Skizophrenia

January 5, 2012 at 8:25 am (Uncategorized)

Bagi yang belum mengetahui, Schizophrenia adalah sebuah penyakit gangguan kejiwaan dimana seseorang merasa kesulitan untuk membedakan antara imajinasi dengan realita.  Ini membuat seseorang merasa yakin mendapat bisikan, melihat sesuatu, atau pernah mengalami sesuatu.

 

Orang yang mengidap schizophrenia dalam skala berat oleh masyarakat dianggap sebagai gila. Namun dalam kadar yang lebih rendah ketika pengidapnya masih bisa terlihat normal, ditambah pengidapnya adalah orang orang yang religius atau terkait dengan dunia ghaib (paranormal) segala ini sering diartikan sebagai pertanda Supranatural. Seperti biasa, tulisan ini menawarkan perspektif ilmiah yang menawarkan ‘ada penjelasan lain’ selain penjelasan yang dikaitkan dengan penjelasan agamis atau supranatural.

 

Self Delution

 

Fenomena ini kadang dapat menjelaskan mengenai orang orang yang mengaku mendapat bisikan dari setan, jin, arwah hingga mereka yang mengaku sebagai Nabi. Seseorang pengidap schizophrenia bisa saja terlihat sangat bijak, jujur, dan meyakinkan. Namun ini adalah masalah gangguan syaraf yang bisa dideteksi oleh ahli syaraf. Bagaimana seseorang bisa pecaya dirinya adalah Nabi? Kepercayaan bahwa kenabian adalah pilihan Tuhan yang diberikan kepada orang orang tertentu secara khusus membuat kadang orang menginginkan menjadi that Special One. Orang suci yang ditunjuk Tuhan, dimuliakan dan dipuja. Ketika keinginan ini menjadi sangat kuat ditambah gejala schizophrenia, ini semua dapat menggiring pengakuan sebagai Nabi atau sekedar mengaku mendapat bisikan dari Tuhan. Orang orang yang menyangkalnya akan mengatakan bahwa bisikan tersebut berasal dari iblis, Setan atau semacamnya sesuai kepercayaan mereka. Fenomena ini dapat menggiring manusia disekitarnya untuk terjerumus pada delusi yang lebih dalam atas sesuatu yang belum tentu benar terjadi.

 

Dalam dunia mistik misalnya, ketika seseorang terlalu mempercayai kekuatan supranatural dan ghaib, adakalanya tergiring pada wishfull thingking dimana dia kemudian merasakan keinginan yang sangat kuat untuk mendapatkan konfirmasi ataupun ‘pertanda’ dari entitas supranatural yang dia cari. Keinginan kuat ditambah kondisi fisik serta syaraf yang terganggu sangat mungkin menciptakan halusinasi atau penyakit schizophrenia.

Sebagai contoh, pada tahun 2006 di Texas, seorang ibu bernama Dena Scholsser membunuh anaknya bernama Maggie. Dia mengaku para Polisi bahwa dia dengan berat hati melakukannya karena mendengar Suara dari Tuhan. Terinspirasi juga dengan kisah dalam kitab suci yang dia percaya yang menceritakan Nabi (Asli) yang juga mendapat bisikan untuk ‘mengorbankan’ anaknya meskipun akhirnya mendapat ’suara lain’ yang meminta untuk menghentikannya. Berbeda dengan Nabi terdahulu, wanita ini tidak mendapat ‘wahyu’ untuk membatalkan pengorbanan anaknya.

 

Kasus lain adalah ketika Seorang bernama Ibrahim berumur 31 tahun di Aceh yang mencekik keponakannya yang sedang tidur hingga Tewas karena mengaku mendengar suara yangs angat keras saat sedang tidur untuk melakukannya. Dia juga melakukan penganiyayaan terhadap keponakannya yang lain dengan ‘bisikan’ serupa. Ibrahim sangat menyesali perbuatannya namun tak kuasa untuk tidak menghiraukan ‘bisikan’ yang dia dengar.

Lain cerita dengan MDS di Bali yang melakukan pemerkosaan terhadap anak dibawah umur sebanyak 10 kali karena mendapat bisikan yang lain. DIa juga mengaku pernah mengalami mati suri.

 

False memory

 

Bagaimana mungkin seseorang tidak bisa membedakan antara imajinasi dan kenyataan? Berita buruknya, hal itu dapat terjadi pada siapa saja. Jika anda sering melamun, menggemari cerita fiksi dan membayangkan menjadi bagian dari cerita, atau mengkonsumsi obat obatan yang membuat anda tak bisa membedakan imajinasi dan realita, maka potensi anda mendapatkan  penyakit serupa cukup tinggi.

 

Apa yang membedakan antara imajinasi akan sebuah pengalaman dan memori akan sebuah ingatan hanya terletak pada seberapa ‘nyata’ gambaran tersebut dalam ingatan. Imajinasi dan memori sangat mungkin tertukar. Pada saat kita mengalami sesuatu, memori yang terekam sangatlah kompleks karena melibatkan indera penglihatan, penciuman, peraba, dan lain lain sehingga membaur menjadi sesuatu yang sangat ‘vivid’ (nyata/jelas) . Berbeda jika kita sekedar berimajinasi mengenai suatu peristiwa dimana informasi yang terekam atas imajinasi  hanya sebatas visual dan tidak sejelas dan selengkap ‘ingatan’ atas pengalaman nyata.

 

Apa yang terjadi saat pengalaman nyata tidak menyimpan informasi yang kuat? Kita bisa menganggapnya tidak pernah terjadi (lupa) atau menganggapnya sebagai imajinasi. Begitupun sebaliknya, saat imajinasi kita sangat kuat bahkan kita mengingat bau yang sebenarnya tidak pernah ada, kita bisa saja menganggapnya sebagai pengalaman nyata meskipun sebenarnya itu hanyalah imajinasi.

 

Sebagai contoh, pada tahun 1996 seorang wanita menuduh Dr. Donald Thompson (seorang psikolog terkenal) telah memperkosa dia. Kenyatannya, wanita ini diperkosa oleh orang yang tidak dikenal sesaat setelah menonton tayangan televisi yang mempertunjukkan dokter Donald melakukan wawancara. Bagaimana ini bisa terjadi?

Ketika seseorang mengalami kejadian yang sangat traumatik, secara sadar atau tidak dia berusaha sekuat tenaga untuk menghapus memori tersebut. Inilah yang kemudian banyak bagian yang tidak mampu dia ingat. Pada saat pengadilan, wanita tersebut memaksa ingatannya untuk mengingat secara detail kejadian tersebut. Fragmen fragmen yang dia ingat tersusun menjadi ‘realita’ baru yang menjadi tidak akurat. Kenyataannya wanita tersebut tidak pernah bertemu dengan dokter Donald dan hanya melihatnya lewat televisi.

 

Ini semua menunjukkan bahwa kadang kita ditipu oleh daya ingat dan panca indera kita. Penyakit Schizophrenia banyak diderita oleh orang orang dalam usia produktif bahkan remaja. Inilah yang kemudian menyebabkan gejala delusi (termasuk melihat hantu dan segala macamnya) benar benar dipercaya oleh seseorang dan secara meyakinkan menceritakannya kepada orang lain. Jangan begitu saja percaya pada mereka yang mengaku mendengar dan melihat sesuatu, dan demi kebaikan, sarankan kepada mereka, temui psikolog dan ahli syaraf.

 

By VirKill

IRiS

(Indonesian Rationalist Society)

 

Referensi:

Loftus, Elizabeth (1994), “Remembering Dangerously”, CSIOP

Caroll, Robert T (2006), The Skeptic Dictionary, Skepdic.com

Schacter, Daniel L. Searching for Memory – the brain, the mind, and the past (New York: Basic Books, 1996).

Advertisements

Permalink 2 Comments

Pertemuan Tiga Komunitas

January 5, 2012 at 8:24 am (Uncategorized)

Berita LP – UP2U Pulo Asem, 16 November 2011. Rabu malam (16 November 2011) ada kejadian menarik di UP2U Pulo Asem. Malam itu, UP2U Pulo Asem berkenan untuk menjadi tuan rumah pertemuan tiga komunitas, Hikmatul Iman (HI), komunitas Indigo dan beberapa teman dari komunitas Atlantis Indonesia (AI).Sebelumnya, mereka sudah sering bertemu dengan kang Dicky secara terpisah. Namun baru kali inilah, ketiganya berada dalam satu forum yang sama, di ruang terapi UP2U Pulo Asem yang seketika berubah menjadi ruang sauna karena sesaknya undangan yang hadir. Teman-teman HIers dari Ranting Satlat HI Jakarta yang jadwalnya malam itu latihan di Velodrome pun diminta bergabung oleh kang Dicky. Undangan bertambah oleh kehadiran teman-teman HIers dari ranting lainnya. Ada dua hal penting yang menjadi bahan diskusi malam itu.

 

Informasi Barang Mahal?

 

Pertama, soal informasi yang saat ini menjadi barang komoditas, barang berharga, dan dihargai mahal. Sudah dua kali kejadian dimana kang Dicky bertemu dengan staf ahli presiden bidang bencana, Andi Arief dan dua arkeolog dari Australia, Hans dan Roz Berekoven, membuktikan betapa mahalnya“harga” yang harus dikeluarkan untuk memperoleh informasi. Penelitian yang mereka lakukan di lempengan selat sunda dan perariran sepanjang zona netral pulau kalimantan dan malaysia menghabiskan biaya milyaran rupiah. Hans dan Roz yang menghabiskan uang yang dimilikinya untuk membiayai sendiri penelitiannya bahkan menjadi bangkrut karenanya. Program penelitian yang dibiayai pemerintah untuk meneliti lempeng selat sunda, tidak dapat dibayangkan lagi berapa jumlahnya. Meskipun tujuan keduanya berbeda, namun mereka menemukan hal yang sama, jejak warisan budaya suatu bangsa yang masih merupakan sebuah puzzle besar yang kepingan-kepingannya menimbulkan banyak pertanyaan.

 

Sulitnya informasi mengenai jejak budaya LEMURIAN pun dibuktikan oleh komunitas Metafisika Study Club yang dikelola oleh ibu Sita Sudjono. Beliau menghabiskan 51 tahun hidupnya untuk mencari jejak-jejak itu dan menyusun kepingan-kepingan puzzle, yang sampai saat ini pun, belum selesai. Di sisi lain, perdebatan di luar sana mengenai jejak peradaban budaya yang ada di Indonesia juga dilakukan oleh beberapa komunitas, salah satunya komunitas Atlantis Indonesia (AI). Komunitas-komunitas ini pun bersinggungan dalam perjalanannya, bersilahturahmi dan tentu saja, bertukar cerita.

 

Uniknya, baik komunitas dengan latar belakang penelitian ilmiah yang kuat hingga komunitas “indigo”, dan metafisika, pada akhirnya mampu berbicara satu hal yang sama. Para peneliti dan eksplorer mengamini  dari segi ilmiah dan berdasarkan bukti-bukti yang ditemukannya, bahwa jejak budaya “kuno” di Indonesia memang ada. Dan pertanyaan-pertanyaan besar mengenai artefak yang ditemukan yang masih merupakan puzzle besar buat mereka menimbulkan pertanyaan, apakah budaya bangsa yang mereka cari itu se”kuno” yang distigmakan semula, atau justru sebaliknya?

 

Komunikasi antar komunitas yang berbeda latar belakang itu terbuka ketika kang Dicky, penulis novel trilogi ARKHYTIREMA menyuguhkan cerita mengenai budaya bangsa LEMURIAN. Dan informasi mengenai hal itu, mereka dapatkan dengan sangat mudah. Informasi menjadi suatu hal yang tidak mahal, seperti yang seharusnya.

 

Meluruskan Pemahaman Masyarakat tentang “Indigo”

 

Kedua, soal meluruskan pemahaman masyarakat tentang anak atau orang “indigo”. Siang sebelumnya, kang Dicky ke TransTV. Mereka meminta pendapat kang Dicky tentang anak indigo. Mereka menerima penjelasan kang Dicky dan bahkan, memintanya untuk melihat salah satu anak indigo, sebut saja Grady.

 

Grady ini anak yang unik. Cita-citanya adalah menjadi maling. Tanpa pemahaman yang benar mengenai anak indigo, mungkin Grady dianggap sebagai anak bejat. Kecil-kecil kok sudah bercita-cita menjadi maling? Dan mungkin kita akan memperlakukan Grady sebagai anak nakal yang perlu “diluruskan”. Namun demikian, Grady yang perlu diluruskan ataukah pemahaman kita yang perlu diluruskan mengenai anak indigo? Seringkali ketidakpahaman terhadap anak berdampak besar pada perlakuan kita terhadap anak tersebut, dan tentu saja, hidup anak itu kelak. Jangan sampai ketidakpahaman kita terhadap anak yang unik, menjadi penyebab utama kehancuran kehidupan anak itu.

 

Kuncinya menurut kang Dicky adalah, kita harus memasuki mereka, dan bicara dengan bahasa mereka. Kenapa Grady bercita-cita menjadi maling? Karena dia menangkap frekuensi maling sangat kuat di negara kita. Grady menangkap sinyal itu dan menganggap itu adalah hal yang benar karena merupakan sinyal yang dominan yang dilakukan oleh masyarakat. Ingat, Grady adalah anak indigo, sehingga  sinyal yang masuk ke dia adalah sinyal maling. Karena ia belum mampu menyaring sinyal yang masuk ke dirinya, maka sinyal yang dominan dianggap sebagai sinyal yang benar atau dibenarkan masyarakat. Oleh karena itu, justru kita harus membantu anak-anak seperti Grady. Dan bantulah dengan ikhlas, dengan nama Allah. Pemahaman Grady tidak salah. Lihatlah sekitar kita, orang yang tidak mau maling akan dianggap aneh, dan bukan bagian dari kelompok. Kalau tidak mau ambil dari biaya proyek dianggap aneh. Jadi wajar bila anak indigo seperti itu bercita-cita jadi maling. Kitalah yang membuat anak seperti Grady berpikiran demikian.

 

Satu saran penting dari kang Dicky untuk acara indigo di TransTV adalah untuk tidak membahasnya secara mistis. Mereka adalah anak-anak yang unik. Jangan dibahas secara mistis, tetapi dari segi ilmiah. Saat ini, mereka masih menggunakan foto aura, padahal itu bukan indikator “indigo” yang bisa diandalkan. Keunikan mereka tidak bisa dilihat dari foto aura saja, tapi kita harus masuk ke bahasa mereka. Tiap anak perlakuannya berbeda. Tugas kitalah agar memahami mereka, mengarahkan bagaimana mereka, dan memberikan perlakuan ke mereka sesuai dengan yang mereka mau. Ketika mereka mengeluarkan sesuatu sebenarnya mereka mengeluarkan gelombang elektromagnetik.

 

Acara itu juga akan memperlihatkan pengalaman orang tua dan latar belakang si anak dalam bentuk drama, tetapi penjelasannya harus dalam bentuk ilmiah. Selama ini tidak ada orang yang bsia menjelaskan fenomena anak indigo secara ilmiah. Padahal, tiap orang adalah unik, indigo maupun tidak. Masing-masing dari kita memiliki tugasnya di planet bumi ini. Kalau dia hidup di planet lain, urusannya lain lagi. Jadi justru anak-anak yang indigo adalah unik. Keunikan ini yang akan dijelaskan dan diperkenalkan ke masyarakat secara benar, bukan secara mistis. Misalnya, mereka dirasuki sesuatu, dan akhirnya rukiyah, dlsb.

 

Sekali lagi, kita berbicara mengenai informasi, sebagai sebuah pengetahuan yang seharusnya dimiliki bersama, untuk kepentingan bersama pula. Bukannya dikemas sebagai barang komoditas, dihargai mahal, apalagi digunakan untuk menyesatkan pemahaman masyarakat. Malam itu, tiga komunitas yang hadir, meski dengan latar belakang dan keunikan yang berbeda-beda, memiliki pemahaman yang sama soal pentingnya informasi dan bersinergi. (hsn)Sumber = Lemurian Prod

Permalink 3 Comments

LAW OF CULTIVATION

January 5, 2012 at 8:22 am (Uncategorized) ()

Oleh: Boni Binoba (Personal Advisor at TAROT Cur-Hat)

  1. Hidup ini adalah pelajaran dari Tuhan untuk manusia.
  2. Jika kita tidak berhasil memahami pelajaran dari suatu peristiwa, maka peristiwa itu akan berulang.
  3. Jika kita berhasil memahami pelajaran dari suatu peristiwa, maka akan datang peristiwa selanjutnya dengan tingkat pelajaran yang lebih sulit.
  4. Ujung dari pelajaran-pelajaran ini adalah memahami siapa diri kita, siapa Tuhan kita dan apa yang harus kita lakukan untuk mencapai hidup bahagia yang penuh dengan rasa syukur.

Permalink 2 Comments