Skizophrenia

January 5, 2012 at 8:25 am (Uncategorized)

Bagi yang belum mengetahui, Schizophrenia adalah sebuah penyakit gangguan kejiwaan dimana seseorang merasa kesulitan untuk membedakan antara imajinasi dengan realita.  Ini membuat seseorang merasa yakin mendapat bisikan, melihat sesuatu, atau pernah mengalami sesuatu.

 

Orang yang mengidap schizophrenia dalam skala berat oleh masyarakat dianggap sebagai gila. Namun dalam kadar yang lebih rendah ketika pengidapnya masih bisa terlihat normal, ditambah pengidapnya adalah orang orang yang religius atau terkait dengan dunia ghaib (paranormal) segala ini sering diartikan sebagai pertanda Supranatural. Seperti biasa, tulisan ini menawarkan perspektif ilmiah yang menawarkan ‘ada penjelasan lain’ selain penjelasan yang dikaitkan dengan penjelasan agamis atau supranatural.

 

Self Delution

 

Fenomena ini kadang dapat menjelaskan mengenai orang orang yang mengaku mendapat bisikan dari setan, jin, arwah hingga mereka yang mengaku sebagai Nabi. Seseorang pengidap schizophrenia bisa saja terlihat sangat bijak, jujur, dan meyakinkan. Namun ini adalah masalah gangguan syaraf yang bisa dideteksi oleh ahli syaraf. Bagaimana seseorang bisa pecaya dirinya adalah Nabi? Kepercayaan bahwa kenabian adalah pilihan Tuhan yang diberikan kepada orang orang tertentu secara khusus membuat kadang orang menginginkan menjadi that Special One. Orang suci yang ditunjuk Tuhan, dimuliakan dan dipuja. Ketika keinginan ini menjadi sangat kuat ditambah gejala schizophrenia, ini semua dapat menggiring pengakuan sebagai Nabi atau sekedar mengaku mendapat bisikan dari Tuhan. Orang orang yang menyangkalnya akan mengatakan bahwa bisikan tersebut berasal dari iblis, Setan atau semacamnya sesuai kepercayaan mereka. Fenomena ini dapat menggiring manusia disekitarnya untuk terjerumus pada delusi yang lebih dalam atas sesuatu yang belum tentu benar terjadi.

 

Dalam dunia mistik misalnya, ketika seseorang terlalu mempercayai kekuatan supranatural dan ghaib, adakalanya tergiring pada wishfull thingking dimana dia kemudian merasakan keinginan yang sangat kuat untuk mendapatkan konfirmasi ataupun ‘pertanda’ dari entitas supranatural yang dia cari. Keinginan kuat ditambah kondisi fisik serta syaraf yang terganggu sangat mungkin menciptakan halusinasi atau penyakit schizophrenia.

Sebagai contoh, pada tahun 2006 di Texas, seorang ibu bernama Dena Scholsser membunuh anaknya bernama Maggie. Dia mengaku para Polisi bahwa dia dengan berat hati melakukannya karena mendengar Suara dari Tuhan. Terinspirasi juga dengan kisah dalam kitab suci yang dia percaya yang menceritakan Nabi (Asli) yang juga mendapat bisikan untuk ‘mengorbankan’ anaknya meskipun akhirnya mendapat ’suara lain’ yang meminta untuk menghentikannya. Berbeda dengan Nabi terdahulu, wanita ini tidak mendapat ‘wahyu’ untuk membatalkan pengorbanan anaknya.

 

Kasus lain adalah ketika Seorang bernama Ibrahim berumur 31 tahun di Aceh yang mencekik keponakannya yang sedang tidur hingga Tewas karena mengaku mendengar suara yangs angat keras saat sedang tidur untuk melakukannya. Dia juga melakukan penganiyayaan terhadap keponakannya yang lain dengan ‘bisikan’ serupa. Ibrahim sangat menyesali perbuatannya namun tak kuasa untuk tidak menghiraukan ‘bisikan’ yang dia dengar.

Lain cerita dengan MDS di Bali yang melakukan pemerkosaan terhadap anak dibawah umur sebanyak 10 kali karena mendapat bisikan yang lain. DIa juga mengaku pernah mengalami mati suri.

 

False memory

 

Bagaimana mungkin seseorang tidak bisa membedakan antara imajinasi dan kenyataan? Berita buruknya, hal itu dapat terjadi pada siapa saja. Jika anda sering melamun, menggemari cerita fiksi dan membayangkan menjadi bagian dari cerita, atau mengkonsumsi obat obatan yang membuat anda tak bisa membedakan imajinasi dan realita, maka potensi anda mendapatkan  penyakit serupa cukup tinggi.

 

Apa yang membedakan antara imajinasi akan sebuah pengalaman dan memori akan sebuah ingatan hanya terletak pada seberapa ‘nyata’ gambaran tersebut dalam ingatan. Imajinasi dan memori sangat mungkin tertukar. Pada saat kita mengalami sesuatu, memori yang terekam sangatlah kompleks karena melibatkan indera penglihatan, penciuman, peraba, dan lain lain sehingga membaur menjadi sesuatu yang sangat ‘vivid’ (nyata/jelas) . Berbeda jika kita sekedar berimajinasi mengenai suatu peristiwa dimana informasi yang terekam atas imajinasi  hanya sebatas visual dan tidak sejelas dan selengkap ‘ingatan’ atas pengalaman nyata.

 

Apa yang terjadi saat pengalaman nyata tidak menyimpan informasi yang kuat? Kita bisa menganggapnya tidak pernah terjadi (lupa) atau menganggapnya sebagai imajinasi. Begitupun sebaliknya, saat imajinasi kita sangat kuat bahkan kita mengingat bau yang sebenarnya tidak pernah ada, kita bisa saja menganggapnya sebagai pengalaman nyata meskipun sebenarnya itu hanyalah imajinasi.

 

Sebagai contoh, pada tahun 1996 seorang wanita menuduh Dr. Donald Thompson (seorang psikolog terkenal) telah memperkosa dia. Kenyatannya, wanita ini diperkosa oleh orang yang tidak dikenal sesaat setelah menonton tayangan televisi yang mempertunjukkan dokter Donald melakukan wawancara. Bagaimana ini bisa terjadi?

Ketika seseorang mengalami kejadian yang sangat traumatik, secara sadar atau tidak dia berusaha sekuat tenaga untuk menghapus memori tersebut. Inilah yang kemudian banyak bagian yang tidak mampu dia ingat. Pada saat pengadilan, wanita tersebut memaksa ingatannya untuk mengingat secara detail kejadian tersebut. Fragmen fragmen yang dia ingat tersusun menjadi ‘realita’ baru yang menjadi tidak akurat. Kenyataannya wanita tersebut tidak pernah bertemu dengan dokter Donald dan hanya melihatnya lewat televisi.

 

Ini semua menunjukkan bahwa kadang kita ditipu oleh daya ingat dan panca indera kita. Penyakit Schizophrenia banyak diderita oleh orang orang dalam usia produktif bahkan remaja. Inilah yang kemudian menyebabkan gejala delusi (termasuk melihat hantu dan segala macamnya) benar benar dipercaya oleh seseorang dan secara meyakinkan menceritakannya kepada orang lain. Jangan begitu saja percaya pada mereka yang mengaku mendengar dan melihat sesuatu, dan demi kebaikan, sarankan kepada mereka, temui psikolog dan ahli syaraf.

 

By VirKill

IRiS

(Indonesian Rationalist Society)

 

Referensi:

Loftus, Elizabeth (1994), “Remembering Dangerously”, CSIOP

Caroll, Robert T (2006), The Skeptic Dictionary, Skepdic.com

Schacter, Daniel L. Searching for Memory – the brain, the mind, and the past (New York: Basic Books, 1996).

Permalink 2 Comments

Pertemuan Tiga Komunitas

January 5, 2012 at 8:24 am (Uncategorized)

Berita LP – UP2U Pulo Asem, 16 November 2011. Rabu malam (16 November 2011) ada kejadian menarik di UP2U Pulo Asem. Malam itu, UP2U Pulo Asem berkenan untuk menjadi tuan rumah pertemuan tiga komunitas, Hikmatul Iman (HI), komunitas Indigo dan beberapa teman dari komunitas Atlantis Indonesia (AI).Sebelumnya, mereka sudah sering bertemu dengan kang Dicky secara terpisah. Namun baru kali inilah, ketiganya berada dalam satu forum yang sama, di ruang terapi UP2U Pulo Asem yang seketika berubah menjadi ruang sauna karena sesaknya undangan yang hadir. Teman-teman HIers dari Ranting Satlat HI Jakarta yang jadwalnya malam itu latihan di Velodrome pun diminta bergabung oleh kang Dicky. Undangan bertambah oleh kehadiran teman-teman HIers dari ranting lainnya. Ada dua hal penting yang menjadi bahan diskusi malam itu.

 

Informasi Barang Mahal?

 

Pertama, soal informasi yang saat ini menjadi barang komoditas, barang berharga, dan dihargai mahal. Sudah dua kali kejadian dimana kang Dicky bertemu dengan staf ahli presiden bidang bencana, Andi Arief dan dua arkeolog dari Australia, Hans dan Roz Berekoven, membuktikan betapa mahalnya“harga” yang harus dikeluarkan untuk memperoleh informasi. Penelitian yang mereka lakukan di lempengan selat sunda dan perariran sepanjang zona netral pulau kalimantan dan malaysia menghabiskan biaya milyaran rupiah. Hans dan Roz yang menghabiskan uang yang dimilikinya untuk membiayai sendiri penelitiannya bahkan menjadi bangkrut karenanya. Program penelitian yang dibiayai pemerintah untuk meneliti lempeng selat sunda, tidak dapat dibayangkan lagi berapa jumlahnya. Meskipun tujuan keduanya berbeda, namun mereka menemukan hal yang sama, jejak warisan budaya suatu bangsa yang masih merupakan sebuah puzzle besar yang kepingan-kepingannya menimbulkan banyak pertanyaan.

 

Sulitnya informasi mengenai jejak budaya LEMURIAN pun dibuktikan oleh komunitas Metafisika Study Club yang dikelola oleh ibu Sita Sudjono. Beliau menghabiskan 51 tahun hidupnya untuk mencari jejak-jejak itu dan menyusun kepingan-kepingan puzzle, yang sampai saat ini pun, belum selesai. Di sisi lain, perdebatan di luar sana mengenai jejak peradaban budaya yang ada di Indonesia juga dilakukan oleh beberapa komunitas, salah satunya komunitas Atlantis Indonesia (AI). Komunitas-komunitas ini pun bersinggungan dalam perjalanannya, bersilahturahmi dan tentu saja, bertukar cerita.

 

Uniknya, baik komunitas dengan latar belakang penelitian ilmiah yang kuat hingga komunitas “indigo”, dan metafisika, pada akhirnya mampu berbicara satu hal yang sama. Para peneliti dan eksplorer mengamini  dari segi ilmiah dan berdasarkan bukti-bukti yang ditemukannya, bahwa jejak budaya “kuno” di Indonesia memang ada. Dan pertanyaan-pertanyaan besar mengenai artefak yang ditemukan yang masih merupakan puzzle besar buat mereka menimbulkan pertanyaan, apakah budaya bangsa yang mereka cari itu se”kuno” yang distigmakan semula, atau justru sebaliknya?

 

Komunikasi antar komunitas yang berbeda latar belakang itu terbuka ketika kang Dicky, penulis novel trilogi ARKHYTIREMA menyuguhkan cerita mengenai budaya bangsa LEMURIAN. Dan informasi mengenai hal itu, mereka dapatkan dengan sangat mudah. Informasi menjadi suatu hal yang tidak mahal, seperti yang seharusnya.

 

Meluruskan Pemahaman Masyarakat tentang “Indigo”

 

Kedua, soal meluruskan pemahaman masyarakat tentang anak atau orang “indigo”. Siang sebelumnya, kang Dicky ke TransTV. Mereka meminta pendapat kang Dicky tentang anak indigo. Mereka menerima penjelasan kang Dicky dan bahkan, memintanya untuk melihat salah satu anak indigo, sebut saja Grady.

 

Grady ini anak yang unik. Cita-citanya adalah menjadi maling. Tanpa pemahaman yang benar mengenai anak indigo, mungkin Grady dianggap sebagai anak bejat. Kecil-kecil kok sudah bercita-cita menjadi maling? Dan mungkin kita akan memperlakukan Grady sebagai anak nakal yang perlu “diluruskan”. Namun demikian, Grady yang perlu diluruskan ataukah pemahaman kita yang perlu diluruskan mengenai anak indigo? Seringkali ketidakpahaman terhadap anak berdampak besar pada perlakuan kita terhadap anak tersebut, dan tentu saja, hidup anak itu kelak. Jangan sampai ketidakpahaman kita terhadap anak yang unik, menjadi penyebab utama kehancuran kehidupan anak itu.

 

Kuncinya menurut kang Dicky adalah, kita harus memasuki mereka, dan bicara dengan bahasa mereka. Kenapa Grady bercita-cita menjadi maling? Karena dia menangkap frekuensi maling sangat kuat di negara kita. Grady menangkap sinyal itu dan menganggap itu adalah hal yang benar karena merupakan sinyal yang dominan yang dilakukan oleh masyarakat. Ingat, Grady adalah anak indigo, sehingga  sinyal yang masuk ke dia adalah sinyal maling. Karena ia belum mampu menyaring sinyal yang masuk ke dirinya, maka sinyal yang dominan dianggap sebagai sinyal yang benar atau dibenarkan masyarakat. Oleh karena itu, justru kita harus membantu anak-anak seperti Grady. Dan bantulah dengan ikhlas, dengan nama Allah. Pemahaman Grady tidak salah. Lihatlah sekitar kita, orang yang tidak mau maling akan dianggap aneh, dan bukan bagian dari kelompok. Kalau tidak mau ambil dari biaya proyek dianggap aneh. Jadi wajar bila anak indigo seperti itu bercita-cita jadi maling. Kitalah yang membuat anak seperti Grady berpikiran demikian.

 

Satu saran penting dari kang Dicky untuk acara indigo di TransTV adalah untuk tidak membahasnya secara mistis. Mereka adalah anak-anak yang unik. Jangan dibahas secara mistis, tetapi dari segi ilmiah. Saat ini, mereka masih menggunakan foto aura, padahal itu bukan indikator “indigo” yang bisa diandalkan. Keunikan mereka tidak bisa dilihat dari foto aura saja, tapi kita harus masuk ke bahasa mereka. Tiap anak perlakuannya berbeda. Tugas kitalah agar memahami mereka, mengarahkan bagaimana mereka, dan memberikan perlakuan ke mereka sesuai dengan yang mereka mau. Ketika mereka mengeluarkan sesuatu sebenarnya mereka mengeluarkan gelombang elektromagnetik.

 

Acara itu juga akan memperlihatkan pengalaman orang tua dan latar belakang si anak dalam bentuk drama, tetapi penjelasannya harus dalam bentuk ilmiah. Selama ini tidak ada orang yang bsia menjelaskan fenomena anak indigo secara ilmiah. Padahal, tiap orang adalah unik, indigo maupun tidak. Masing-masing dari kita memiliki tugasnya di planet bumi ini. Kalau dia hidup di planet lain, urusannya lain lagi. Jadi justru anak-anak yang indigo adalah unik. Keunikan ini yang akan dijelaskan dan diperkenalkan ke masyarakat secara benar, bukan secara mistis. Misalnya, mereka dirasuki sesuatu, dan akhirnya rukiyah, dlsb.

 

Sekali lagi, kita berbicara mengenai informasi, sebagai sebuah pengetahuan yang seharusnya dimiliki bersama, untuk kepentingan bersama pula. Bukannya dikemas sebagai barang komoditas, dihargai mahal, apalagi digunakan untuk menyesatkan pemahaman masyarakat. Malam itu, tiga komunitas yang hadir, meski dengan latar belakang dan keunikan yang berbeda-beda, memiliki pemahaman yang sama soal pentingnya informasi dan bersinergi. (hsn)Sumber = Lemurian Prod

Permalink 3 Comments

LAW OF CULTIVATION

January 5, 2012 at 8:22 am (Uncategorized) ()

Oleh: Boni Binoba (Personal Advisor at TAROT Cur-Hat)

  1. Hidup ini adalah pelajaran dari Tuhan untuk manusia.
  2. Jika kita tidak berhasil memahami pelajaran dari suatu peristiwa, maka peristiwa itu akan berulang.
  3. Jika kita berhasil memahami pelajaran dari suatu peristiwa, maka akan datang peristiwa selanjutnya dengan tingkat pelajaran yang lebih sulit.
  4. Ujung dari pelajaran-pelajaran ini adalah memahami siapa diri kita, siapa Tuhan kita dan apa yang harus kita lakukan untuk mencapai hidup bahagia yang penuh dengan rasa syukur.

Permalink 2 Comments

[Bedah Buku] The Indigo Children: Bab I

April 19, 2010 at 3:08 pm (Uncategorized)

Manusia diciptakan berbeda-beda satu sama lain, oleh karena itu muncul keinginan untuk lebih mengenal diri sendiri dan orang lain. Dorongan tersebut membuat manusia menciptakan berbagai metode pengenalan diri yang sifatnya modern, seperti IQ, EQ, SQ, temperamen Melankolis, Koleris, Phlegmatis, dan Sanguinis. Selain dari metode-metode modern tersebut, manusia rupanya telah mengenal metode-metode pengenalan semacamnya sejak beribu tahun yang lalu, seperti Astrologi, Shio, dan aura. Metode kuno tersebut meskipun dipandang tidak realistis, namun telah diakui sebagai ilmu pengetahuan.

Aura merupakan suatu medan energi yang terdapat di sekeliling tubuh manusia, dengan kata lain aura adalah suatu energi kehidupan manusia. Melalui aura, manusia dapat mengetahui apa saja yang akan mereka pelajari dalam hidupnya. Pengamatan terhadap warna-warna kehidupan secara di era modern dipelopori oleh Nancy Ann Tape yang kemudian dirangkum dalam sebuah buku yang berjudul Understanding Your Life Through Color.  Dalam pengamatannya, Nancy menemukan suatu warna baru pada aura anak-anak yang lahir pada akhir dekade 1970-an hingga dekade 1980.  Warna tersebut adalah Indigo.

Nancy kemudian mengamati bahwa pada diri anak-anak dengan aura Indigo terdapat suatu atribut psikologi baru yang  belum pernah terekam pada generesi-generasi sebelumnya. Terdapat sepuluh ciri umum anak-anak Indigo:

1.  Mereka datang ke dunia dengan rasa ingin berbagi;

2.  Mereka menghayati hak keberadaannya di dunia ini dan heran bila ada yang menolaknya;

3.  Dirinya bukanlah yang utama, seringkali menyampaikan ‘siapa jati dirinya’ pada orang tuanya;

4.  Sulit menerima otoritas mutlak tanpa alasan;

5.  Tidak mau/sulit menunggu giliran;

6.  Mereka kecewa bila menghadapi ritual dan hal-hal yang tidak memerlukan pemikiran yang kreatif;

7.  Seringkali mereka menemukan cara-cara yang lebih tepat, baik di sekolah maupun di rumah, sehingga menimbulkan kesan “non konformistis” terhadap sistem yang berlaku;

8.  Tampak seperti antisosial, terasing kecuali di lingkungannya. Sekolah seringkali menjadi amat sulit untuk mereka bersosialisasi;

9.  Tidak berespons terhadap aturan-aturan kaku (misalnya: “tunggu sampai ayahmu pulang”);

10.  Tidak malu untuk meminta apa yang dibutuhkannya.

Namun banyak pula ciri-ciri lain anak Indigo lepas dari sepuluh karakter di atas, seperti bahwa anak Indigo tidak menghargai seseorang berdasarkan uban dan kerut-kerut wajah.  Jika mereka diperlakukan secara kasar, anak Indigo akan pergi kepada pihak yang berwajib secara otomatis.  Banyak di antara mereka adalah filsuf yang dilahirkan secara alamiah untuk memikirkan arti kehidupan dan bagaimana cara menyelamatkan planet ini.  Para Indigo mengolah emosi mereka secara berbeda dengan non-Indigo karena mereka memiliki rasa harga diri yang tinggi dan integritas yang kuat.  Mereka bisa membaca orang lain seperti sebuah buku yang terbuka dan dengan cepet mengetahui dan menetralisasi setiap agenda atau usaha tersembunyi untuk memanipulasi mereka, betapa pun halusnya.  Tidak hanya mereka ahli dalam mengetahui agenda atau motif tersembunyi secara intuitif, mereka juga sama ahlinya dalam mengembalikan agenda tersebut kepada orang yang menggunakannya, khususnya orang tua mereka.

Mereka memiliki determinasi bawaan yang kuat untuk mengerjakan segala sesuatu untuk diri mereka sendiri dan hanya menginginkan bimbingan dari orang lain bila itu dikemukakan kepada mereka dengan penghargaan dan dalam format yang sebenarnya.  Mereka bisa mengisap pengetahuan seperti busa, khususnya jika mereka menyukai atau tertarik terhadao suatu persoalan. Para Indigo lahir untuk menjadi master.  Mereka datang untuk melayani planet ini, orangtua mereka, dan teman-teman mereka sebagai utusan dari Surga, pembawa kebijaksanaan bila mereka didengarkan. Mereka mudah terganggu ketika segala sesuatu, terutama percakapan, tidak sinkron.  Mereka senang menjadi spontan dan mudah menjadi sangat gembira tanpa alasan yang jelas.

Anak Indigo, menurut Nancy Ann Tape, terbagi lagi menjadi empat golongan, di antaranya:

  1. Indigo Humanis, yang akan bekerja dengan orang banyak, melayani sesama, dan hiperaktif. Mereka luar biasa suka bergaul dan ramah pada siapa saja. Mereka memiliki pendapat yang sangat kuat. Mereka kikuk dengan tubuh mereka, kadang-kadang mereka dapat berlari menabrak dinding karena lupa mengerem. Mereka cepet beralih perhatian.
  2. Indigo Konseptual, yang teruju kepada proyek daripada manusia. Tubuh mereka tidak kikuk, bahkan kebanyakan sangat atletis. Mereka suka mengendalikan orang lain, terutama orang tua , mereka. Jenis ini memiliki resiko besar terhadap kecanduan.
  3. Indigo Seniman, yang jauh lebih peka. Mereka lebih tertuju pada seni dan sangat kreatif. Jika masuk ke suatu bidang, mereka akan mengambil sisi kreatifnya.
  4. Indigo interdimensional yang akan membawa filosofi dan agama baru ke dunia. Pada umumnya mereka berperawakan lebih besar dari sebayanya dan mereka tahu segalanya, sehingga sukar untuk memberitahu apapun pada mereka.

Anak-anak Indigo juga sering disebut sebagai anak-anak berbakat (gifted), maka tidak heran jika mereka memiliki pula karakteristik anak-anak berbakat:

1.  Memiliki kepekaan yang tinggi.

2.  Memiliki energi berlebih.

3.  Mudah bosan, mungkin tampak seperti memiliki rentang perhatian yang pendek.

4.  Memerlukan orang dewasa yang secara emosional stabil di sekitarnya.

5.  Akan menolak otoritas jika orientasinya tidak demokratis.

6.  Memiliki cara belajar yang lebih disukai, khususnya dalam membaca dan matematika.

7.  Mungkin mudah frustasi karena mereka memiliki gagasan yang besar, namun kekurangan sumber daya atau orang untuk membantu mereka melaksanakan gagasan tersebut agar berhasil.

8.  Belajar dari tingkat eksplorasi, menolak ingatan dengan cara menghafal atau mendengarkan.

9.  Tidak dapat duduk tenang kecuali jika perhatiannya terserap pada hal yang menarik perhatiannya sendiri.

10.  Sangat perasa, memiliki banyak ketakutan seperti kematian dan kehilangan orang yang dicintai.

11.  Bila mengalami kegagalan dini, mereka mungkin menyerah dan mengalami hambatan belajar secara permanen.

Author Buku: Lee Carroll & Jan Tober.
Tahun terbit: 2006
Penerbit di Indonesia: PT Bhuana Ilmu Populer, Kelompok Gramedia (BIP)

Penulis uraian: Sujatmiko Pujitono von Habsburg (INDIGO COMMUNITY)

Permalink 1 Comment

INDIGO COMMUNITY ON FACEBOOK

March 14, 2010 at 8:05 am (Uncategorized)

SELAMAT BERGABUNG DI INDIGO COMMUNITY

Indigo Community merupakan grup yang dibentuk sebagai wadah bertukar pengetahuan, bertukar pengalaman, curhat, dan berinteraksi bagi anak-anak indigo, pemerhati anak indigo, dan orang-orang yang ingin mengetahui tentang dunia anak indigo lebih dalam.

Indigo Community terbuka untuk umum dan bukan merupakan suatu bentuk aliran keagamaan tertentu.

A.  Misi:

1. Berupaya untuk menyajikan informasi dan diskusi seputar kajian ANAK INDIGO dari banyak sudut pandang (Sosial maupun Sains).

2. Memberikan pelayanan konsultasi langsung mengenai ANAK INDIGO, serta merangkul anak-anak yang suspect Indigo yang mengalami masalah penerimaan di lingkungan masyarakat.

B.  Tata Tertib dan Aturan

1.  Setiap anggota diharapkan tetap menjaga ketertiban selama jalannya diskusi, dengan:

– menggunakan kata-kata yang menandung nilai kesopanan.

– tidak menggunakan kata-kata yang bersifat emosional / anger statement, menyerang satu atau lebih golongan tertentu, tantangan.

2. Setup anggota dipersilakan membuat postingan, baik artikel maupun sharing pengalaman/masalah pribadi yg berhubungan dgn KAJIAN INDIGO CHILD, dengan memperhatikan aturan yang tertulis di poin pertama.

3.  Postingan yang melanggar tata tertib dan jauh dari Misi Indigo Community akan segera dihapus dalam waktu 2×24 jam, dengan disertai pemberitahuan sebelumnya melalui personal message ke Thread Starter-nya.

4.  Topik diskusi yang tidak aktif selama 4 Bulan, akan dihapus.

5.  Pertanyaan dan konsultasi pribadi mengenai masalah seputar kajian Anak Indigo dapat ditanyakan langsung kepada PERSONALIA kami yang tertera di Info grup.

6.  Laporan mengenai bentuk pelanggaran ataupun bentuk tulisan yang mengganggu ketertiban, mohon segera dilaporkan kepada MODERATOR DISKUSI kami.

7.  Kritik dan saran mengenai grup silakan dikirimkan kepada SUPERVISOR GRUP. Kritik dan saran kawan-kawan semua, sangat berarti bagi kemajuan dan kelangsungan grup ini.

Berikut adalah pengurus INDIGO COMMUNITY yang bertugas:

  1. Supervisor: Tubagus Arya Sencaki, Ima Santika Jayati, dan Adhizz Aditya
  2. Moderator Diskusi: Raja Agustinus Icu dan Bobo Berlian
  3. Personalia: Neo Astro Indigo (Ka. Personalia), Ryan Ferdiansyah, Bety Ria Sersana, Emilia Kw Suwito-Siradjuddin, Akhmad Safruddin (konsultan pengobatan), Isrida Yul Arifiana dan Mothergoddess Rhea.
  4. Jurnalia: Devina Carolina, Yohana Pitra Edodya, dan Raya Rabiyatul Adawiah.

So selamat bergabung untuk kawan semua. Salam persaudaraan J

Kontribusi pemikiran kalian sangat berharga bagi sesama.
Saling Asah-Asih-Asuh

There’s no place like home.
Welcome Home Buddy!!

Contact:

Email: indigocommunity.id@gmail.com

IndiBlog: https://komunitasindigoindonesia.wordpress.com

IndiTweet: @indigocommunity

Converence resmi via YM akan diadakan tiap Jumat malam pukul 20.00 hingga 22.00 WIB.

Hubungi pengurus kami untuk informasi lebih lanjut.

Link Grup Kami di Facbook:

http://www.facebook.com/group.php?gid=70682774043&ref=nf

Permalink 5 Comments

Anak Indigo Bisa Berkontribusi untuk Negara

February 1, 2010 at 5:56 pm (Uncategorized) (, )

[Investor Daily] Jakarta – Didorong oleh belum optimalnya pengetahuan
masyarakat terhadap anakanak atau orangtua Indigo, Jaringan Wartawan Lintas
Media Gerakan Ekayastra Unmada – Semangat Satu Bangsa dan penggiat masalah
indigo membentuk Komunitas dan Pusat Studi Indigo Indonesia (KPSII).
Pembentukan dilakukan berbarengan dengan Sarasehan Kebudayaan bertema
INDIGO untuk INDONESIA‘ di Jakarta, Sabtu (30/08).

Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada Putut Prabantoro menjelaskan,
generasi indigo adalah generasi istimewa karena memiliki kemampuan sejak
lahir yang tidak dimiliki oleh orang pada umumnya. Jika kemampuan komunitas
indigo ini diakomodasi dan dikembangkan dengan baik, akan bermanfaat bagi
negara, bangsa, dan budaya Indonesia.

Kemampuan orang atau anak indigo, tidak hanya terletak pada rata-rata
IQ-nya, tetapi juga karena generasi ini memiliki indra keenam. Hanya saja,
karena ketidaktahuan atau pemahaman mengenai indigo, masyarakat sering
memandang anak indigo sebagai anak yang membutuhan pendampingan khusus.

Putut berharap komunitas indigo yang baru terbentuk dapat membantu generasi
indigo untuk tumbuh berkembang sesuai dengan pola-pola pendidikan yang
seharusnya diterima. “Spiritualitas bangsa Indonesia bisa terbangun dengan
peran serta dari kelompok indigo yang memang sejak lahir memiliki kepekaan
spiritual yang tinggi,” ujar Putut.

Ketua Umum KPSII Rossini Larasati menjelaskan, Komunitas dan Pusat Studi ini
didirikan sebagai kelompok diskusi, konseling, atau pendampingan bagi indigo
muda dan orang tua yang anaknya terlahir sebagai indigo. Generasi indigo
yang sering disebut sebagai pemimpin bersorban biru atau highly spiritual
children, the superphysic children merupakan agent of changes.

Menurut perkiraan, komunitas indigo memadati Jawa dan pada 2010 akan
terkumpul 5.975 powerfull indigo. Oleh karena itu, generasi indigo akan
menjadi komunitas perubahan spiritual yang akan terjadi di Indonesia. “Hanya
saja, karena tidak terpahami, komunitas indigo mendapat tentangan dari
masyarakat yang tidak memahami indigo, ujar Rossini yang juga menjadi
konsuiltan dari generasi indigo.

Sementara itu, KH Amiruddin Syah dari Institut Kajian Tasawuf “Az-Zukhruf”
mengatakan, salah satu ciri anak indigo adalah memiliki energi dan
penglihatan berlebih. Dia juga menambahkan, ciri-ciri yang juga bisa untuk
memperjelas indigo atau bukan adalah kemmpuan seorang anak untuk melihat
makhluk tidak kasat mata dan kemampuan berkomunikasi dalam berbagai bahasa.
(pam)

*Sumber: Investor Daily, Senin 1 September 2008, halaman 7*

Permalink 2 Comments

Seeing the Indigo Children

February 1, 2010 at 4:53 pm (Uncategorized)

The Indigo children are touted as the next evolutionary stage in human development, and their supporters boast that these children are like nothing ever seen before. But what exactly are Indigo children and just how unique are they?

Many believe Indigo children are the next step in human evolution, and they are often described as possessing a new energy never before seen on Earth. Believers claim they have special gifts, such as psychic abilities, and are “sensitive” to the world around them. They are allegedly wise beyond their years and thirst for knowledge incessantly. Their parents often see them as gifted with above-average intelligence. Above all, believers agree on one thing: they are here to teach us a lesson.

The first Indigo child was allegedly observed in the early 1970s by Nancy Tappe, who intuitively “sees” people’s auras (Tappe 1999). Tappe claims that she can decipher a person’s life mission by the color he or she emits. She further states that she was aware that two new unknown colors—one of which would become Indigo—would be emerging around that time, since apparently, fuchsia and magenta disappeared from the spectrum. It wasn’t until 1982, with the publication of her book Understanding Your Life Through Color, that the proclamation of the Indigo aura and its meaning was announced  (Carroll and Tober 1999). The Indigo children movement, however, did not gain full momentum until 1999, when Lee Carroll and Jan Tober wrote the book The Indigo Children: The New Kids Have Arrived. Since then, the Indigo movement has been featured in books, television, a feature film titled Indigo, and even two videogames titled Fahrenheit and Indigo Prophecy.

What Is an Indigo Child?

The ten most common traits of Indigo children, according to Carroll and Tober, are:

They come into the world with a feeling of royalty (and often act like it).

They have a feeling of “deserving to be here,” and are surprised when others don’t share that.

Self-worth is not a big issue. They often tell the parents “who they are.”

They have difficulty with absolute authority (authority without explanation or choice).

They simply will not do certain things; for example, waiting in line is difficult for them.

They get frustrated with systems that are ritual-oriented and don’t require creative thought.

They often see better ways of doing things, both at home and in school, which makes them seem like “system busters” (nonconforming to any system).

They seem antisocial unless they are with their own kind. If there are no others of like consciousness around them, they often turn inward, feeling like no other human understands them. School is often extremely difficult for them socially.

They will not respond to “guilt” discipline (“Wait till your father gets home and finds out what you did”).

They are not shy in letting you know what they need. (Carroll and Tober 1992)

The descriptors can change a bit depending on the source, but these traits are congruent with the typical account of an Indigo child. Nancy Tappe goes on to claim that at least 90 percent of children under the age of ten are, in fact, Indigo children (Tappe 1999).

Tappe (1999) lists and describes the four subtypes of Indigo children. The humanist is characterized by strong opinions, is socially outgoing, and is easily distracted. The conceptual subtype is comprised of children who are more interested in completing projects than human interaction. Tappe offers a warning that this subtype is prone to addiction, particularly in their teen years. The artist is a child who is typically smaller in size and often more sensitive. The fourth subtype is the interdimensional child, who is larger than the other three subtypes, is often seen as a bully, and can be expected to bring in new religions and philosophical beliefs.

These traits are numerous and vague. Given the breadth of individuals these descriptions cover, it would not be surprising if every child was identified as Indigo at some point in their lives, including those children who lived before the first Indigos supposedly made an appearance. Take for example the refusal to conform to social rules: there are a lot of children who do not like to wear clothes—being naked is natural. Most people can think of at least one story involving a child running around the house sans-clothing at an awkward moment. Is this child free-spirited and socially defiant? Doubtful. Most likely they are just doing what feels natural. It is too easy to turn a mundane situation like this into evidence of being Indigo:

I remember when Johnny was only three and he would tear through the house buck naked! He was so confident with who he was. He didn’t care who knew it, he was proud of himself and wasn’t afraid to show his true form. That’s what cued me in to Johnny being Indigo.

The subtypes of Indigo children sound rather stereotypical. There’s the sensitive artist, the isolated youth who self-medicates, an upbeat, energetic child who is easily distracted, and the large unpopular child who uses his or her size to gain control over others (the artistic, conceptual, humanistic, and interdimensional subtypes, respectively). These don’t sound like evolutionary advances; they sound more like one-dimensional, easily identifiable characters.

Indigo children, as mentioned above, can supposedly be identified by their auras (the “energy” that believers claim is emitted by humans and other animals). Unfortunately, not everyone (or anyone?) can see people’s auras, so identification based solely on reading someone’s aura can be problematic. It has also been suggested that Kirlian photography may be an effective way to identify such children. Kirlian photography is a photographic process in which a sheet of film is placed on a metal plate and the object of interest is then placed on top of the film. High voltage is sent through the plate, which creates an exposure of the object. As James Randi has shown us, Kirlian photography can be explained by the changes in pressure the subject exerts on the film or by environmental effects, such as temperature and humidity (Randi 1982). The aura identification strategy is oft debated in the Indigo community. For many believers, being labeled Indigo was merely that—the label had nothing to do with the child’s aura. The only identification strategy, then, hinges on meeting the criteria based on the descriptors.

Disciplining the Indigo Child

Robert Gerard offers advice on how to properly discipline the Indigo child based on what he calls “loving discipline” (Gerard 1999). Loving discipline consists of informing the child of the purpose and course of discipline using simple explanations, avoiding reactions, orders, and verbal and physical abuse, following through with your punishment, using a time-out procedure, dealing with discipline in the moment—not delaying punishment—and discussing the situation when it is over.

Cathy Patterson (1999) gives advice on setting boundaries and guidelines to help raise an Indigo child. These guidelines include giving the child choices, using brief explanations, giving only one direction at a time, using time-outs for discipline, using a chart to track positive behaviors with stickers, and setting a regular and consistent routine.

In considering the disciplinary strategies advised by Patterson and Gerard, it appears that their advice is the same offered by one of the behavioral pioneers in psychology, Montrose M. Wolf. Wolf, responsible for the creation of time-out, developed these and similar recommendations in the early 1960s (Risley 2005), roughly forty years before Patterson and Gerard offered their pearls of wisdom. Is it amazing that these techniques have been around and working pre-Indigo? If the Indigo children are different from non-Indigos and require special instructions on discipline, then why are the disciplinary suggestions the same as those applied to “normal” children? These “special” recommendations on disciplining Indigo children are not unique to this population; they are universal and highly researched in the psychological community.

Indigo Children and ADHD

Doreen Virtue (1999) offers several diagnostic features of the Indigo child in addition to those listed listed above. These features include: high levels of energy, easy boredom onset, resistance to authority, learning through exploration combined with a distaste for rote memorization, the inability to sit still unless they’re interested, and giving up in the face of failure, to name a few. Several of the traits describing Indigo children are comparable with a diagnosis of Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD), according to the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition, Text Revision (DSM-IV-TR, American Psychiatric Association 2000), the handbook of diagnoses for the psychological community. Virtue asserts that Indigo children are easily misdiagnosed as having ADHD.

Kathy McCloskey, like Virtue, believes that many Indigo children are being diagnosed with ADHD (McCloskey 1999). McCloskey makes the argument for the misdiagnoses based on case studies of children who are diagnosed with ADHD and score high on IQ scales but perform average to below average in school. It sounds as if McCloskey is surprised that an ADHD child can be of above-average intelligence. As is pointed out by Schuck and Crinella (2005), it is not uncommon for children with ADHD to be of normal intelligence. Missed assignments, boredom, and forgetting to study for a test do not reflect intelligence but are reflected in a child’s grade. ADHD does not mean a child is below average intelligence.

Leaders in the Indigo community also offer advice on what to do with Indigo children diagnosed with ADHD. This advice usually entails the cessation of any medication the child is on to treat the ADHD. Holly J. Roberts, a licensed psychologist in the pediatric psychology department at the Munroe-Meyer Institute in Omaha, Nebraska, which is known for using empirically supported psychological techniques for helping children, responded to a question regarding the danger of removing medication from ADHD children:

It is well known that psychostimulant medication is the single most efficacious treatment of ADHD as it reduces the primary symptoms of ADHD (MTA Cooperative Group 1999). That is, psychostimulant medication reduces inattention, hyperactivity, and impulsivity in children with ADHD. Therefore, discontinuing medication for a child with a definitive diagnosis [of] ADHD can have a negative impact on home and school functioning as children with ADHD typically evince a pervasive set of problems spanning behavioral, social, and academic areas.

For the Indigos who have ADHD, several alternative treatments have been offered (Carroll and Tober 1999). These treatments include supplemental vitamins and minerals, eating blue-green algae from Lake Klamath, biofeedback, neuromuscular integration, rapid eye technology, and electromagnetic field (EMF) balancing, which is purportedly a technique in which two people use each other’s electromagnetic fields, which allows them to form their own reality, whatever that means.

Biofeedback is a process in which children are hooked up to an electroencephalograph (EEG) and are taught to control the brain waves that appear on a monitor by controlling their thoughts, which supposedly increases the ability to concentrate at school. Biofeedback has been considered potentially effective for treating children with ADHD (Monastra, et al. 2005), but more tightly controlled studies are required before any valid conclusions can be drawn (Loo and Barkley 2005).

It is only a small step, then, to make the same claim with neuromuscular integration—described as being very similar to biofeedback—except that this therapy is performed to “…progressively realign the entire body and recondition the nervous system” (Carroll and Tober 1999, 193) over the course of ten sessions that involve therapeutic techniques such as dialogue, journaling, and deep tissue manipulation.

Are These Children Gifted?

One claim heard from many parents of Indigos is that their child is special or gifted. Holly J. Roberts also commented on the nature of gifted children. She writes:

There is evidence to suggest that children may achieve beyond expectations based on caregiver expectations. Outcomes of children identified as “gifted” or “early bloomers” are best demonstrated by Rosenthal and Jacobson (1968) examining teacher expectations on student achievement. The findings of this study showed that children who are randomly identified as gifted showed an increase in IQ scores at the end of the year due to the preferential treatment received by teachers based on the expectancy information. Thus, telling a child they are gifted at a young age may be beneficial but could take time and attention away from other children with similar abilities.

As indicated by Roberts’s statement, caretakers’ perceptions of children can easily shape their intelligence and thus how others perceive their intellectual performance ability.

What They’ve Come to Teach Us, and How This Will Save Us

One central theme of the Indigo movement is the idea that the Indigo children are here to teach us a lesson. Some of these lessons are outlined through stories from Indigos and parents or grandparents of Indigos in Carroll and Tober’s 2001 follow-up book, An Indigo Celebration: More Messages, Stories, and Insights from the Indigo Children. According to several Indigo proponents, many Indigo children are “old souls,” indicating that they have experienced several lifetimes and carry with them tremendous knowledge and wisdom from these past lives. Parents who believe this is true tend to keep an open mind and report their child’s statements as true. For example, one child stated that the reflection of the sun’s rays on the water, which were called “God spots” (p. 59), were used to take people’s souls back to heaven when they die. Because the child used the phrase “back up to heaven” (p. 59), the parent unquestionably deduced that the child had knowledge regarding the existence of souls in heaven prior to a person’s birth. The child of another set of parents explained that he once ruled an entire planet, but unfortunately for him there was a large disaster (an earthquake, in this case) that caused him to suffer a traumatic impact from bumping his head on a rock. This caused his spirit to fall from his body and land inside of his Earth-mother. The parents decided it was best to keep an open mind about the story.

Other stories presented in An Indigo Celebration (2001) include teenagers, who identify themselves as Indigo, struggling to fit in because they know they are Indigo and thus are different and isolated. A teenager reporting that he or she feels isolated, unique, and above average is not an exceptional statement—many teens feel this way. The imaginary audience and personal fable come to mind when reading these stories; both phenomena should be easily identifiable to anyone who has taken an introduction to psychology course. The imaginary audience syndrome is a common experience for teenagers—they feel that everyone is focused solely on them, and the world scrutinizes every action they make. The personal fable is related to the notion that many teens feel special and unique to the extent that the law of averages does not apply to them. This is used to explain many risk-taking behaviors by youths, even though they are aware of the potential consequences (e.g., “It won’t happen to me!”).

Furthermore, some say the Indigo children are here to save us from something or other. Most accounts are vague, alluding to a general change in our way of thinking and a passion for saving the earth and its inhabitants.

Making Money Off the Movement

The Indigo children phenomenon can produce big bucks for those individuals who know how to market it. In 2003, executive producer James Twyman co-wrote the movie Indigo. The film centers around a young girl named Grace who uses her natural, unique gift to aid her mother and grandfather in reconciling their differences while evading a mysterious person who wants to kidnap her. While the directing, acting, and plot may be sub-par, it doesn’t stop those who support the Indigo idea from declaring this film accurate and a good introduction to Indigos for the general public. Indigo was in limited release in January 2005 and grossed $1,190,000, according to IMDB.com. The film also received the Santa Fe Film Festival’s audience award in 2003.

Along with the Indigo books that are available, there is also a metaphysically related online magazine titled Children of the New Earth. In this magazine, one can read about drama therapy for their Indigo child, the newest threat from fluoride, or how to raise your Indigo or Crystal child, which is yet one more unique type of child in the same vein as Indigos but beyond the scope of this article. The online magazine is currently $32.99 for a one-year subscription, but you can subscribe for a one-month trial at $4.99. The Web site also features a list of alternative schools that may be appropriate for children whose parents believe their children are Indigos.

There is a wealth of money to be made in teaching parents of Indigo children as well. For example, at metagifted.org, a company run solely by Wendy Chapman, individuals can take an online workshop related to their Indigo children through AIM or AOL instant-messaging services. The fee is $25 per person or $40 per couple. For the same prices, there are also online classes for Indigos. You can also purchase an Indigo consultation, which will provide you with information regarding your Indigo child or yourself, if you happen to be an Indigo adult. Prices are $75 per hour or $50 for a half hour by phone, $50 per hour or $30 for a half hour for an online chat, and $30 per hour if your consult is conducted via email.

Australian Scott Alexander King, a self-proclaimed animal psychic, offers seminars on Indigo children. For $250, over the course of two days (eight hours total), you can participate in “The Indigo Child and the Journey Drum,” in which you will learn about the sacred art of drum making and even create your own drum. King also offers shorter seminars on learning about the Indigo phenomenon for $125.

The Future of Indigo Children

The pseudoscientific categorization of children does not stop with the Indigo children. Recently, several new categories have been proposed that offer even more options for children to be labeled as above average and gifted. These new categories include the Crystal children and the Rainbow children to name a few. These children, so named by Doreen Virtue because of the color of the aura they emit, are said to be the next generations after Indigo children. Much like the Indigos, the Crystals and Rainbows are allegedly new life energies on Earth that are here to change our global lives.

Conclusion

To date, there is no scientific way to test many of the claims endorsed by the Indigo movement. Further, the vague criteria noted to describe Indigo children could easily be applied to most people at some point in their lives. Yet despite these hurdles, many have financially benefited from the movement through the publication of magazines, books, films, therapy, and lectures.

Many parents may also benefit from the Indigo movement by labeling their child as special and gifted instead of suffering from ADHD or behavioral problems. The Indigo movement provides parents and caregivers with a happy, warm explanation for childrens’ behaviors, whether good or bad. While this may not be incredibly dangerous, one begins to see the potential harm when children are removed from ADHD medications, scientifically unsupported diets are implemented, unproven treatments are utilized, and behavioral interventions are ceased for troubled children. When we divert energy and resources away from proper childhood interventions, we run the risk of inflicting long-term harm to our children.

Whether you wear rose-colored or indigo-colored glasses, your perception of the world and its workings will be affected. When we prejudge our children as gifted and insightful, that is exactly what we will get, regardless of the reality.

References

  • American Psychiatric Association. 2000. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fourth Edition, Text Revision. Washington, D.C.: American Psychiatric Association.
  • —. 2001. The Indigo Children. Vancouver, Canada: Hay House.
  • Carroll, Lee, and Jan Tober, eds. 2001. An Indigo Celebration. Vancouver, Canada: Hay House.
  • Daley, D. 2006.  Attention deficit hyperactivity disorder: A review of the essential facts. Child:Care, Health and Development, 32(2): 193–204.
  • Dixon, Lori Beth, Frances J. Cronin, and Susan M. Krebs-Smith. 2001. Let the pyramid guide your food choices: Capturing the total diet concept.  Journal of Nutrition, 131(S2-1): 461S–72S.
  • Gerard, Robert. 1999. “Disciplining the Indigo.” In The Indigo Children, edited by Lee Carroll and Jan Tober, 71–73. Vancouver, Canada: Hay House.
  • The Internet Movie Database. “Indigo (2003)—Box office/business.” Available online at imdb.com (accessed May 18, 2008).
  • Johnson, Lisa, and Sarah Safranek. 2005. What is the most effective treatment for ADHD in children (Clinical inquiries: From the family practice inquiries network) (Attention deficit/hyperactivity disorder). Journal of Family Practice, 54(2): 166–68.
  • Lilienfeld, Scott O. 1996. EMDR treatment: Less than meets the eye? – eye movement desensitization and reprocessing. Skeptical Inquirer, 20(1): 25–31.
  • Lohr, Jeffrey M., Wayne Hook, Richard Gist, and David F. Tolin. 2003. Novel and controversial treatments for trauma-related stress disorders. In Science and Pseudoscience in Clinical Psychology edited by Scott O. Lilienfeld, Steven Jay Lynn, and Jeffrey M. Lohr, 243–272. New York: Guilford Press.
  • Loo, Sandra K., and Russell A Barkley. 2005. Clinical utility of EEG in attention deficit hyperactivity disorder. Applied Neuropsychology. Special Issue: Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) and Neuropsychology, 12(2): 64–76.
  • McCloskey, Kathy. 1999. “The New Powerful Children.” In The Indigo Children, edited by Lee Carroll and Jan Tober, 25–31. Vancouver, Canada: Hay House.
  • Melvin, Melanie. 1999. “Respecting the Indigo Children.” In The Indigo Children, edited by Lee Carroll and Jan Tober, 112–123. Vancouver, Canada: Hay House.
  • Monastra, Vincent J., S. Lynn, M. Linden, Joel F. Lubar, J. Gruzelier, and Theodore J. LaVaque. 2005. Electroencephalographic biofeedback in the treatment of attention-deficit/hyperactivity disorder. Applied Psychophysiology and Biofeedback, 30(2): 95–114.
  • MTA Cooperative Group. 1999. A 14-Month randomized clinical trial of treatment strategies for attention-deficit/hyperactivity disorder.  Archives of General Psychiatry, 56(12): 1073–1086.
  • Patterson, Cathy. 1999. “Strategies to use in Guiding Indigo Children.” In The Indigo Children, edited by Lee Carroll and Jan Tober, 77–88. Vancouver, Canada: Hay House.
  • Randi, James. Flim-Flam. 1982. Amherst, NY: Prometheus Books.
  • Risley, Todd. 2005. Montrose M. Wolf (1935-2004). Journal of Applied Behavior Analysis, 38(Summer): 279–87.
  • Rosenthal, Robert, and Lenore Jacobson. 1968. Pygmalion in the Classroom: Teacher Expectation and Pupils’ Intellectual Development. New York: Rinehart and Winston.
  • Schuck, Sabrina E. B., and Francis M. Crinella. 2005. Why children with ADHD do not have low IQs. Journal of Learning Disabilities, 38(3): 262–80.
  • Tappe, N. A. 1999. “Introduction to the Indigos.” In The Indigo Children, edited by Lee Carroll and Jan Tober, 6–17. Vancouver, Canada: Hay House.
  • Virtue, Doreen. 1999. “Parenting an Indigo Child.” In The Indigo Children, edited by Lee Carroll and Jan Tober, 133–140. Vancouver, Canada: Hay House. Benjamin Witts lives in North Mankato, Minnesota. E-mail: benjamin.witts@gmail.com.

Permalink Leave a Comment