnya diminta harus selalu menutup aurat” kata Ipang , yang boleh kelihatan hanya tangan dan muka saja.” Tutur Neneng.

Karena kedewasaanya itu, Ipang enggan bermain dengan anak-anak sebayanya.” Malas ah main sama anak kecil., “ kata Syahrudin meniru ucapan putranya. Padahal, 8 maret yang lalu, usianya genap enam tahun. Sebaliknya, dia malah bergaul dan dekat dengan orang-orang dewasa yang notabene adalah teman-teman ayahnya.

Disekolah, Ipang yang duduk di bangku TK itu ccenderung tertutup. Meski demikian, dia justru cepat menerima pelajaran. Saking cepatnya menyerap pelajaran, dia sering komplain jemu menerima pelajaran anak kecil. Hasil tes IQ yang diikutinya menunjukan dia memiliki IQ 129. bahkan, di TPA tempatnya mengaji, Ipang menganggap guru yang ada tidak cukup untuk mengajarinya. ”Akhirnya kita pakai guru privat, “ kata Syahrudin.

Ipang sering menebak, sesuatu yang acapkali benar. Ketika diajak pergi ke tempat pamannya, misalnya, dia mengatakan bahwa jaln menjuju kesana berliku. “ Memang berliku. Padahal, belum sekalipun dia kesana.” Kata sang ayah.
Suatu kali Syahrudin dan Neneng berbelanja di sebuah pusat pembelanjaan. Ketika hendak naik escalator, Ipang menunjuk seorang pria yang berpakaian rapi, “ awas ayah itu copet!” seru Ipang. Sontak kedua orang tuanya kaget dan mengingatkan anaknya untuk tidak menuduh orang
sembarangan.

Namun, Ipang justru berontak, bahkan akan mengejar pria tadi. Akhirnya, Ipang pun digendong. Ternyata apa yang diserukan Ipang benar. Saat berdesak-desakkan, pria itu telah menempel Syahrudin dan berusaha mengambil dompet dari saku celananya.

Pakar psikologi anak dari Universitas Indonesia (UI) Dr. Tubagus Erwin mengakui, anak indigo memang berbeda dengan anak-anak sebayanya. Katanya, anak indigo memiliki moto berjiwa dewasa serta mampu membedakan dan menghargai perbedaan. Namun, indigo bukanlah sesuatu penyakit karena tidak termasuk dalam daftar penyakit sedunia yang dikeluarkan WHO.

Mereka, menurut dia, memiliki kekuatan spiritual yang tidak dimiliki semua orang. Meski demikian, anak indigo bisa sehat dan sakit, baik secara fisik maupun mental. Yang jelas, anak semacam ini memerlukan pendidikan khusus. “Semua tergantung interaksi dengan lingkungannya,” katanya.

menurut Erwin, anak indigo memiliki enam sifat. Pertama, tingkat kecerdasan superior. Tingkat IQ-nya di atas 120. “Sehingga meereka enggan mengikuti ritual yang tidak rasional dan tidak spiritual,” jelas dokter yang sehari-hari bertugas di klinik Pro V di kawasan Cempaka Putih, Jakarta, itu.

Kedua, anak indigo dapat mengerjakan sesuatu tanpa diajarkan terlebih dahulu. Ketiga, dapat menangkap perasaan, kemauan, atau pikiran orang lain. Keempat, dapat mengetahui sesuatu yang tidak dapat dipersepsi oleh pancaindera di masa kini, masa lampau (post-cognition), dan masa depan (pre-cognition). Kelima, mengetahui keberadaan makhluk halus. “Yang terakhir, anak indigo tertarik pada hal-hal yang berkaitan dengan alam dan kemanusiaan,” kata alumnus FK Unair 1967 itu.

Untuk mengetahui seorang anak itu indigo atau tidak, lanjutnya, perlu dilakukan pemeriksaan. Salah satunya melalui foto aura. Caranya, lima jari anak yang diduga indigo diapasang sensor -semacam scanning- yang dihubungkan dengan komputer. Di komputer itulah akan tampak apakah auranya tergolong aktif atau tidak.

Jika tampilan cakra di dahi berwarna nila (indigo dalam bahasa Spanyol) dan kelihatan aktif (seperti bergerak-gerak) dan warna di sampingnya dominan nila, maka anak itu positif indigo. Cara lain untuk menentukan apakah seorang anak itu indigo adalah dengan melakukan wawancara psikologi terhadap si anak.

Baik Tasya maupun Ipang adalah dua anak yang dinyatakan positif indigo. Tasya dinyatakan sebagai indigo setelh diwawancarai seorang guru besar Fakultas Psikologi UI. Sedangkan Ipang dinyatakan positif setelah melewati metode foto aura seperti yang dipaparkan Dr. Tubagus Erwin

Sumber : Naufal widi AR, Indopos Maret 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: